Manfaatkan Limbah Plastik dan Tekstil, Tampilkan Busana Elegant

Tiffany (kanan) dengan busana Awakening dan Auke Kurnia dengan busana yang dinamakan Sustainable Dysto-Tenun War karya busana yang berhasil meraih juara dua dan lima dalam Surabaya Fashion Desaigner Award 2020.

Dua Mahasiswa UK Petra Juara Surabaya Fashion Designer Award 2020
Surabaya, Bhirawa
Memanfaatkan barang – barang bekas, dua mahasiswa Program Studi Desain Fashion dan Tekstil (DFT) Universitas Kristen (UK) Petra, berhasil meraih juara dalam Surabaya Fashion Designer Award 2020. Salah satunya yakni Tiffany yang sukses meraih juara dua dalam Surabaya Fashion Parade ini (SFP).
Dalam pembuatannya, Tiffany memanfatakan botol plastik yang sudah tak digunakan kemudian dipotong kecil – kecil. Setelah itu, dibakar diatas api dan dijahit ke baju bersama dengan manic – manik. ”Saya ingin mengurangi pencemaran lingkungan sehingga muncul ide ini,” ujar dia.
Awakening, begitulah dia menyebut desain rancangan ini. Mahasiswa angkatan 2018 ini menuturkan nama ini diambil karena desian baju yang dibuat menggambarkan seorang putri kerajaan dengan kehidupan serba mewah, Namun secara tiba – tiba harus menjadi pemimpin bagi rakyatnya. Kekreatifan, keuletannya, dan sifat pantang menyerah membuatnya dapat membangun kembali pemerintahan dalam kerajaannya. Lebih dari sebulan Tiffany mengerjakan desain ini.
“Saya sangat senang hasil karya baju yang saya buat dengan susah payah bisa diapresiasi dan jalan di runway dilihat oleh orang – orang,” ungkap gadis berkacamata itu.
Pakaian ini ditujukan untuk wanita muda yang aktif dalam beraktifitas. Dapat digunakan untuk acara spesial pada siang hingga sore hari. ”Penggunaan aplikasi recycle bunga dari plastik ini karena saya tetap ingin memperlihatkan sisi elegant, kreatif, keberanian dan kepintaran dari seorang putri,” tambah Tiffany.
Mahasiswa UK Petra yang juga sukses meraih juara dalam SFP lainnya adalah Auke Kurnia Septianingrum Azalya. Dalam desainnya, ia memadu padankan limbha Tekstul dengan Kain Tenun asal nusa Tenggara Timur (NTT).
Auke begitu ia disapa, menuturkan, konsepnya terinspirasi dari kegemarannya bermain game abad pertengahan, karenanya ia mengusung desain baju bernuansa Indonesia Heritage dengan judul Sustainable Dysto-Tenun War.
“Saya mencoba pakaian dari game itu di crossover kan dengan kain tekstil tenun yang berasal dari NTT,” ungkap mahasiswi angkatan 2019 itu.
Ia pun mengaku sangat senang bisa mengikuti kompetisi ini bahkan hingga memperoleh gelar juara sebab ia bisa mendapatkan sumber inspirasi dari peserta lain.
Saya membutuhkan waktu desain kurang lebih dua minggu kemudian proses penjahitannya memakan waktu kurang lebih 1 bulan. Pembagian waktu dan sempat berubah ide lah yang menjadi kendalaku,” ungkapnya.
Pakaian ini, kata dia, dapat digunakan untuk acara formal, bisa juga digunakan untuk pesta. Suasananya meriah memunculkan sisi etnik dari indonesia itu sendiri yaitu kain tenun. Uniknya selain menggunakan teknik creative fabric atau anyaman, Auke menambahkan unsur sustainable.
“Syal yang saya pakai bekas, tak hanya itu kain tenunnya merupakan bekas taplak meja. Ditambah lagi outer kain hitam yang saya pakai merupakan baju yang dulu tidak jadi saya gunakan. Sehingga saya bisa mengurangi sampah tekstil,” jelas dia.
Surabaya Fashion Designer Award 2020 merupakan rangkaian agenda tahunan Surabaya Fashion Parade (SFP) ke-13. Peserta finalis kompetisi kategori umum kali ini berjumlah 20 orang yang berasal dari Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Tiga desainer senior bertindak sebagai juri memutuskan lima pemenang. Juri tersebut adalah yaitu Stella Lewis, Yuliana dan Yunita Kosasih. [ina]

Tags: