Diprediksi Capai 120 Ribu Ton

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Pemprov Jatim, Bhirawa
Jika melihat siklus tanam tembakau, setiap tahunnya panen tembakau biasanya selesai pada September hingga Oktober. Lain halnya kondisi cuaca kemarau saat ini yang dinilai cukup bagus, maka minat petani tanam tembakau meningkat dan panen diperkirakan terus berlangsung hingga November mendatang.
“Panen tembakau di Jatim mestinya sudah selesai tapi tahun ini bisa berlangsung sampai November. Ini karena hingga bulan Juni lalu masih ada petani yang tanam tembakau dan baru panen November,” kata Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Moch Samsul Arifien di Surabaya, Senin (15/9).
Diperkirakannya, hasil produksi tembakau Jatim tahun ini mencapai 120 ribu ton. Dari total itu, 113 ribu ton di antaranya jenis tembakau voor oost dan 7 ribu ton sisanya jenis na oost yang biasa di ekspor untuk digunakan produksi rokok cerutu. Namun secara nasional, target produksi akhir tahun diperkirakan mencapai 300-330 ribu ton berkaca pada pencapaian produksi hingga Agustus sebesar 168 ribu ton.
Untuk harga, kata Samsul, terdapat peningkatan dibanding tahun lalu. Kendati peningkatan tak terlalu tinggi, tembakau Virginia kini Rp 17 ribu per kg atau naik dari harga 2013 Rp 15 ribu.
Untuk tembakau Madura kini mencapai Rp 35-40 rb per kg dari harga tahun lalu Rp 32 ribu dan tembakau Kasturi Rp 37 ribu per kg atau naik dari tahun lalu Rp 35 ribu.
Dari hasil produksi itu, lanjut dia, tingkat kebutuhan pabrik rokok juga meningkat dari tahun lalu. Jika 2013 pabrik rokok hanya membeli 80 ribu ton tembakau petani, kini kebutuhan meningkat menjadi 100 ribu ton.
Dalam setahun, kebutuhan tembakau untuk pabrik rokok secara nasional sebanyak 280 ribu ton. Indonesia hanya mampu memproduksi 200 ribu ton dan sisanya 80 ribu ton impor masih dipenuhi dari tembakau impor seperti dari Cina.
Terkait rencana pengendalian tembakau melalui Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang digagas World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia kini tak terlalu dihiraukan petani. Bahkan kini petani tetap bertekad tanam tembakau.
“FCTC telah membuat petani tembakau bingung. Apalagi memasuki masa tanam petani belum mendapat kepastian keputusan pemerintah jadi meratifikasi soal FCTC atau tidak. Namun petani tetap bertekad tanam mulai Mei ini,” kata Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Abdus Setiawan.
Ia menegaskan, petani tembakau akan tetap melakukan tanam selama industri rokok masih ada. Tahun ini, APTI menargetkan produksi tembakau bisa kembali naik mencapai 200.000 ton. Target itu diyakininya berdasarkan kondisi iklim tanah air yang diperkirakan mulai membaik. [rac]

Rate this article!
Tags: