Pakar Politik Nilai Kader PDIP di Pilwali Surabaya Tak Selevel Risma

Drs. Sucahyo Tri Budiono,M.Si.

Surabaya, Bhirawa
PDI Perjuangan hari ini mengumumkan rekomendasi calon kepala daerah di beberapa daerah di Jawa Timur. Namun, untuk rekomendasi Pemilihan Wali Kota (pilwali) Surabaya masih belum dimunculkan. ‘Drama’ pengumuman Pilkada Surabaya ala PDIP ini dinilai tidak membuat daya kejut masyarakat.

“PDI Perjuangan belum menemukan kader internal di Jawa Timur yang selevel dengan kualitas dan kapasitas sesuai Bu Risma (Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini),” ujar Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) Drs. Sucahyo Tri Budiono,M.Si, Selasa (11/8).

Ia menjelaskan, kader PDIP yang muncul di permukaan selama ini seperti Whisnu Sakti Buana, Armuji atau kader lainnya dinilai tidak memiliki daya kejut di masyarakat. Karena kualitas yang diusung sangat tidak bisa menyaingi kepopuleran Tri Rismaharini, apalagi mengungguli Tri Rismaharini. Kondisi tersebut, membuat Ketua Umum DPP PDIP sangat hati-hati mengeluarkan rekomendasi Pilwali Surabaya.

Pakar politik Wijaya Kusuma ini, memprediksi pertarungan politik diinternal PDI-P sangat kental. Sejumlah kader internal saling klaim mendapat rekomendasi dari DPP PDI-P.

“Internal sangat kuat pertarungannya untuk mengusung dilevel wali kota maupun wakil wali kota. Sayang kader yang ada belum melebihi kualitas Tri Rismaharini,” beber Sucahyo.

Sementara Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin calon yang sudah muncul di arena dan diusung 8 partai politik ke Machfud Arifin (MA), kualitasnya setara dan bahkan menurut banyak kalangan bisa menggunguli Wali Kota Tri Rismaharini.

“Ini pekerjaan berat bagi PDI-P untuk mengangkat elaktabikitas dari calon yang diusung di Pilwali Kota Surabaya,” ujar Sucahyo. Ia menerangkan, untuk Pilwali Kota Surabaya 9 Desember 2020, PDIP memiliki pekerjaan berat. Apakah berhadapan atau berkoalisi dengan partai politik lain yang lebih awal memberikan dukungan pada Calon Wali Kota Surabaya Machfud Arifin.

Menurutnya, pilihan terbaik untuk kepentingan Pilwali maupun Pemilu Legislarif 2024 adalah mengandeng kekuatan Machfud Arifin (MA).

“Memang ini pilihan sulit. Karena strategi politik yang digarap tidak merugikan kepentingan pemilu 2024 mendatang,” tegas Sucahyo. Sementara itu, Megawati Soekarnoputri terkesan masih berharap campur tangan Tri Rismaharini di Pilwali Kota Surabaya akan memuluskan mengamankan kursi Balaikota Surabaya lima tahun kedepan.

Ia menilai, Risma juga memiliki anak buahnya yang digadang-gadang menjadi calon wali kota yakni Eri Cahyadi-Kepala Bappeko Surabaya. Bahkan, banyak baliho tersebar di berbagai titik di Surabaya bergambar Eri yang dibelakangnya ada Risma.

“Saya rasa, kualitasnya Eri belum mampu mengungguli atau selevel dengan Bu Risma,” katanya. Seperti diketahui, DPP PDI-P hari ini mengumumkan rekomendasikan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah tahap tiga. Untuk Jawa Timur, hanya mengumumkan 5 kabupaten, tanpa merekom Pilwali Kota Surabaya.

Lima kabupaten/kota yang mendapat rekomendasi diantaranya Kabupaten Gresik, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Ponorogo.

“Ini menunjukkan Bu Mega sangat hati-hati, agar tidak keliru memberikan rekomendasi,” tutup Sucahyo. [geh]

Tags: