In Memoriam Cak Nur, Berpulangnya Pekerja Keras yang Santun

Kepala Dinas Sosial Sidoarjo Ng. Tirto Adi MP saat mendampingi (Alm) Cak Nur memberi bantuan dana dan sembako ke ibu Wagina (90 thn) di Kel. Urangagung, Kec. Sidoarjo

Sidoarjo, Bhirawa
Tidak menduga, kalau pertemuan tengah malam 16-17 Agustus 2020 pada “Apel Penghormatan dan Renungan Suci” di TMP (taman makam pahlawan) Sidoarjo itu merupakan perjumpaan terakhir dengan Cak Nur (sapaan akrab H. Nur Ahmad Syaifuddin, SH), Wakil Bupati Sidoarjo.
Sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Sidoarjo, berdasar SPT Gubernur Jawa Timur Nomor 131/01/011.2/2020 tertanggal 14 Januari 2020, Cak Nur tergolong pejabat pekerja keras yang santun.
Tanda-tanda sakit Cak Nur sebenarnya telah diketahui sejak awal. Pada 10 Agustus 2020, Cak Nur mengeluh batuk, pilek, panas badan dan minta resep obat pada 12 Agustus 2020 kepada dr Atok Irawan, SpP, Direktur RSUD Sidoarjo. Dalam kondisi yang sakit seperti itu, Cak Nur masih bertugas bersama Dinas PMD (Pemberdayaan Masyarakat Desa) untuk berkonsultasi terkait pilkades serentak ke Kemendagri Jakarta.
Menurut dr. Atok, pada 19 Agustus 2020 pukul 13.00 WIB, ajudan telepon pihak RSUD Sidoarjo yang mengabarkan bahwa Cak Nur demam tinggi selama di Jakarta hingga kembali ke Juanda. Pada pukul 14.00 WIB, Cak Nur datang ke RSUD Sidoarjo untuk periksa. Hasil serologis atau rapid test Cak Nur memang non-reaktif. Tetapi hasil darah NLR (neutrophil lymphocyte ratio) 4,5. Ini artinya, Cak Nur telah terdeteksi infeksi virus karena NLR-nya sudah di atas 3,3. Hasil foto toraks (rontgen) dan periksa darah menunjukkan bahwa Cak Nur terdeteksi pneumonia kiri. Karenanya, dr. Atok menyarankan Cak Nur untuk tetap swab PCR (polymerase chain reaction) dan rawat inap. Saran itu ditolak Cak Nur dengan alasan masih banyak tugas yang harus diselesaikan, diantaranya rapat paripurna DPRD Sidoarjo pada malam harinya. Pada saat itu, terang dr. Atok, Cak Nur banyak diamnya dan kelihatan wajahnya tidak segar seperti biasanya. Dalam rentang 6 hari, berat badan (BB) Cak Nur turun 3 kilogram.
Saat melakukan rawat jalan di rumah, tepatnya Sabtu, 22 Agustus 2020, Hj. Turidatus Salimah (istri Cak Nur) menghubungi dr. Atok yang menyatakan bahwa Cak Nur berniat opname. Petugas RSUD Sidoarjo langsung menjemput Cak Nur di rumah dinas. Setelah sampai di rumah sakit, perawatan langsung dimulai pukul 09.00 WIB. Diberi infus dan langsung tes PCR atau swab test. Hasilnya, Cak Nur positif Covid-19. Kemudian dokter spesialis paru, jantung dan anastesi langsung bergerak cepat menangani Cak Nur. Siangnya, Cak Nur memaksa turun dari ranjang untuk berwudlu dan shalat dhuhur. Kondisi Cak Nur kian memburuk. Tim dokter kemudian memasang ventilator. Terdeteksi ada penyumbatan di pembuluh darah di jantung dan jantungnya berhenti mendadak. Sekitar pukul 15.10 wib, Cak Nur berpulang. Inna lillahi wainna ilaihi rojiun. Sontak, kabar itu meluas dan hampir sebagian khalayak tidak percaya, kalau Cak Nur begitu cepat telah menghadap Sang Khaliq.
Selain dikenal sebagai pekerja keras, pribadi Cak Nur dikenal santun. Tutur katanya menyejukkan. Kendati sebagai Plt Bupati, acapkali Cak Nur memosisikan diri secara egaliter dengan siapa saja yang berhubungan dengannya. Ketika ada masalah, tidak pernah menggunakan problem based approarch, mencari-cari siapa yang salah. Justru, yang dikedepankan adalah solution based approarch, berupaya bagaimana permasalahan itu segera terselesaikan dengan baik dan tuntas. Hubungan eksekutif dan legislatif yang sempat menghangat beberapa waktu sebelumnya, di bawah kepemimpinan Cak Nur (yang relatif singkat) hubungan itu menjadi cair dan saling berada dalam kesepahaman bersama.
Meski punya kuasa, Cak Nur tidak pernah menerapkan “creates fear to build obedience”, menciptakan ketakutan untuk membangun ketundukan. Loyalitas dan dedikasi seseorang dibangunnya atas dasar pemberian layanan terbaik dan rasa nyaman dalam menjalankan tugas. Pola kepemimpinan semacam inilah yang menurut saya, merupakan salah satu warisan terpenting Cak Nur dalam menggerakkan roda pemerintahan (birokrasi) di Pemkab Sidoarjo.

Peduli Kaum Dhuafa’
Selain dikenal sebagai pekerja keras yang santun, Cak Nur juga dikenal sebagai tipikal pejabat yang peduli terhadap kaum dhuafa’. Begitu kerap Cak Nur bertandang ke warga masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan. Sebut saja, anak yang lumpuh di Waru, Dimas Satria Wijaya. Selain direkomendasikan mendapat perawatan juga diberikan santunan biaya kepada keluarganya. Cak Nur rela datang ke kos-kosan duduk lesehan di lantai tanpa alas demi mengunjungi dan memberi semangat kepada Dimas. Cak Nur juga ringan langkah kakinya menuju ke Pasuruan, mengucapkan bela sungkawa pada keluarga Alif Maulana, yang menjadi korban pohon tumbang di Jalan Ahmad Yani, Sidoarjo pada 7 Februari 2020 lalu.
Pada awal pandemi Covid-19, saat ada warga yang meninggal dunia pada Maret 2020, Cak Nur turun langsung dengan mengenakan APD (alat pelindung diri) bersama Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Sidoarjo, dr. M. Atho’illah. Warga masyarakat ketakutan untuk memakamkannya. Proses pemakaman juga tidak mudah. Tidak semua desa/kelurahan -pada waktu itu– berkenan menerima pemakaman warga korban Covid-19. Untuk mencari penggali kubur pemakaman juga tidak gampang. Akhirnya, pemakaman Delta Praloyo dijadikan tempat rujukan ketika ada desa/kelurahan melakukan penolakan. Untunglah, setelah peristiwa pemakaman yang fenomenal itu, akhirnya masyarakat menyadari bahwa tidak perlu takut terhadap pemakaman warga korban Covid-19 selama menggunakan APD yang sesuai dengan protokol kesehatan.
Sebagai Kepala Dinas Sosial, beberapa kali saya diajak Cak Nur mendampingi untuk menyisir warga masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan. Nenek Mesti (80 tahun), misalnya, hidup sebatang kara di Desa Gamping Kecamatan Prambon yang viral di medsos tidak luput dari kunjungan Cak Nur untuk mendapatkan bantuan pada 2 Mei 2020. Esoknya, pada 3 Mei 2020, Cak Nur menyapa warga Sekardangan, Sidoarjo yang tinggal di bantaran sepadan saluran, pak Kasan (76 tahun) dan pak Edi Rustam yang sakit akibat jatuh dari pohon saat bekerja. Keduanya menerima bantuan dana dan sembako untuk meringankan beban yang ditanggungnya. Bahkan Cak Nur berniat membangunkan rumah sederhana yang layak kepada pak Kasan, jika RT/RW atau kelurahan bisa menyiapkan sebidang tanah yang cukup.
Pada 8 Mei 2020, Cak Nur bertandang ke Desa Semambung, Gedangan untuk menyapa warga yang memerlukan bantuan. Pak Suharyoso yang sakit menahun (11 tahun), bu Yuli Kiswanti mengidap sakit hidrosefalus (hydrochephalus) dan bu Warsiyah yang telah lama tidak bisa jalan untuk menerima bantuan dana dan sembako. Cak Nur juga hadir ke Desa Jabaran, Balongbendo pada 16 Mei 2020 untuk menyapa pak Sunarto (68 tahun) yang sakit, tinggal di lahan desa area Pamsimas dan pak Suhardi yang telah satu tahun sakit akibat stroke. Cak Nur juga anjangsana memberikan bantuan ke Urangagung, Sidoarjo pada 1 Juni 2020 untuk menyapa ibu Waginah (90 tahun) hidup sebatang kara yang tidak bisa jalan dengan penglihatan yang terbatas. Dilanjutkan ke Desa Wedoro Klurak, Candi untuk menyapa bu Sampini (65 tahun) yang tinggal di bantaran sungai untuk menyerahkan bantuan dana dan sembako.
Setiap kali menyapa warga di pelosok-pelosok desa/kelurahan yang membutuhkan bantuan, Cak Nur selalu mengatakan agar kunjungannya itu bisa mendorong, memotivasi, dan menginspirasi masyarakat untuk mengembangkan sikap peduli kepada sesama yang sangat memerlukan. Bahkan dalam kesempatan yang lain, sering Cak Nur mewanti-wanti agar pemerintah mengalokasikan anggaran yang besar untuk anak-anak yatim piatu di samping juga kepada kaum dhuafa’ yang lain. Semoga, damai di dalam surga-Nya. Amin [Dr Ng Tirto Adi MPd, Kepala Dinas Sosial Sidoarjo]

Tags: