Panen Raya Bawang Merah di Kabupaten Nganjuk, Harga Relatif Stabil

Petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk saat ini menikmati hasil panen raya karena harga yang relatif tinggi.(ristika/bhirawa)

Nganjuk, Bhirawa
Bulan Agustus kali ini, petani bawang merah Kabupaten Nganjuk tengah merayakan panen besar. Namun saat kualitas dan kwantitas bawang merah hasi panen musim ini sangat melimpah, ada kekhawatiran soal anjloknya harga bawang merah.

“Petani bawang merah berharap harga komoditi ini tidak mengalami penurunan pada saat panen raya sekarang ini. Pasalnya, bila harga bawang merah mengalami penurunan dipastikan petani kembali tidak mendapatkan keuntungan seperti yang diharapkan,” ujar Sutomo, salah satu petani bawang merah asal Desa Kendal Kecamatan Bagor.

Dari pengakuan Sutomo, kondisi cuaca selama musim tanam bawang merah dirasa sangat mendukung. Selain ketersediaan air yang mencukupi juga suhu dan kelembaban udara sangat cocok untuk tanaman bawang merah. “Namun pertumbuhan tanaman bawang merah agak sulit kali ini dan membutuhkan kesabaran dalam perawatannya. Dan Alhamdulillah hasil panen boleh dibilang sebagai panen raya saat ini,” kata Sutomo.

Dijelaskan Sutomo, untuk satu hektar tanaman bawang merah di musim panen raya sekarang ini dikisaran 17 ton hingga 18 ton. Dalam panen bawang merah musim sebelumnya hanya dikisaran 15 ton per hektarnya. Dengan demikian dengan kisaran harga jual bawang merah sekarang ini sekitar Rp 12 ribu per kilogramnya maka hasil penjualan bawang merah bisa mencapai kisaran Rp 210 juta per hektarnya.

“Tentunya dengan biaya bibit, tanam, dan perawatan hingga biaya panen mencapai Rp 150 juta perhektarnya maka keuntungan kami tahun ini lumayan bagus. Dan keuntungan itu bisa untuk menutup kerugian musim tanam bawang merah sebelumnya,” ucap Sutomo, yang juga menjabat Kepala Desa Kendal.

Senada dengan Sutomo, Tarmuji salah satu petani bawang merah asal Desa Gemenggeng Bagor mengatakan, panen raya bawang merah di Desa Gemenggeng dan desa-desa sekitarnya juga sangat baik. Adanya pandemi Covid-19 yang menyebabkan harga jual bawang merah bertahan di kisaran Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu perkilogram.

“Jadi panen bawang merah dari petani kali ini cukup melimpah dan harga jual mahal, sehingga cukup baiklah panenan bawang merah kali ini sehingga mendatangkan keuntungan cukup besar bagi petani di tengah Pandemi Covid-19,” kata Tarmuji.

Desa Gemenggeng yang juga sebagai Kampung Tangguh Semeru pertama di Kabupaten Nganjuk, dikatakan Tarmuji, dalam proses tanam dan panen bawang merah juga memperhatikan protokol kesehatan covid-19. Semua petani dan pekerja rajin memakai masker juga selalu menjaga jarak saat perawatan bersama.

“Makanya, kami merasa covid-19 membawa berkah tersendiri bagi petani bawang merah di Desanya dan Kabupaten Nganjuk sekarang ini,” ujar Tarmuji.

Ada sekitar 63 hektar lahan persawahan Desa Gemenggeng, sekitar 80 persennya ditanami bawang merah. Dan hanya sekitar 20 persen yang ditanami tanaman lain seperti jagung dan kedelai.

Stabilnya harga bawang merah saat ini juga diakibatkan wilayah Brebes Jawa Tengah dan Probolinggo Jawa Timur yang juga merupakan sentra bawang merah saat ini masih belum panen. Sehingga kondisi tersebut menjadi keuntungan tersendiri bagi petani bawang merah di Kabupaten Nganjuk sekarang ini. “Kami berharap kondisi harga bawang merah tetap stabil disaat panen raya sekarang ini. Karena saat ini saatnya petani bawang merah menikmati jerih payahnya bertanam bawang merah,” tutur Tarmuji.

Di samping itu, tidak adanya bawang merah impor di pasar lokal juga menyebabkan harga bawang merah saat ini relatih stabil. Hasil panen raya bawang merah petani Nganjuk sekarang ini menjadi pasokan utama kebutuhan pasar di berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari Jakarta, Semarang, Surabaya, dan luar Jawa.(ris)

Tags: