Joeni Jalani Study di Italia Saat Wabah Virus Corona

Joeni Arianto Kurniawan

Joeni Arianto Kurniawan
Sejak muncul di pertengahan Desember 2019 lalu, Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 telah menjangkiti ribuan orang dari berbagai negara. Termasuk Italia yang menjadi negara tertinggi kasus Virus Corona setelah China yang mencapai 15.113 kasus dengan angka kematian mencapai 1.016 orang.
Pengalaman mencekam itulah yang kini dirasakan dosen Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang sedang menempuh study lanjut di Faculty of Law, University of Pisa di Italia, Joeni Arianto Kurniawan. Tinggal bersama istri dan satu anak yang duduk di kelas V sekolah dasar di Kota Pisa, harus bertahan di tengah kondisi negara yang sudah ditetapkan lockdown nasional oleh pemerintah setempat ini.
Sehingga, Joeni mulai menjalani perkuliahan secara online. Sebelumnya, sejak 5 Maret, seluruh sekolah dan kampus diliburkan, termasuk kegiatan keagamaan.
“Jujur saya dan keluarga sampai detik ini tidak memiliki masker satu pun, karena mencari masker dan hand sanitizer memang sangat sulit,” ujar dosen yang mengambil konsentrasi studi tentang Law, Religion, and Culture.
Namun, untuk hand sanitizer, Joeni masih memiliki persediaan dari sebelum terjadinya wabah Virus Corona.
“Sebagai cadangan, kami terpaksa meracik hand sanitizer sendiri, sembari menunggu suplai masker dan hand sanitizer yang dijanjikan akan didatangkan dari Indonesia via KBRI di Roma,” tambah Joeni.
Joeni menjelaskan, kondisi di Italia saat ini bak negara mati. Pasalnya Pemerintah Italia menetapkan seluruh wilayah sebagai zona merah. Penerbangan dari dan ke Italia pun ditutup sementara untuk meminimalisir masyarakat berinteraksi dengan orang-orang baru.
“Akibatnya bisa dibayangkan, karena semua orang didorong untuk tinggal di rumah masing – masing, maka semua kota di Italia bagaikan kota mati. Jalanan menjadi sepi,” tuturnya.
Melalui kebijakan ini pula, masyarakat diimbau untuk tetap tinggal di rumah dan tidak diperbolehkan meninggalkan kota. Orang dalam jumlah terbatas hanya diperbolehkan pergi ke tempat – tempat tertentu untuk kepentingan yang mendesak, seperti supermarket dan apotik.
Joeni juga menilai, Italia sebagai negara dengan kasus Virus Corona tertinggi kedua setelah China, karena masyarakat Italia menyepelekan masalah ini sehingga kejadian Covid-19 semakin hari semakin bertambah. Apalagi, di Italia, masyarakat memiliki karakter hangat dan senang bersosialisasi.
Menurut Joeni, habit ini untuk sementara perlu untuk diredam mengingat angka kemunculan Covid-19 yang semakin hari semakin tinggi.
Kebijakan lokcdown Pemerintah Italia ini rencananya akan berlangsung hingga 3 April 2020. Namun, jika kondisi tidak semakin membaik, akan ada kemungkinan batas waktu itu diperpanjang.
Terkait studinya di University of Pisa, dosen FH UNAIR itu menyebut akan selesai pada akhir tahun 2020. “Ini tahun terakhir. Insya Allah akhir tahun (2020, Red) sudah selesai,” ujarnya.
Sejauh ini, menurutnya, belum ada laporan WNI yang positif Corona di Italia. Sementara itu, untuk rencana pulang ke Tanah Air bagi seluruh WNI di Italia, setidaknya baru bisa dilakukan hingga jadwal lockdown yang diberlakukan berakhir tanggal 3 April 2020.
“Mohon doa dari kawan-kawan sekalian agar kami para WNI di Italia tetap diberikan kesehatan dan keselamatan. Sebagaimana kami di Italia juga mendoakan semoga Indonesia tidak menghadapi apa yang tengah dihadapi oleh Italia saat ini,” ucapnya.
Saat ini Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai pandemic global. [ina]

Tags: