Perempuan Lokalisasi Layangkan Surat ke Presiden

6-dolly-nulis-suratSurabaya, Bhirawa
Warga lokalisasi Dolly dan Jarak terus melakukan gerakan penolakan penutupan kawasan prostitusi yang direncanakan oleh Pemkot Surabaya pada 18 Juni 2014 mendatang. Ribuan PSK Dolly dan Jarak, serta perwakilan dari lokalisasi yang sudah ditutup di wilayah Surabaya kembali menggelar aksi penolakan penutupan lokalisasi Dolly, Kamis (5/6).
Para PSK antusias menulis di atas kertas untuk menyuarakan suara hatinya menghadapi rencana penutupan dan menuntut keadilan pada Pemkot Surabaya. Memakai masker dan kaca mata hitam, terik matahari nampaknya tak dihiraukan oleh para PSK dalam upaya untuk memprotes  penutupan lokalisasi itu.  Rencananya surat berisi unek-unek para perempuan lokalisasi ini akan dikirimkan ke Presiden dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).
Perwakilan dari PSK, Mahesaayu mengatakan penutupan lokalisasi ini membuat perempuan kehilangan hak sosial, ekonomi, politik bahkan hak budaya. Menurutnya pelacuran atau prostitusi adalah gambaran nyata ketidak berdayaan perempuan melawan sistem kapitalis.
” Kami beserta ribuan PSK yang hadir kali ini menuliskan surat yang berisi curahan hati, unek-unek sebagai bentuk rasa kekecewaan kami terhadap penutupan lokalisasi. Biarlah ungkapan hati para PSK diketahui Bapak Presiden dan Komnas HAM ,” teriak Mahesaayu dalam orasinya di komplek Dolly, Kamis (5/6).
Salah satu pemilik wisma Harmonis di komplek Dolly, Johan memaparkan sebelum ada rencana penutupan oleh Pemkot Surabaya, dalam sebulan satu wisma mampu menghasilkan omzet sebesar Rp 60 juta. Saat ini, omset menurun menjadi Rp 30 juta dalam sebulan. Pendapatan para mucikari akan lebih tinggi lagi jika memiliki lebih dari satu wisma. Rata-rata, satu wisma berisi 10 sampai15 PSK.
” Nilai ekonomis lokalisasi tinggi. Makanya, kami menolak penutupan Dolly maupun Jarak. Lokalisasi ini sumber penghidupan bagi kami. Jangan asal ditutup, kalau pemkot ingin menyejahterakan kami dengan penutupan, kami di sini sudah jauh lebih sejahtera,” kata Johan.
Sekadar diketahui, tarif rata-rata PSK mulai dari Rp100-200 ribu untuk short time. Di Gang Dolly, jumlah wisma yang ada sebanyak 51 unit. Sedangkan jika digabung, total antara Dolly dan Jarak ada sekitar 300-an wisma.

Dukung Penutupan
Sementara itu Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Titik Haryati mendukung rencana penutupan lokalisasi Dolly oleh Pemkot Surabaya. Menurutnya aktivitas para PSK di gang Dolly mempengaruhi faktor kematangan anak.
Selain mempengaruhi faktor kematangan anak, juga mempengaruhi secara psikologis. Sebab kegiatan yang dilakukan secara terbuka di lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu membuat anak-anak bisa melihat perilaku para PSK.  “Anak-anak akan bisa meniru perilaku itu,” ujar Haryati.
Haryati tidak menampik keberadaan lokalisasi berdampak positif yaitu, secara ekonomi memberikan pemasukan terhadap masyarakat setempat, khususnya para ibu yang sudah tidak ada tanggungjawab dari suami.
Oleh karena itu, kata Haryati, Pemkot Surabaya perlu memberikan solusi setelah ditutupnya lokalisasi Dolly. Sebab, lanjut Haryati,  faktor ekonomi menjadi penyebab utama seseorang menjadi PSK.
Selain itu, Haryati juga meminta kepada pemerintah agar memperhatikan anak-anak yang selama ini hidup di lingkungan Dolly. “Pendampingan terhadap anak berupa pendidikan harus diperhatikan,” katanya.
Pendampingan terhadap anak-anak harus diarahkan kepada perilaku yang baik. Menurutnya anak-anak di lingkungan Dolly kehilangan figur  dalam memberikan pola asuh yang benar. Sebab, kata Haryati, ibunya sendiri menjadi pelaku dari kegiatan prostitusi.”Nilai-nilai spiritual juga penting diberikan kepada anak-anak,” tegas Haryati. [geh]

Tags: