Jasa Pariwisata di Kota Malang Didorong ke Pembayaran Non Tunai

Kepala Disparpora Ida Ayu Made Wahyuni saat meninjau pasar wisata Velodrome beberapa waktu lalu.

Kota Malang, Bhirawa
Era New Normal, usaha jasa pariwisata di Kota Malang, diharapkan mulai bangkit. Namun disaat pandemi ini transaksi didorong untuk tidak mengunakan uang tunai, tetapi beralih ke pembayaran uang digital. “Kami berharap transaksi mulai beralih dengan pembayaran non tunai atau cashless. Selain lebih mudah, masa pandemi Covid-19 akan meminimalkan pergerakan kontak erat antar perorangan,” tutur Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni, Senin (10/8) kemarin.

Pihaknya menyatakan payment system melalui metode QRIS yang digencarkan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang sejak awal tahun 2020 lalu ditindaklanjuti kepada sektor usaha jasa pariwisata. “Kita Disporapar juga menindak lanjuti karena begitu banyak usaha jasa yang terkait dengan sektor pariwisata yang hrs kita lakukan dengan pembayaran non tunai atau cashless tadi,” ujarnya.

Sektor usaha jasa pariwisata di Kota Malang memang menjadi salah satu yang terdampak Covid-19. Namun, kini segala aktivitas untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian perlahan dilakukan. Karenanya, salah satu upaya untuk menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yakni dengan menerapkan sistem transaksi tunai di semua sektor usaha jasa wisata.

“Untuk Wisata Belanja Tugu juga kita lakukan hal yang demikian. Karena protokol kesehatan Covid-19 ini memang mengharuskan kita biar agak jauh dari transaksi-transaksi yang sekiranya berkisaran dengan uang, jadi non tunai itu yang dilakukan,” imbuhnya.

Dalam hal ini pihaknya juga telah melakukan sosialisasi kepada sekitar 500 pedagang di sektor usaha jasa pariwisata untuk membiasakan membuka layanan pembayaran cashless. “Kita sudah sosialisasi kepada sekitar 500 pedagang. Baik itu wisata Velodrom maupun di Stadion Gajayana, dan pada intinya mereka siap untuk melakukan itu,” jelasnya.

Dengan metode tersebut, menurutnya semakin mempermudah proses penyaluran retribusi ke pemerintah daerah. Sebab, hanya tinggal mentransfer saja tanpa harus menyetorkan uang tunai. “Sehingga kami juga tidak repot, repot untuk menerima uang itu kemudian mengirimkan ke khas daerah. Tapi kalau dengan non tunai itu udah langsung ke Bank Jatim di transfer ke khas daerah. Dan setiap kegiatan sudah pasti tau persisnya,” tandasnya.[mut]

Tags: