Merdeka atau Mati

Dewi Fitrotun Amania

Merdeka atau Mati
Orang menganggapnya sebagai orang gila atau mungkin setengah gila. Usianya sekitar 80 an tahun. Meskipun badannya masih terlihat bugar dengan perawakannya yang tinggi besar, namun bungkuk dipunggungnya seolah ingin menjelaskan dia sudah manula. Wajahnya semakin mengeriput, namun senyumnya merekah bak hujan di tengah gurun pasir, sejuk – menyejukkan.

Maman namanya, namun karena usianya yang sudah sangat tua orang – orang memanggilnya dengan sebutan Aki. dia selalu membawa senapan kemanapun. Bahkan saat mandi di sungai sekalipun. Aki takut jika belanda tiba-tiba menyerang.

“Aki tak mau mati, Aki ingin melihat Indonesia merdeka” katanya kepada setiap orang yang bertanya tentang senapan yang dibawanya kemanapun. Aki tidak pernah memercayai cerita dari setiap orang yang ditemuinya bahwa Indonesia sudah merdeka, tidak ada lagi Belanda atau Jepang yang menjajah negeri ini.

“Di luar sana masih berkeliaran penjajah dan Aki tidak mau dia menginjakkan kakinya di lereng bukit ini, Aki akan menembaknya.Aku tidak takut siapapun!, Merdeka atau mati” katanya lantang dan bersemangat.

Sejak berpuluh tahun yang lalu Aki memang memutuskan untuk mendirikan gubuk di dekat dua makam di lereng bukit, menurut warga sekitar makam itu adalah makam adik Aki dan satu lagi makam noni belanda.

===

Suara desingan peluru di tengah malam membuat seluruh warga desa berhamburan, disertai teriakan para serdadu belanda agar semua warga berkumpul di lapangan, tidak boleh ada yang tersisa semua harus berada di lapangan dari anak-anak hingga orang tua.

“Jongkok!” perintah sang serdadu dengan mengacungkan senjatanya membuat warga takut terutama para wanita dan anak – anak.

Ratusan serdadu belanda mengepung desa memasuki setiap rumah dan memporak porandakan isinya, mereka berdalih sedang mencari para pejuang yang dua hari lalu membakar gudang makanan, sehingga membuat serdadu belanda kelaparan. Kemarin siang para pejuang juga menyerang pos keamanan belanda sehingga lima orang tewas dan para pejuang merampas senjata belanda. Hal itulah yang membuat pimpinan serdadu belanda marah dan menuduh penduduk desa menyembunyikan pejuang.

Satu persatu dari ratusan serdadu belanda yang disebar untuk menggeledah rumah warga menghadap dan mengatakan tidak ada satupun yang mereka cari ada di desa tersebut.

“Jika kalian menyembunyikan pengacau itu, maka kami akan menembak kalian semuanya” kata pimpinan serdadu tersebut dengan sombong dan melangkahkan kakinya sambil melihat satu persatu warga yang sedang ketakutan, ada senyum kebahagiaan di wajahnya melihat penduduk yang ketakutan bagai anak ayam yang akan dimangsa musang.

“Mereka bukan pengacau, mereka pejuang. Kalianlah yang pengacau” teriak salah seorang pemuda membuat pimpinan serdadu belanda murka dan menembakkan senjatanya tepat di lengan kanannya.

“Ya, kalian yang pengacau” teriak pemuda lainnya.

Suasana menjadi kacau dan tidak terkendali, suara desingan peluru dimana – mana. Para wanita dan anak-anak lari berhamburan. Sebagian pemuda melawan, sebagian lagi ikut kocar-kacir bersama warga lain mencari tempat berlindung dari peluru-peluru belanda yang siap menembus tubuh mereka.

“Bakar saja tempat ini” perintah pimpinan serdadu belanda sambil terus menembakkan senjatanya.

Dua orang kakak beradik sedang berlari menghindari desingan peluru yang terus memberondong tanpa ampun, sementara kobaran api melahap sebagian rumah warga dan dengan cepat membumihanguskan desa. Kakak beradik ini kemudian berlari semakin menjauh dari desa mereka. Mereka bersembunyi di balik rerimbunan pohon pisang sambil melihat kobaran api yang sudah semakin membesar membumihanguskan desa mereka.

“Ibu…. Bapak….” tangis sang adik ketika sadar bahwa mereka telah terpisah dengan kedua orangtuanya.

“Tenang dik, kita akan baik-baik saja. Begitu juga ibu dan bapak. Malam ini kita bermalam disini, besok pagi kita akan mencari ibu dan bapak” hiburnya kepada sang adik.

Saat itu sang kakak baru berusia dua belas tahun sedangkan sang adik masih sembilan tahun.

Kobaran api mulai hilang seiring matahari dan kokok ayam yang bersahutan, yang tertinggal hanya kelamnya asap dan abu. Kakak beradik beranjak menyusuri desa dengan mengendap-endap. Mereka melihat sebagian warga yang semalam bersembunyi dari gilanya para serdadu belanda membabi buta menembaki mereka dan membakar desa mereka juga mencari keluarganya. Sama seperti dirinya dan adiknya yang mencari ibu dan bapaknya.

“Aku melihat ibu dan bapak kalian disana, pergilah!” seru salah seorang warga

Kakak beradik inipun mengikuti petunjuk warga yang mengetahui ibu dan bapaknya. tangispun kemudian pecah saat melihat jasad ibu dan bapaknya bersimbah darah. Keduanya bersimpuh dan memeluk jasad orangtuanya. Sejak hari itu Maman sang kakak berjanji akan bergabung bersama para pejuang untuk mengusir belanda dari negeri ini.

“Kak, aku ikut kakak berjuang. Siapa lagi yang aku punya selain kakak”

“Kau masih sangat kecil dik, ikutlah dengan bibi. Jika ada kesempatan aku akan mengunjungimu”.

Namun karena tekad adiknya begitu kuat untuk berperang, maka keduanya pun bergabung dengan laskar pejuang .

Tak terasa bertahun – tahun mereka berjuang, berperang keluar masuk hutan agar tidak tertangkap. Kelaparan dan luka tembak itu menjadi hal yang lumrah bagi mereka.

Komar, sang adik tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan pemberani, raut wajahnya menunjukkan ketegasan. Dia tidak takut dengan senjata belanda yang siap memberondong tubuhnya. Keberanian Komar terdengar sampai ke telinga mayor belanda . Karena keberaniannya Komar dianggap sangat berbahaya bagi belanda.

Komar tidak hanya berjuang, tapi dia juga mengobarkan semangat rakyat dan para pemuda untuk ikut berjuang mengusir penjajah. Karena itupula mayor belanda memerintahkan untuk menangkap Komar. Komar yang sangat lihai dalam berperang tidak mudah untuk ditangkap, seolah bumipun ikut menyembunyikan langkah-langkah Komar.

Karena geram sang mayor mengajak berunding Komar dan pasukannya, dengan licik Komar ditangkap dan dipenjarakan. Di dalam penjara Komar disiksa dan sering tidak diberi makan. Usaha Maman untuk membebaskan adiknya juga menemui jalan buntu. Namun akhirnya Komar berhasil melarikan diri dengan bantuan putri sang mayor yang tidak tega melihat penyiksaan yang dialami Komar dan pasukannya.

Hellen, nama putri sang mayor. Meskipun putri dari seorang mayor belanda, dia tidak pernah menyetujui tindakan penindasan kepada kaum pribumi oleh sang ayah. Hellen kerap membantu pejuang untuk memberi makanan saat dipenjara atau bahkan mencuri kunci dari penjaga dan melepasnya.

Komar dan Hellen seringkali bertemu, Komar memanfaatkan informasi dari Hellen untuk membuat pasukan belanda kocar kacir. Desas desus mengenai Komar dan Hellen sampai juga ke telinga sang mayor. Sang mayor murka mendengar anaknya membantu pejuang membocorkan segala taktiknya.

Hellen dipaksa untuk menunjukkan persembunyian Komar dan pasukannya. Akhirnya Hellen menyerah karena ancaman sang ayah akan meledakkan seluruh desa jika Hellen tidak bersedia menunjukkan persembunyian Komar dan pasukannya.

Mengetahui kedatangan pasukan belanda ke tempat persembunyiannya, Komar segera bersigap. Namun terlambat pasukan belanda telah mengepungnya. Dengan beringas pasukan belanda menembaki pasukan Komar.

Hellen mencoba menghentikan ayahnya, namun tidak mampu. Sesaat kemudian senjata sang ayah diarahkan kepada Komar. Saat peluru terlepas dari senapannya Hellen berlari melindungi tubuh Komar dari berondongan senjata ayahnya. Tubuhnya roboh bersimbah darah. Dengan berteriak dia mengatakan agar jasadnya jangan pernah dibawah oleh ayahnya.

Komar bersimpuh ingin memberi pertolongan kepada sang noni belanda, namun terlambat berondongan peluru menembus badannya hingga roboh tepat disamping jasad Hellen.

===

Sore itu gerimis, taburan bunga mawar terlihat masih segar. Aki menegakkan kembali bendera merah putih yang tertancap tepat di nisan adiknya.

“Merdeka atau mati. Kau memilih mati wahai pejuang mempertahankan harga diri bangsamu. Kelak jika Indonesia telah merdeka aku akan mengabarkannya kepadamu” bisiknya kepada nisan batu yang membisu.

Kepada para warga yang singgah digubuknya, dia sering bercerita tentang perjuangannya melawan Belanda, melawan Jepang, hingga kisah perjuangan adiknya. Adik yang dibanggakannya. Namun satu hal yang tidak pernah dia percaya bahwa Indonesia telah merdeka. Hingga orang-orang menyebutnya gila atau mungkin setengah gila.

“Tidak, Indonesia belum merdeka. Darah segar pejuang masih membasahi bumi pertiwi. Namun para pengkhianat dan penjajah masih saja belum musnah. Indonesia belum merdeka, Ibu pertiwiku masih menangis”. ucapnya lirih dengan mulut yang bergetar dan mata berkaca-kaca.

Dewi Fitrotun Amania,S.Pd.SD
Pemilik hobi membaca dan menulis ini Lahir di Pasuruan. Aktif mengajar di sebuah SD Negeri di Kabupaten Pasuruan sejak tahun 2004 hingga saat ini. Tulisannya beberapa kali dimuat di beberapa koran lokal maupun nasional. Artikelnya juga beberapa kali dimuat di Harian Bhirawa. Kegemarannya menulis terangkum dalam buku kumpulan cerpen karyanya “Gara-Gara Sandal” juga beberapa antologi puisi “Jarit Ibu Pengobat Rindu” dan “Terbang dalam Deen Assalaam (antologi puisi bersama Nissa Sabyan).

———— *** ————

Rate this article!
Merdeka atau Mati,5 / 5 ( 1votes )
Tags: