Pengamat dan Pelaku Ekonomi Bertemu, Bahas Dampak Covid-19

Dr. Aviliani, Senior Ekonom Perbanas saat menyampaikan paparannya dalam Webinar Nasional dengan tema “Dampak Covid-19 Dalam Perspektif Pengamat dan Pelaku Ekonomi”.

Kota Malang, Bhirawa
Universitas Widyagama (UWG) Malang bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta dan Universitas Sains Malaysia menyelenggarakan Webinar Nasional dengan tema “Dampak Covid-19 Dalam Perspektif Pengamat dan Pelaku Ekonomi”.
Seminar yang diikuti oleh sekitar 500 perserta ini dibuka oleh Dekan FEB UMB Dr. Harnovinsah dengan moderator Dr. Ana Sopanah selaku dekan FE Universitas Widyagama Malang. Narasumber dalam seminar pada hari ini yaitu Prof. Dr. Didik J Rachbini, Ekonom INDEF Jakarta dan Guru Besar Ulmu Ekonomi Universitas Mercu Buana Jakarta yang membahas dalam perspektif pengamat. Sementara Dr. Aviliani, Senior Ekonom Perbanas yang membahas dalam perspektif pelaku usaha, Narasumber ke 3 adalah Prof. Dr. Noor Hazlina Ahmad, Dekan of School of Management USM yang membahas dalam perspektif Akademisi.
Dalam paparannya Didik J Rachbini yang menyatakan bahwa kebijakan pemerintah saat ini lemah seperti terlihat pada kontroversi jajaran pemerintah yang membuat publik bingung sehingga arahan kebijakan tidak efektif. Sementara dalam bidang ekonomi pertumbuhan ekonomi terus menurun ke arah resesi seperti terlihat pada pada pertumbuhan konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi serta ekspor impor bahkan pertumbuhan kuartalan terakhir minus. Setidaknya ada 5 solusi yang di tawarkan oleh didik yakni : Pertama, perbaiki kepemimpinan dalam kebijakan mengatasi covid-19 ini. Kebijakan kesehatan yang utama dan sebagai fondasi kebijakan lainnya, ekonomi, sosial, industri, dll. Kedua, perbaiki komunikasi publik dalam kebijakan, hindari kontroversi dan blunder. Jajaran pemerintah harus solid di bawah kepemimpinan yang baik. Ketiga, kepemimpinan ekonomi (economic leadership) harus diarahkan pada kebijakan fiskal yang efisien, menghindari kontroversi kebijakan yang tidak punya basis akademik (politik cetak uang, utang tidak terukur, dll). Keempat, kebijakan keamanan pangan penduduk dan Kelima, membangun infrastruktur digital, internet untuk menopang kegiatan ekonomi yang masih mungkin selama pandemi
Narasumber kedua, Aviliani mengingatkan bahwa perekonomian ekonomi di Indonesia sebelum coronapun sudah rendah ditambah dengan adanya dampak dari corona yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi mikro yang bahkan konsumsinya turun hingga -40%. Ada 7 sektor yang paling terdampak karena covid yaitu pariwisata dan turunannya, automotif, transportasi, kontruksi dan real estate, manufatur (sebagian), keuangan dan oli & gas. Dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Nasional Pemerintah membuat 3 kebijakan penanganan Covid 19 yaitu PERPU No. 1 Tahun 2020 telah menjadi UU No 2 Tahun 2020, Peraturan OJK No.11/POJK.03/2020, dan Peraturan Pemerintah No 23 tahun 2020. Dalam kondisi Pandemi ini dibutuhkan informasi yang simetrik dari para regulator, wakil rakyat, lembaga pengawas maupun para birokrat, karena masyarakat dalam posisi cukup panik baik karena penghsilan yang sedang menurun maupun keamanan dari dananya di bank atau investasi lain. Hal ini dapat mengundang persepsi negatif di masyarakat. Kondisi saat ini juga dibutuhkan kolaborasi berbagai komponen agar virus corona dapat teratasi dengan baik, dan Indonesia akan masuk pada “New Normal” karena ada perubahan yang banyak terjadi dari perilaku masyarakat dalam berkonsumsi dan berinvestasi, perilaku organisasi (perusahaan) juga akan berubah, kebijakan di negara maju telah berubah.
Sementara narasumber ketiga, Noor Hazlina Ahmad memaparkan bahwa kondisi Malaysia tidak jauh berbeda dengan kondisi Indonesia. Upaya yang dilakukan pemerintah Malaysia dengan berbagai scenario untuk membantu pemerintah dalam menghadapi covid impact, maka bisnis yang muncul adalah bisnis e-ommerce, bisnis digital workplace, strategi, planning, maka dibutuhkan kondisi new normal yang akan mempengaruhi pada bisnis baru, riset baru, dan work from home. (why)

Tags: