Penutupan Dolly Memanas, Tujuh Jalan Ditutup

Warga Blokade Jalan Menuju Jarak dan Dolly

Warga Blokade Jalan Menuju Jarak dan Dolly

Surabaya, Bhirawa
Penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak mendapat tentangan keras. Sebanyak tujuh akses jalan menuju lokalisasi yang disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara itu, ditutup menyusul digelarnya deklarasi penutupan dua lokalisasi tersebut oleh Pemkot Surabaya, Rabu (18/6)  malam.
Koordinator Front Pekerja Lokalisasi (FPL) Saputro mengatakan penutupan jalan ini dilakukan hingga Pemkot Surabaya menunda penutupan Dolly dan Jarak. “Tujuh akses itu di antaranya, Jalan Kupang pasar burung arah ke Jalan Dukuh Kupang, Jalan Banyu Urip, Jalan Ronggowarsito, dan Jalan Kembang Kuning,” katanya.
Menurut dia, ada tujuh jalan menuju Dolly di 19 Rukun Tetangga (RT), Kelurahan Putat sengaja ditutup. Selain itu, kata dia, warga juga menghentikan seluruh aktivitas di Lokalisasi Dolly. Penutupan itu dilakukan warga sekitar lokalisasi Dolly dan Jarak mulai pukul 06.00 hingga pukul 00.00. Jalan tersebut ditutup seadanya seperti dengan menggunakan kayu, kursi, tiang bendera dan lainnya.
Untuk menunjukkan kekompakan warga sekitar lokalisasi, ratusan PSK yang menggunakan kaos Front Pekerja Lokalisasi (FPL) juga membawa peralatan dapur, seperti wajan, galon air mineral dan panci. Mereka sampai memukul peralatan dapur tersebut untuk menarik perhatian masyarakat yang lewat. Para PSK itu tidak mempedulikan panasnya matahari yang mulai menyengat kulit. Dengan memakai cadar dan topi, mereka berdiri di gang-gang secara bergerombol.
Di lain pihak dukungan untuk menutup lokalisasi Dolly-Jarak juga menguat. Ratusan masyarakat yang tergabung dalam puluhan organisasi masyarakat (ormas) berbasis Islam, melakukan sujud syukur atas penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak di Surabaya. Sujud syukur tersebut digelar di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya kemarin.
Sebelum sujud syukur dilakukan, satu persatu pimpinan ormas islam tersebut melakukan orasi mendukung penutupan Dolly dan Jarak. Kegiatan yang diikuti ratusan orang dari berbagai wilayah di Jatim ini mereka berinama tabligh akbar.
Beberapa ormas Islam yang hadir seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Hizbut Tahrir Indonesia, Front Pembela Islam hingga organisasi kemahasiswaan juga turut hadir mengikut tablig akbar ini. Mereka datang dan berkumpul di depan Gedung Grahadi, tepatnya di bawah Patung Gubernur Suryo, sekitar pukul 13.00.
Mereka datang membawa berbagai poster dan spanduk dengan berbagai tulisan terkait dukungan penutupan Dolly dan Jarak oleh Pemkot Surabaya. Salah satu tulisan spanduk itu seperti; Maju Terus Pantang Mundur Tutup Dolly, dengan background gambar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
Pada tabligh akbar penutupan lokalisasi Dolly ini juga hadir, Ketua MUI Jatim, KH Abdussomad Buchori yang memimpin sujud syukur, Ketua Ikatan Dai Area Lokalisasi (IDIAL), Sunarto dan beberapa tokoh yang lain.
Sekretaris MUI Jatim, Muhammad Yunus, dalam orasinya terus mengkondisikan massa yang datang. “Saudara-saudara mari kita segera berkumpul. Kita di sini untuk menggelar tabligh akbar penutupan lokalisasi. Jangan menginjak-injak taman, jangan membuang sampah sembarangan. Kita jaga kebersihan Kota Surabaya ini,” kata Yunus memberi instruksi.
Ketua MUI Jatim KH Abdussomad Buchori berharap semua orang yang menolak penutupan Dolly dan Jarak dibuka pintu hatinya. Sebab menolak penutupan Dolly berarti mendukung terjadinya kemaksiatan di Kota Pahlawan. “Mudah-mudahan mereka (PSK dan mucikari) diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Yang tidak setuju kita sadarkan,” katanya.
Sementara itu, suasana pelaksanaan deklarasi penutupan Dolly yang ditempatkan di Islamic Center Dukuh Kupang terasa memanas.  Terlihat ratusan petugas keamanan seperti polisi dan TNI yang sudah bersiap-siap di Islamic Center. Bahkan sebagian petugas sempat berjaga-jaga di arah dekat pintu masuk lokalisasi Dolly.
Warga setempat sempat bersitegang dengan petugas kepolisian, namun akhirnya petugas  mundur dari lokasi tersebut. Hal itu setelah Kapolsek Sawahan Kompol Manang Soebeti memberikan perintah kepada anggotanya untuk mundur agar tidak terjadi bentrok.
Seorang muncikari Wisma Permata di Gang Dolly, Ardian menolak mentah-mentah rencana pemerintah untuk menutup Gang Dolly. Menurutnya, dia menolak penutupan karena tidak ada sosialisasi sebelumnya dari pihak Pemkot Surabaya.
Dia pun menuding rencana pemerintah untuk memberi lapangan pekerjaan hanya janji-janji manis belaka. Hanya, Ardian mengaku baru mau beralih profesi sebagai muncikari jika Pemkot Surabaya mau memberinya uang banyak. “Kalau dikasih 1 miliar (rupiah), mau beralih profesi. Tetapi harus dibuktikan dulu, jangan hanya janji,” katanya enteng.
Dia menjelaskan, tidak sepatutnya pemkot menutup lokalisasi tersebut karena Dolly mampu menjadi lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Sebelumnya, Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri menggelontorkan uang senilai Rp 7,3 miliar untuk 1.493 mantan PSK Dolly. Dari uang tersebut, setiap eks PSK akan mendapatkan jatah hidup senilai Rp 5.050.000.
Menjelang deklarasi penutupan di Islamic Centre, beredar pesan berantai melalui pesan Blackberry (BBM messenger) yang disebut-sebut dikirim oleh Wali Kota Surabaya  Tri Rismaharini  yang isinya meminta agar keluarganya mengikhlaskan dia mati ketika menutup lokalisasi prostitusi Dolly dan Jarak.
Staf Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya Dessi mengakui dirinya telah menerima pesan berantai BBM yang isinya disebut-sebut dari Risma, Rabu (18/6). ”Iya, saya menerima pesan itu tadi pagi,” katanya.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Pemkot Surabaya Muhamad Fikser mengakui dirinya juga menerima pesan berantai itu. Namun Fikser dengan tegas membantah bahwa pesan tersebut benar-benar dikirim oleh Risma. ”Kata-kata dan kalimat yang ditulis Bu Risma tidak seperti di pesan itu,” ujarnya.
Fikser tidak mengetahui siapa oknum-oknum yang mengirimkan pesan berantai itu. Menurutnya, BBM itu merupakan bentuk dukungan untuk Risma yang tetap bertekad menutup Dolly, Rabu (18/6) malam nanti di Islamic Center Surabaya. Tetapi dia menegaskan, Risma selama ini selalu meminta kepada pihak-pihak yang mendukungnya agar menjaga kondusifitas dalam penutupan Dolly. Apalagi, kata Fikser, isu Dolly merupakan isu sensitif yang bisa menyinggung banyak pihak.  [dre.geh.iib]

Tags: