Guru Dituntut Lebih Kreatif – Inovatif

Untitled-1 copyOleh:
Susanto, MPd
Alumnus Pascasarjana UNS Surakarta yang Kini Mengajar di SMAN 3 Bojonegoro.

Penerapan kurikulum 2013 (K-13) telah memasuki tahun kedua meski belum serentak dilaksanakan sejumlah sekolah dari jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK/MA. Baru pada tahun pelajaran 2014/2015 ini dilaksanakan serentak untuk jenjang sekolah di seluruh Indonesia.
Meskipun sudah dilaksanakan hampir satu tahun pro dan kontra kurikulum masih mengemuka. Yang pro mengatakan bahwa K-13 memberikan arahan yang positif bagi peserta didik dalam memahami materi pelajaran karena berbasis teks dengan pendekatan saintifiknya (5 M). Sedangkan yang kontra, K-13 dianggapnya terlalu politis dan dipaksakan sehingga banyak kendala baik yang menyangkut SDM siswa dan guru, juga terkait dengan buku yang dijadikan sumber belajar masih belum siap, dan juga penilaian siswa juga sangat renik, dan njlimet.
Apa sih sebenarnya atau hakikat kurikulum itu? Mengapa harus diganti setiap sepuluh tahun sekali? Dan benarkah ganti menteri ganti kurikulum? Benarkah kurikulum KTSP tidak bisa menjawab tuntutan zaman? Dan benarkah kurikulum 2013 lebih edial dan memberikan ruang berekpresi bagi siswa, lebih bermartabat, lebih kompromistis terhadap perkembangan zaman? Dan pergantian kurikulum ini siapa yang lebih diuntungkan guru atau siswa? Bagaimana setahun pelaksanaan K-13 saat ini?
Tentang Saintifik
Jujur ada hal yang spesifik bila kita merunut KTSP dan K-13 ini. KTSP lebih menekankan pada guru. Guru teralu dominan. Sedangkan K-13 lebih memberikan pemahaman kepada peserta didik untuk berekspresi dalam memahami materi pelajaran berbasis teks.
Sehingga tidak mengherankan K-13 dikembangkan dengan semangat kooperatif. Dengan kata lain, K-13 menekankan pada peserta didik pada pendekatan yang digunakan.  Pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning) ketimbang penalaran deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum.
Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan menguji hipotesis.
Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradidional. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada pembelajaran tradisional, retensi informasi dari guru sebesar 10 persen setelah 15 menit dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 25 persen. Pada pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, retensi informasi dari guru sebesar lebih dari 90 persen setelah dua hari dan perolehan pemahaman kontekstual sebesar 50-70 persen.
Dalam konteks yang demikian, K-13 dengan pendekatan 5 M (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan) sesuai dengan kebutuhan dan kondisi saat ini. Artinya, K-13 ini berusaha membangun keterkaitan dalam memahami konsep secara berkelanjutan. Materi yang dipelajari oleh peserta didik menuntut kompetensi yang kreatif sesuai pada KI dan KD yang dicapai setelah proeses pembelajaran.
Guru yang Kreatif
Esensi kurikulum adalah sesuatu yang menuntut pemahaman yang jernih. Sebab bagaimanapun esensi kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikantertentu.
Pertanyaannya bagaimana dengan keberadaan guru dalam K-13. Dalam konteks K-13 guru harus menjadi motivator dan pembimbing. Mengapa demikian?  Karena karakteristiknya lebih berorientasi pada pengamatan yang dilakukan peserta didik sampai diharus pada tataran mengkomunikasikan baik secara lisan maupun tulisan. Untuk itu, pertama, sudah saatnya guru selalu mengedepankan inovasi pembelajaran khususnya dalam metode dan cara mengajarnya yang tertuang dalam RPPnya. Guru harus selalu untuk mengubah dirinya dan gaya mengajarnya. Guru harus bisa merespon perkembangan dan mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif.
Kedua, model pembelajaran yang disajikan tidak monoton tetapi harus variatif. Dengan cara ini pembelajar atau peserta didik dalam hal ini  dapat mempeoleh sesuatu dengan cermat dan tidak membosankan. Dalam hal ini saya sependapat apa yang dikatakan oleh Martha Kaufeldt (2008: 19-20) dalam bukunya yang berjudul: Wahai Para Guru, Ubahlah Cara mengajarmu. Dengan risetnya telah memperlihatkan bahwa pengalaman belajar yang diperlukan dengan metode yang jelas akan mempercepat pertumbuhan otak. Dalam konteks yang demikian, peserta didik harus terkondisi ke dalam masing-masing pelajaran sesuai konteks dan teks. Artinya peserta didik harus lebih banyak diberikan kesempatan membangun pengalaman-pengalaman yang dilami langsung.
Sharp, C. (2004) dalam bukunya, Developing young children’s creativity: what can we learn from research? menjelaskan tentang bagaimana membentuk perilaku kreatif peserta didik.  Beberapa diantaranya: tugas yang tidak hanya memiliki satu jawaban benar, mentolerir jawaban yang nyeleneh, menekankan pada proses bukan hanya hasil saja, memberanikan peserta didik untuk (mencoba, menentukan sendiri yang kurang jelas/lengkap informasi, memiliki interpretasi sendiri terkait pengetahuan/kejadian, memberikan keseimbangan antara kegiatan terstruktur dan spontan/ekspresif),
Ketiga, berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Maksudnya, Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam konteks yang demikian, esensi pergantian kurikulum ini tetap pada spirit untuk mencerdaskan bangsa sehingga peserta didik lebih produktif, kreatif, inovatif, afektif dan bergairah dan senang selama di sekolah. Kurikulum baru ini harus dapat menjawab problematika yang ada saat saat ini dan pendidikan Indonesia sehingga lebih berkarakter, berdaya saing, dan bermartabat.
Memahami K-13 harus mengedepankan  semangat memahami potensi diri peserta segala kreativitasnya. Tentunya  guru harus selalu mengunakan metode yang inovatif dalam pembelajarannya. Jangan menjadi beban karena ranah penilaianya yang njlimet. Bukankah begitu Bapak/Ibu Guru semua ?

————– *** —————-

Tags: