31 Guru Dilantik Kasek Secara Virtual

Sekda drg Ninik Ira Wibawati memutasi 31 kasek. [wiwit agus pribadi]

Ikut Pelantikan Kasek di Jatim, 17 Kasek di Probolinggo Non Reaktif
Probolinggo, Bhirawa
Sejumlah Kepala Sekolah (Kasek) di lingkungan Pemkot Probolinggo dimutasi secara virtual, dari kantor wali kota. Mutasi memindahkan 31 guru madya menjadi Kasek bertujuan untuk kesetaraan kualitas, dalam setiap elemen pembangunan.
Wali Kota Probolinggo melalui Sekda Kota Probolinggo, drg Ninik Ira Wibawati menjelaskan, mutasi dan pelantikan ini termasuk membangun masyarakat Kota Probolinggo kedepan, lebih cerdas dan mampu menciptakan SDM, sekaligus mengisi pembangunan secara menyeluruh, dalam tatanan kehidupan di masa mendatang.
Sekda Ninik mengatakan, dewasa ini, peran Kasek sebagai pemimpin pembelajaran menjadi kunci penting dalam memajukan sekolah. Tugas utama guru adalah pengabdiannya kepada masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Apalagi kini instansi terkait telah melakukan penataan guru di setiap sekolah. Dimana sekolah yang kekurangan guru bakal diisi dengan guru dari sekolah lain. Sehingga proses kegiatan belajar mengajar tidak terganggu.
Ninik berharap Kasek yang dikukuhkan agar memperhatikan kinerja para guru di lingkungan sekolah masing-masing, serta ketaatannya terhadap ketentuan yang mengatur kepegawaian. Termasuk ketaatan dalam melaksanakan jam kerja atau jam mengajar maupun pengelolaan dokumen terkait proses pengajaran, sesuai SE (Surat Edaran, red) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Corona Disease (COVID-19) pada satuan pendidikan.
“Pendidikan di masa pandemi seperti sekarang ini menjadi tantangan untuk dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitar. Pendidikan anak bangsa tetap harus berjalan walaupun harus dilakukan dari rumah. Kami mengharapkan inovasi dan kreativitas Kasek dalam melakukan manajemen kependidikan pada masa ini,” tandasnya.
Mutasi merupakan hal biasa. Mereka yang dilantik hari ini memiliki tanggungjawab moral dan struktural sebagai garda terdepan, demi terwujudnya cita – cita lahirnya generasi penerus yang unggul dan berkualitas. Kenapa dilakukan seperti ini (secara virtual), karena kini tengah berada di situasi pandemi, yang mengharuskan kita meminimalisir terhadap kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Mutasi ini dilaksanakan untuk memaksimalkan sekolah yang ada. Seperti diketahui mutasi ini juga bagian daripada penyegaran.
Kekhawatiran munculnya kluster pelantikan Kepala SMA/SMK sebagai penularan baru Covid-19 di Jawa Timur, terus merebak. Karena itu, mereka yang hadir dalam acara pelantikan itu pun langsung di rapid test. Di Probolinggo, Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kota dan Kabupaten Probolinggo melakukan rapid test pada 17 Kepala SMA/SMK. Dengan rincian, delapan Kepala SMA/SMK di Kota Probolinggo dan sembilan Kepala SMA/SMK di Kabupaten Probolinggo. Mereka para Kepala SMA/SMK yang mengikuti acara pelantikan di Surabaya pada 20 Mei 2020.
“Kami sudah melakukan rapid test kepada delapan kepala SMA/SMK di Kota Probolinggo. Hasilnya nonreaktif,” ujar dr Abraar HS Kuddah, juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Kota Probolinggo.
Meskipun hasilnya nonreaktif, Gugus Tugas menyarankan kepada para Kasek ini agar melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Selama isolasi mandiri, mereka akan dipantau kondisinya oleh Puskesmas. Selanjutnya, 10 hari lagi akan dilakukan rapid test.
Dokter bedah senior ini menjelaskan, informasi tentang adanya pelatihan pengawas yang bisa menjadi klaster baru penyeberang Covid-19 di Jawa Timur adalah berita hoax. Namun, pelantikan kepala SMA/SMK di Surabaya memang ada. “Acaranya tanggal 20 Mei 2020 di Surabaya, yaitu pelantikan kepala SMA/SMK. Ini yang disayangkan karena kegiatan ini mengumpulkan orang dalam situasi pandemi,” tuturnya.
Lebih lanjut, dr Abraar menuturkan, pihaknya mendapat informasi tentang pelantikan Kepala SMA/SMK dari Gugus Tugas Preventif Covid-19 Jawa Timur. ”Dari data yang disampaikan Gugus Tugas Jawa Timur ini kemudian dilakukan rapid test,” ungkapnya.
Hal yang sama dilakukan oleh Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Probolinggo. Dokter Anang Budi Yoelijanto, juru bicara Gugus Tugas setempat mengatakan, pihaknya mendapat informasi dari Jawa Timur. Berdasarkan data dari Jawa Timur, ada 16 Kepala SMA/SMK dari Kabupaten Probolinggo yang ikut pelantikan. Namun, setelah ditelusuri hanya sembilan kepala SMA/SMK yang terdata.
Lainnya ada yang mutasi keluar Kabupaten Probolinggo, karena kalau SMA/SMK pemindahannya bisa keluar Kabupaten Probolinggo. Jadi, hanya ada sembilan orang. Mereka semua dan keluarganya di rapid test, hasilnya nonreaktif semua. Meskipun nonreaktif, kondisi mereka tetap dipantau tim gugus tugas, tegasnya.
“Kami mendapat data dari Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur tentang pelantikan Kepala SMA/SMK di Surabaya. Setelah mendapatkan data kepala sekolah yang ke sana, langsung kami telusuri mereka. Mereka dan keluarganya lantas di rapid test. Alhamdulillah hasilnya nonreaktif semua. Pelantikan kepala SMA/SMK se-Jawa Timur pada 20 Mei 2020 di BKD Provinsi Jawa Timur, Surabaya, menjadi viral di media sosial. Acara ini dikhawatirkan menjadi klaster baru penularan Covid-19,” paparnya.
Sebab, ada peserta pelantikan yang dinyatakan terkonfirmasi. Karena itu, Gugus Tugas di daerah-daerah pun langsung menelusuri peserta pelantikan, setelah mendapat datanya dari Jawa Timur. Total ada 240 orang peserta pelantikan yang terbagi empat gelombang. Terdiri atas kepala Sekolah SMA/SMK se-Jawa Timur. [wap]

Rate this article!
Tags: