Bulog Subdivre Probolinggo Launching Ketersediaan Pasokan Beras

Wali Kota Rukmini melaunching ketersediaan pasokan beras Bulog.

Pemkot Probolinggo, Bhirawa
Dengan stog beras yang dimiliki perum bulog subdivre Probolinggo yang membawahi kota dan kabupaten Probolinggo serta kabupaten Lumajang sebebanyak 25. 000 ton, meyakinkan pemerintah daerah dalam 6 bulan kedepan mampu terpenuhi. Untuk itulah dilakukan llaunching ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga (KPSH) beras medium tahun 2019, yang lebih dikenal dengan operasi pasar (OP) oleh walikota Rukmini, Rabu (2/1) di gudang dolog Belokan.
Menurut kasub dolog wilayah VIII Probolinggo, Heriswan, Rabu 2/1 beras medium yang launching selain yang dilepas oleh walikota juga dilepas oleh dandim Lumajang, kasdim Probolinggo, satgas pangan serta pihak yang terkait. Besarannya yakini dari gudang Sukoharjo sebanyak 9 ton dengan tujuan pasar Tongas. “Sebanyak 9,5 ton kepasar bayeman 6,5 ton dank e pasar Patalan 3 ton. Sedangkan 1,5 ton dengan kendaraan pik up dengan bungkus 5 kg dengan tujuan pasar Dringu dan pasar Randupangger,” ujar dia.
Selain itu beras dari gudang Klaseman sebanyak 8 ton dengan tujuan pasar Wangkal, 7 ton pasar condong dan pasarm Tiris 5 ton. 6,5 ton dengan tujuan pasar Klenang dan 1,5 lagi ke pasar Pajarakan, katanya. Secara keseluruhan yang kami terjunkan 6 truk desel dan 2 pik up yang siap jualan di setiap harinya.
Launching itu sendiri tidak dipatok sampai kapan akan dilaksanakan, senuanya melihat situasi dan kondisi yang ada, jika bahan pokok yang ada di pasaran khususnya beras stabil maka akan dihentikan, yang jelas semuanya tergantung pasar.
“Kami sebagai penyalur siap melakukan penyaluran berapa jumlahnya. Kalau dalam sebulan stok habis maka kami akan mengambil ke dolog tetangga, namun kami yakin stok yang ada ini tidak akan habis kalau hanya kebutuhan sebulan, kebutuhan 6 bulan kami jamin masih ada,” jelas dia.
“Apa lagi kini kita sudah mulai pengadaan baru untuk tahun 2019, dan pasa bulan Maret nanti aka nada panen raya di wilayah Probolinggo maupun Lumajang, kami yakin stok beras akan terpenuhi sesuai dengan harapan. Tahun lalu kami mampu membeli gabah petani hingga 40.000 ton beras yang melalui rekanan yang ada, dan jumlah tersebut hanya terserap 70 persennya saja,” papar dia.
“Untuk tahun ini kami masih belum mengkalkulasi dan berapa jatah kami dari pusat, minimal sama dengan tahun lalu, kami yakin akan terpenuhi dan tidak akan terjadi masalah. Apa lagi selama ini kami memasok beras ke luar daerah yang kekurangan beras, seperti ke kalimanta dan NTB, untuk itulah Probolinggo masihlah surplus beras,” ungkap dia.
Lebih lanjut dikatakan, dolog Probolinggo sendiri dalam tahun ini selalu siap akan kebutuhan masyarakat, selain beras, juga gula, minnyak goreng, tepung, bawang putih, telur dan daging ayam. “Karena itulah setelah tidak adanya penyalurhan raskin kami terus melakukan penjualan kepasaran komoditi tersebut. Kami titipkan ke took-toko yang ada di wilayah kami namun tetap kami pantau setiap harinya, agar tidak terjadi penjualan yang menyimpang dari apa yang sudah disepakati akan harganya,” kata dia.
Namun jika terjadi penyimpangan harga maka itu sudah menjadi ranah dari satgas pangan yang diketua oleh masing-masing Kapolres yang ada di wilayah kami. Kami yakin semuanya akan tertangani, di Probolinggo keadaannya kondusip dan sepertinya tidak ada helok harga yang terlalu tinggi, kilah Heri yang baru Desember menjabat Kasub Dolog Probolinggo.
“Dolog menjamin beras yang dijualnya itu berkwalitas baik hasil pengadaan 2018 yang sudah melalui perawatan standarisasi yang ada, dengan harga jual Rp. 8.500 perkolonya. Dengan dikemas 5 kg, 10 kg dan 50 kg,” ujar dia.
Wali Kota Probolinggo Hj. Rukmini menegaskan, untuk wilayah kota Probolinggo tidak terlalu merisaukan sebab jika sedikit saja ada kenaikan haraga maka dilakukan pertemuan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk tidakan selanjutnya. “Di situlah akan terungkap dan ada jalan keluarnya, namun pihak distributor tidak ada yang berani main main akan harga, takut terkena pidana,” papar dia.
Inflasi dipicu oleh naiknya harga berbagai komoditi, misalnya daging ayam ras, cabai rawit, dan tarif angkutan darat dikarenakan banyaknya masyarakat yang bepergian saat liburan. Selain ada larangan pemotongan ayam sebelum 40 hari setelah pemberian obat, juga karena kenaikan harga pakan ayam pedaging. “Harga sudah naik mulai dari kandang, karena harga pakan naik, dan tentunya distributor juga menaikkan harga, karena ayam yang ada di Kota Probolinggo kebanyakan berasal dari Jember dan daerah-daerah sekitar,” katanya.
Wali Kota Rukmini sangat berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerjasama dengan Pemerintah Kota Probolinggo yang telah melaksanakan segala upaya serta berbagai kegiatan dalam rangka menstabilkan laju inflasi di kota ini. “Program pengendalian inflasi ini merupakan upaya untuk menstabilkan harga barang maupun jasa di masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup di tengah kondisi perekonomian saat ini,” tandasnya.
Pertemuan ini memang bertujuan untuk meningkatkan kerjasama dan koordinasi OPD terkait agar dapat menekan laju inflasi. “Dan juga untuk memantau kenaikan komoditi sehingga dapat menentukan kebijakan hal tersebut,” tambah dia. [wap]

Tags: