Konveksi Rato Wirausaha Muda Sumenep Bertahan di Tengah Pandemi

Salah satu unit usaha di bawah naungan Wirausaha Muda Sumenep (WMS), Konveksi Rato ini ikut berperan aktif dalam penguatan ekonomi masyarakat dalam kondisi lemahnya ekonomi rakyat saat ini.

Sumenep, Bhirawa
Di masa Pandemi Covid-19, hampir semua sektor ekonomi masyarakat mengalami penurunan, bahkan kehancuran. Namun, salah satu unit usaha di bawah naungan Wirausaha Muda Sumenep (WMS), Konveksi Rato ini ikut berperan aktif dalam penguatan ekonomi masyarakat dalam kondisi lemahnya ekonomi rakyat saat ini.

Konveksi Rato WMS itu bergerak di bidang usaha produksi pakaian, kaos dan songkok. Tiga jenis usaha itu cukup membantu perekonomian masyarakat, utamanya bagi mereka yang menjadi anggota atau pekerjanya. Tiga unit usaha itu memiliki anggota yang berbeda. Untuk produksi kaos memiliki 9 orang, produksi kaos sebanyak 6 orang dan produksi songkok sebanyak 6 orang.

Masing-masing jenis usaha itu memiliki kemampuan produksi yang berbeda, seperti unit usaha kaos bisa memproduksi kaos sebanyak 60 buah setiap hari, unit usaha songkok sebanyak 20 buah dan pakaian sebanyak 10 buah setiap harinya. Pemesan pun sangat beragam, baik dari instansi pemerintah, sekolah dan masyarakat umum. Karena unit usaha ini masih relatif baru, yakni baru berdiri sejak 2018, pengelola masih membutuhkan upaya keras untuk mencari pelanggan, tapi hasil produksinya relatif bagus dan siap berkompetisi di masyarakat.

Manager Konveksi Rato WMS, Muslimatul Layliyah mengatakan, tiga jenis usaha dibawah naungan Konveksi Rato itu cukup membantu perekonomian para pekerja utamanya di tengah Pandemi Covid-19 ini. Jika disektor lain pada lesu, tapi di Konveksi Rato relatif tidak terpengaruh dengan kondisi belakangan ini.

Sebanyak 21 pekerja yang tergabung ditiga unit usaha ini relatif dapat menghidupi keluarganya tanpa kendala secara ekonomi. Karena pesanan kaos, songkok maupun pakaian lain terus lancar. “Alhamdulillah, selama masa Pandemi Covid-19 ini tidak terlalu berpengaruh. Pekerja terus aktif bekerja sesuai pesanan,” kata Muslimatul Layliyah.

Hasil produksi kaos oblong dipatok harga Rp 54 ribu per buah, songkok ukuran standar dipatok Rp 35 ribu, untuk yang berwarna biru dan merah atau dilengkapi dengan tulisan dipatok harga antara Rp 50-60 ribu, beda lagi dengan ukuran tinggi bisa mencapai Rp 100 ribu.

Sedangkan harga pakaian disesuaikan dengan modelnya. Kalau hanya seragam sekolah dalam kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. “Kalau soal harga, kami jamin lebih murah dari tempat lain, tapi kualitasnya tetap bersaing. Kami tetap mengedepankan kualitas meski pesanan terus berdatangan,” ucapnya.

Para pekerja yang tergabung di Kqonveksi Rato WMS itu mendapatkan upah yang tidak kalah dengan diluar. Bayarannya pun bukan bulanan, melainkan mingguan. Jadi, setiap minggu para pekerja mendapatkan upah. Rata-rata setiap minggunya, pekerja mendapatkan upah sebesar Rp 400 ribu setiap minggunya.

Sistem pembayaran pun berbeda dengan di tempat lain yakni dari total penghasilan unit usaha selama seminggu dibagi rata dengan sejumlah para pekerja, tentunya setelah dikurangi biaya produksi. “Pembagian honor dilakukan setiap minggu. Kalau dirata-rata, tiap karyawan bisa mendapatkan upah sebesar Rp 400 ribu perminggu,” paparnya.

Konveksi yang dikelola oleh para muda-mudi itu memiliki peralatan yang relatif lengkap karena mendapatkan bantuan khusus dari pemerintah. Pasalnya, unit usaha ini memang dibentuk oleh pemerintah untuk menampung pemuda kreatif guna meningkatkan ekonomi masyarakat Sumenep.

Sebelum ditarik menjadi karyawan, mereka diberi pelatihan terlebih dahulu. Bahkan, jumlah peserta dalam pelatihan itu tidak sedikit yakni ada 3 kelas dalam setiap pelatihan. Setiap kelas ada 30 orang, jadi total selama pelatihan ada 90 orang.

Pelatihannya selama 20 hari pada tahap pertama dan akan ada tahap berikutnya bagi.mereka yang aktif. Hanya saja, pasca pelatihan, sebagian mereka mengembangkan usahanya sendiri yang mereka miliki atau membuka unit usaha sendiri di rumahnya.

“Sebelumnya kami menggelar pelatihan. Pasca pelatihan, ada yang tertarik bergabung di Konveksi di sini dan sebagian besar mengembangkan usaha sendiri di rumahnya. Semuanya sama-sama berjalan. Ada juga yang tidak sukses, tapi jumlahnya relatif kecil,” ceritanya.

Konveksi Rato WMS hingga bisa tegak berdiri sampai sekarang ini bukan tanpa cobaan. Banyak sekali kendala yang telah dilalui, namun karena dari kegigihan para pengelola, Konveksi ini telah mampu mengubah para karyawan yang sebelumnya pengangguran menjadi insan yang bisa mandiri dalam perekonomian.

Kalau alat yabg dimiliki terhitung sudah memadai, karena telah memiliki 7 unit alat mesin songkok, 7 unit mesin pakaian, dan ada tiga paket mesin kaos. Setiap paket mesin kaos itu ada enam mesin. “Awalnya, saya sendiri yang seperti putus asa.

Karena, memang belum ada pemasukan sama sekali sebab memang belum ada pelanggan atau pemesan. Tapi, lambatlaun, cobaan demi cobaan dapat terselesaikan hingga bisa bertahan, bahkan dapat menghidupi keluarga yang sebelumnya pengangguran,” tegasnya.[sul]

Tags: