Kelas Paspor ala Renald Kasali

Judul    : 30 Paspor: The Peacekeepers Journey
Penulis    : J.S Khairen
Penerbit  : Noura Books
Tahun    : Cetakan 1, Maret 2017
Tebal    : 392 halaman
ISBN    : 978-602-385-219-2
Peresensi  : Al-Mahfud
Penikmat Buku. Menulis Artikel, Esai, dan Ulasan Buku di Berbagai Media.

Era globalisasi menghadirkan persaingan terbuka di antara bangsa-bangsa di dunia. Setiap individu dituntut tak hanya memiliki pengetahuan (knowledge). Lebih dari itu, hidup di era global mengharuskan kita memiliki kecakapan (skill) dan kemampuan memecahkan persoalan. Pelbagai tantangan zaman ke depan harus bisa dijawab generasi muda kita agar mereka bisa bersaing. Terlebih, di kisaran tahun 2020-2030 mendatang, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, di mana angkatan kerja mendominasi jumlah penduduk. Maka, menjadi sangat penting untuk mempersiapkan anak-anak muda saat ini agar bisa mengisi bonus demografi tersebut untuk membangun negara.
Kemampuan memecahkan masalah menjadi salah satu problem krusial dalam pendidikan kita. Kebanyakan anak didik di Indonesia masih kesulitan menganalisis dan memecahkan masalah. Sebagaimana ditunjukkan laporan Bank Dunia tentang hasil tes membaca murid kelas IV SD yang menempatkan Indonesia di peringkat terendah di antara negara-negara Asia. Hanya 36% dari materi bacaan yang bisa dipahami. Siswa di Indonesia cenderung kesulitan menjawab soal-soal uraian yang butuh penalaran dan analisis (Aan Hasanah; 2015).
Problem tersebut disadari betul oleh Renald Kasali. Dosen dan pendiri “Rumah Perubahan” tersebut kemudian mengajak mahasiswanya untuk belajar memecahkan masalah lewat model kuliah unik dan berbeda lewat “Kelas Paspor”. Kelas tersebut mengharuskan setiap mahasiswa untuk melakukan kunjungan ke luar negeri selama sepuluh hari sendirian. Negara yang dipilih tak boleh negara yang pernah dikunjungi dan tak boleh negara-negara tetangga yang kultur dan bahasanya sama. Renald ingin melatih mahasiswanya agat terbiasa menghadapi pelbagai kemungkinan baru yang tak pasti dan di luar kebiasaan mereka.
Keberanian melakukan hal baru dan berbeda tentu tak lepas dari masalah. Itu juga dialami Renald Kasali saat menerapkan “Kelas Paspor”. Pelbagai persoalan muncul, baik dari mahasiswa yang bingung mencari biaya untuk hidup di luar negeri, orang tua mahasiswa yang khawatir, sampai dosen-dosen lain yang protes karena mahasiswanya absen selama ikut “Kelas Paspor”. Namun, Renald Kasali punya alasan kuat. “Percaya atau tidak, mereka yang saya didik dengan cara ini ternyata lebih berhasil dalam karier. Lebih punya karakter leadership,” tulisnya.
Tak kurang ada 30 kisah pengalaman mahasiswa “Kelas Paspor” tersebut selama “kesasar” di luar negeri terekam dalam buku ini. Masing-masing mahasiswa di hadapkan pada persoalan masing-masing saat harus berangkat ke suatu negara yang belum pernah ia dikunjungi. Namun, bagi mahasiswa yang sungguh-sungguh, ia akan selalu punya cara untuk melewati proses dengan baik. Seperti ditunjukkan Vivie Nurjaningrum. Meski mahasiswa Fakultas Ekonomi ini sangat dimanja ibunya dengan mempersiapkan segala keperluannya selama di Jerman, termasuk memesankan hotel, ia memiliki caranya sendiri untuk tetap berproses dalam Kelas Paspor.
Vivie memutuskan pergi dari hotel nyaman dan memilih mencari hostel. Di hostel, Vivi justru baru merasakan bagaimana rasanya menginap di tempat jauh dan berbaur dengan wisatawan lain. Hal yang tak bisa didapatkan di hotel pesanan ibunya. Selain melatih kemandirian, “Kelas Paspor” juga melatih mahasiswa agar kreatif memaksimalkan kemampuan yang dimiliki untuk memecahkan setiap masalah selama di luar negeri. Hestia Livana, mahasiswi yang memiliki berkunjung ke Jepang, bertemu pedagang manisan baik hati di Pasar Tsukiji yang memberi izin membantunya. Hestia tahu bagaimaan memanfaatkan kelebihannya dalam berbahasa Inggris untuk membantuk penjual manisan tersebut.
Berkat kemampuan bahasa Inggrisnya, Livana bisa mengumpulkan banyak wisatawan asing untuk membeli dagangan penjual manisan tersebut. “Bahasa Inggris menjadi senjata andalanku untuk promosi,” kata Hesti (hlm 75). Lain lagi dengan pengalaman Fahmi Muhammad di Ceko. Fahmi mendapatkan teman baru bernama David yang memiliki hobi sama, yakni fotografi dan musik. Selain berbincang tentang foto, mengenalkan alam Indonesia dan musik dangdut, Fahmi mendapatkan renungan berharga tantang kemanusiaan saat berbincang dengan David-yang seorang ateis. Bahwa tak ada agama yang mengajarkan keburukan. Tergantung manusia yang menjalankannya.
Masih ada beragam kisah menarik lain. Seperti Aniza yang kehilangan dompet namun merasakan kehangatan persaudaraan di Maroko, Alifia yang mengerti arti syukur setelah bertemu teman barunya di Belgia yang keluarganya bermasalah, kisah Ibrahim Abas yang nyaris dirampok di Italia, juga Reza yang hampir ditembak tentara di Nepal. Menyimak kisah-kisah di buku ini akan semakin menyadarkan kita akan pentingnya anak muda untuk berani menghadapi hal-hal baru dalam hidupnya, agar terlatih memecahkan masalah dan memiliki keberanian mengadapi segala tantangan.

                                                                                                      ———— *** ————-

Rate this article!
Tags: