Pemerintah Kabupaten Nganjuk Bertanggungjawab Tangkal Hoax

Pembukaan workshop dengan tema Peran Serta Ormas, Tokoh Masyarakat Dan Aparatur Dalam Rangka Pemahaman Politik Dan Tangkal Hoax Untuk Nganjuk Nyawiji.(ristika/bhirawa)

Nganjuk, Bhirawa
Berita bohong (hoax) kerap digunakan oleh oknum-oknum untuk menciptakan konflik di tengah pertarungan agenda politik. Jadi seperti saat ini bukan hal aneh lagi bila informasi palsu tersebut kian membanjiri media sosial untuk menciptakan kondisi atau situasi tertentu.

Oleh karena itu, dibutuhkan sikap bijaksana dari masyarakat agar berita bohong bisa hilang di dunia maya. Guna menangkal berita hoax tersebut, Pemerintah Kabupaten Nganjuk memiliki tanggung jawab dan tugas besar untuk memberantasnya. “Kita berharap ada gerakan dari tokoh-tokoh yang punya pengaruh. Mereka kita minta untuk meredam isu atau hoax ditengah masyarakat,” kata Wakil Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi.

Kemudian, lanjut Marhaen Djumadi, pihaknya berharap minat baca masyarakat kian meningkat yang disebabkan dari tingginya tingkat literasi. Dengan demikian maka persebaran berita hoax akan semakin menurun. Oleh karena itu, akan berguna bila semua warga masyarakat lebih memilih informasi dari media yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. “Jadi semakin tinggi tingkat literasi dan semakin kuat kepercayaan masyarakat kepada media mainstream itu, penyebaran hoax tidak terlalu besar,” imbuh Marhaen Djumadi saat membuka workshop bertemakan “Peran Serta Ormas, Tokoh Masyarakat Dan Aparatur Dalam Rangka Pemahaman Politik Dan Tangkal Hoax Untuk Nganjuk Nyawiji”.

Marhaen Djumadi juga mengungkapkan, gerakan moral untuk menyadarkan masyarakat tentang bagaimana menyikapi keberadaan media dan medsos digunakan secara positif. Pada titik inilah peranan penting dari tokoh masyarakat dalam mengajarkan dan mengajak masyarakat memahami bahaya penyebaran hoax dari sisi hukum, agama, kesusilaan, serta kesopanan.

“Kegiatan di hulu ini lebih banyak melakukan edukasi, literasi, sosialisasi, dan silaturahmi dengan berbagai lembaga pendidikan, ormas, tokoh lintas agama, profesi, budaya, pendidikan,” urai Marhaen Djumadi.

Sementara itu narasumber Dr. Sonny SM Laksono, M.Si dalam workshop yang digelar oleh Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Nganjuk memaparkan berbagai media yang yang kerap menjadi sarana poenyebaran hoax. Dalam penjelasannya, Sonny menjelaskan bahwa 92,4% hoax tersebar melalui media sosial, seperti facebook dan whatsapp. Kemudian 62,8% hoax di8sebarkan memalui aplikasi chat dan 34,9% lewat situs website.

Maraknya berita hoax yang beredar di masyarakat menjadi muatannya juga bermacam-macam. Tetapi yang paling dominan adalah hoax tentang sosial politik yang mencapai 91,8%, sedangkan hoax tentang SARA 88,6%. “Karena itulah, manfaatkan media sosial atau internet secara baik dalam arti tepat guna, aman sesuai etika, budaya dan tidak melanggar norma yang berlaku,” pungkas Sonny. (ris)

Tags: