Pengendalian Covid-19 di Jatim, Presiden Beri Waktu Dua Minggu

Presiden RI Joko Widodo memberikan arahan secara virtual dari Gedung Negara Grahadi terkait penanganan Covid-19 di Jatim, Kamis (25/6). [humas pemprov jatim]

Pemprov, Bhirawa
Tingginya angka penularan Covid-19 di Jatim memantik perhatian serius Presiden RI Joko Widodo. Dalam kunjungannya ke Jatim, Presiden Jokowi menegaskan pentingnya sinergi dalam mengatasi persoalan ini segera. Pihaknya bahkan memberi batas waktu dua minggu agar Covid-19 di Jatim dapat dikendalikan.
“Saya minta dua minggu pengendaliannya betul-betul dilakukan bersama dan terintegrasi,” ujar Presiden di sela kunjungan kerjanya memantau percepatan penanganan Covid-19 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (25/6).
Menurut dia, seluruh unit organisasi yang dimiliki Jatim antara lain gugus tugas provinsi, gugus tugas kabupaten/kota hingga petugas di desa dan kampung harus terus berkoordinasi sekaligus bekerja bersama-sama melakukan manajemen krisis yang terukur. Presiden juga melihat bahwa kasus tertinggi ada di kawasan Surabaya Raya yang meliputi Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik sehingga menjadi daerah yang harus dikendalikan terlebih dahulu. “Tidak bisa Surabaya sendiri, Gresik sendiri atau Sidoarjo sendiri, tapi harus satu manajemen dan dilakukan kerja bersama.
Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Jatim per Rabu (24/6), total kasus terkonfirmasi positif di Kota Surabaya sebanyak 4.962 orang, pasien sembuh 1.838 orang dan kasus meninggal dunia 369 orang. Kemudian, di Kabupaten Sidoarjo kasus terkonfirmasi positifnya sebanyak 1.287 orang, pasien sembuh 207 orang dan kasus meninggal dunia 97 orang. Berikutnya di Kabupaten Gresik kasus terkonfirmasi positifnya sebanyak 534 orang, pasien sembuh 77 orang dan kasus meninggal dunia 55 orang. “Sekali lagi saya berhadap dua minggu kasus di Jatim menurun sehingga bisa masuk ke tatanan normal baru dan masyarakat beraktivitas seperti biasa,” katanya.
Jokowi juga mengingatkan, agar seluruh masyarakat di Tanah Air memiliki perasaan sama bahwa saat ini sedang menghadapi krisis kesehatan dan krisis ekonomi. “Ingat, jangan ada yang memiliki perasaan bahwa saat ini keadaannya normal-normal saja karena itu berbahaya sekali,” ujar Jokowi.
Menurut dia, krisis kesehatan dan ekonomi yang disebabkan COVID-19 tak hanya dirasakan masyarakat Indonesia, tapi juga warga di berbagai negara di dunia. “Tidak hanya di Indonesia, karena COVID-19 ini menyerang di 215 negara,” ucap Jokowi.
Orang nomor satu di Indonesia itu mengajak agar masyarakat sadar dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, mulai menggunakan masker, mencuci tangan setelah kegiatan, tidak berkerumun dan jaga jarak. “Jangan sampai ada masyarakat yang memiliki perasaan normal saja sehingga kemana-kemana tak pakai masker dan lainnya. Ini yang harus terus diingatkan,” katanya.
Jokowi juga mengaku telah mendapat informasi bahwa krisis ekonomi global adalah nyata dan banyak negara yang merasakan. IMF, kata dia, memprediksi pada tahun 2020 bahwa Amerika Serikat pertumbuhan ekonominya akan minus 8 persen, Jepang minus 5,8 persen, Inggris minus 10,2 persen, Perancis minus 12,5 persen, Italia minus 12,8 persen, Spanyol minus 12,8 persen dan Jerman minus 7,5 persen.
“Artinya apa? Permintaan, penawaran dan produksi akan terganggu. Ini harus diketahui bersama bahwa kita dalam proses mengendalikan kesehatan, tapi juga miliki masalah lain, yaitu urusan ekonomi,” katanya.
Oleh sebab itu, lanjut Presiden, dalam mengelola manajemen krisis saat ini maka rem dan gas harus seimbang. “Tidak bisa gas urusan ekonomi, tapi kesehatan terabaikan. Tidak bisa juga konsentrasi penuh urusan kesehatan, tapi ekonomi terganggu. Ini selalu saya sampaikan ke seluruh kepala daerah agar gas serta rem dikerjakan bersamaan, dan inilah sulitnya sekarang,” tuturnya.
Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa berkomitmen terus bekerja keras bersama gugus tugas maupun relawan terkait melakukan pengendalian Covid-19 agar angka kasusnya tidak semakin meningkat.
“Semoga target dua minggu dari Presiden bisa berjalan baik sehingga angka kasus positif menurun, kesembuhan meningkat dan kasus meninggal dunia semakin berkurang,” tutur Khofifah. [tam]

Tags: