Banyak Sampah, tapi Warga Menikmati Suasana Kolong Jembatan Suramadu

30-kolong-jembatan-Suramadu

Kota Surabaya, Bhirawa
Menikmati waktu libur bagi masyarakat adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Dan mengunjungi tempat rekreasi tidak harus mengeluarkan banyak uang. Begitulah kira-kira yang ada di benak masyarakat Surabaya yang sedang menikmati pemandangan di bawah Jembatan Suramadu yang membentang antara Surabaya dengan Madura, Kamis (29/5).
Saat libur datang, pesisir Pantai Kenjeran tepatnya daerah Tambak Wedi, di bawah kolong Jembatan Suramadu sepanjang 5,4 km banyak kita jumpai pengunjung. Mulai dari pasangan muda-mudi, anak-anak bahkan keluarga yang menghabiskan waktu untuk berlibur menikmati semilir angin sambil mencari kerang atau hewan laut lainnya. Terlihat pula puluhan anak kecil yang sedang bermain ombak pantai. Ada juga pengunjung yang berkeliling sekitar pantai dengan menggunakan perahu nelayan setempat.
Tidak hanya itu, puluhan penjual makanan dan minuman dengan bangunan dari bambu berjejer rapi di pinggir pantai. Serta puluhan PKL yang bersanding di bahu bawah jembatan. Minimnya tempat sampah di kawasan itu, membuat pesisir pantai terlihat banyak sampah dan bau.
“Meskipun tempat wisata yang murah tanpa biaya masuk dan sedikit kotor, lokasi ini hampir tidak pernah sepi saat liburan,” kata pedagang yang tidak jauh dari lokasi.
Sejak adanya Jembatan Suramadu, warga sekitar cukup terbantu untuk menghasilkan penghasilan tambahan selain menjadi nelayan. Otomatis perekonomian penduduk pesisir pantai yang banyak berprofesi sebagai nelayan ini sedikit terangkat karena mampu memanfaatkan peluang bisnis.
Rofi’i (38) warga sekitar dan juga pengurus nelayan mandiri, lebih suka menyewakan perahunya kepada pengunjung di hari libur, daripada harus melaut yang belum tentu hasil tangkapannya.  Dengan bekal perahu yang mereka gunakan sehari – hari untuk berlayar, saat sore hari atau ketika musim liburan perahu akan mereka manfaatkan untuk berwisata mengelilingi bawah Jembatan Suramadu. Dengan harga tiket perahu Rp 5.000 per orang, pemilik perahu akan membawa para pengunjung untuk melihat dari dekat tepat di tengah Jembatan Suramadu.
” Nelayan-nelayan di sini memang meluangkan waktunya untuk menyewakan perahunya saat liburan mas, bukan berarti pekerjaan keseharian kita tinggalkan. Kami bersama kelompok nelayan cuma memanfaatkan peluang bisnis yang ada,” ucap Rofi’i yang menjadi nelayan sejak berumur 12 tahun ini.
Ditanya pendapatan dari mencari ikan dengan menyewakan perahunya pada para pengunjung, menurut Rofi’i hampir sama pendapatannya. Tetapi mengantar pengunjung mengelilingi bawah Jembatan Suramadu cukup mudah.
Ada sekitar 300 nelayan di daerah Kenjeran yang terbagi dari empat kelompok.  Mereka ini bersama-sama mencari rejeki tambahan di saat liburan dengan menyewakan perahu.
” Saya selaku pengurus merasa senang, karena kami dapat bantuan dari Pemkot Surabaya berupa mesin 10 unit buat melaut, perahu nelayan 6 unit. Kami harus tetap melaut untuk memenuhi kebutuhan ikan yang akhir-akhir ini permintaannya cukup meningkat. Hanya pas liburan kita mencari tambahan dengan menyewakan perahu dan mengantar pengunjung ke bawah jembatan,” tambahnya.
Salah satu pengunjung, Eko Siswanto mengaku tertarik mendatangi lokasi wisata bawah Jembatan Suramadu karena wisata ini cukup murah. Selain itu relatif dekat dengan tempat tinggalnya di daerah Rungkut.  ” Kami sengaja cari tempat liburan yang murah meriah. Apalagi sekarang ini musim pendaftaran sekolah. Yang penting anak kami bisa senang bermain air walaupun banyak sampah. Kalau bisa petugas kebersihan lebih diperbanyak agar pengunjung lainnya bisa betah berlama-lama disini,” tuturnya sambil mengawasi anaknya. [geh]

Tags: