Pilkada Surabaya, Pengamat: PDIP Paling Siap dan Punya Basis Massa Solid

Surabaya, Bhirawa
Hingga kini, PDI Perjuangan belum mengumumkan nama pasangan calon di Pemilihan Wali Kota Surabaya yang bakal digelar 9 Desember mendatang. Sedangkan calon lawannya, yaitu Machfud Arifin, sudah duluan mengumumkan diri dan rajin kampanye tiap hari.

Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam menilai, meski belum mengumumkan jagoannya, itu bukan berarti PDIP dinilai tak siap. Dia menyebut pengumuman pasangan calon di Pilwali Surabaya sebagai strategi untuk menghadapi Machfud Arifin yang telah memborong dukungan hampir semua partai.

”PDIP jelas sangat siap. Kalaupun PDIP berjuang sendiri melawan koalisi besar (Machfud Arifin), itu tidak jadi masalah. Tidak ada istilah koalisi gajah lawan semut di Pilwali Surabaya. Ini gajah lawan gajah,” kata Surokim Abdussalam, Sabtu (15/08/2020).

Menurut dia, wajar jika PDIP belum mengumumkan nama calonnya di Pilwali Surabaya. Toh PDIP sudah mempunyai syarat kecukupan kursi untuk mencalonkan wali kota dan wakilnya.

”Memang ini plus-minus kalau sampai saat ini PDIP belum beri rekomendasi. Plusnya, PDIP bisa menyembunyikan peta kekuatannya, yang membuat lawannya menjadi buta terhadap kekuatan dan strategi PDIP. Kan sudah terbukti, hingga sekarang Pak Machfud Arifin, belum menentukan siapa wakilnya, itu salah satunya karena menunggu calon PDIP,” lanjut Surokim.

Namun, minusnya, di masa pandemi Covid-19 ini model kampanye berbeda dibanding sebelumnya yang memungkinkan pengumpulan massa. ”Ini masa pandemi. Butuh waktu lama untuk sosialisasi karena harus benar-benar patuh protokol kesehatan,” ujarnya.

Surokim pun membeberkan, sejumlah faktor bagaimana kekuatan dan kesiapan PDIP di Pilkada Surabaya yang tidak bisa dipandang remeh.

Pertama, faktor sejerah dalam pemilu langsung, di mana PDIP selalu menang di Surabaya. ”Ini bisa mempengaruhi warga untuk memilih lagi,” ujarnya.

Kedua, karakteristik warga Kota Surabaya yang identik dengan kota perjuangan bisa digarap PDIP dengan baik. “Lihat saja, PDIP selalu mengusung jargon gotong royong. Meski pemilih di Surabaya sangat heterogen, tetapi gotong royong itu bisa masuk ke masyarakat langsung.,” lanjutnya.

Tak heran, jika PDIP punya pemilih yang solid. Rata-rata selama ini berdasarkan statistik kajian pemilu, pemilih partai yang patuh pada rekomendasi partai dalam Pilkada hanya sekitar 30-50 persen.

“Tapi, PDIP berbeda. Loyalitas orang yang memilih PDIP untuk mengikuti rekomendasi PDIP di Pilkada bisa tembus 60 persen. Apalagi, PDIP pernah mengusung calon dan menang di Surabaya, lalu dianggap sebagai sosok yang sukses membawa Surabaya, yaitu Bu Risma. Ini akan menambah kepercayaan masyakarat terhadap PDIP dan calonnya di Surabaya,” jelasnya. (iib)

Surabaya, Bhirawa
Hingga kini, PDI Perjuangan belum mengumumkan nama pasangan calon di Pemilihan Wali Kota Surabaya yang bakal digelar 9 Desember mendatang. Sedangkan calon lawannya, yaitu Machfud Arifin, sudah duluan mengumumkan diri dan rajin kampanye tiap hari.

Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam menilai, meski belum mengumumkan jagoannya, itu bukan berarti PDIP dinilai tak siap. Dia menyebut pengumuman pasangan calon di Pilwali Surabaya sebagai strategi untuk menghadapi Machfud Arifin yang telah memborong dukungan hampir semua partai.

”PDIP jelas sangat siap. Kalaupun PDIP berjuang sendiri melawan koalisi besar (Machfud Arifin), itu tidak jadi masalah. Tidak ada istilah koalisi gajah lawan semut di Pilwali Surabaya. Ini gajah lawan gajah,” kata Surokim Abdussalam, Sabtu (15/08/2020).

Menurut dia, wajar jika PDIP belum mengumumkan nama calonnya di Pilwali Surabaya. Toh PDIP sudah mempunyai syarat kecukupan kursi untuk mencalonkan wali kota dan wakilnya.

”Memang ini plus-minus kalau sampai saat ini PDIP belum beri rekomendasi. Plusnya, PDIP bisa menyembunyikan peta kekuatannya, yang membuat lawannya menjadi buta terhadap kekuatan dan strategi PDIP. Kan sudah terbukti, hingga sekarang Pak Machfud Arifin, belum menentukan siapa wakilnya, itu salah satunya karena menunggu calon PDIP,” lanjut Surokim.

Namun, minusnya, di masa pandemi Covid-19 ini model kampanye berbeda dibanding sebelumnya yang memungkinkan pengumpulan massa. ”Ini masa pandemi. Butuh waktu lama untuk sosialisasi karena harus benar-benar patuh protokol kesehatan,” ujarnya.

Surokim pun membeberkan, sejumlah faktor bagaimana kekuatan dan kesiapan PDIP di Pilkada Surabaya yang tidak bisa dipandang remeh.

Pertama, faktor sejerah dalam pemilu langsung, di mana PDIP selalu menang di Surabaya. ”Ini bisa mempengaruhi warga untuk memilih lagi,” ujarnya.

Kedua, karakteristik warga Kota Surabaya yang identik dengan kota perjuangan bisa digarap PDIP dengan baik. “Lihat saja, PDIP selalu mengusung jargon gotong royong. Meski pemilih di Surabaya sangat heterogen, tetapi gotong royong itu bisa masuk ke masyarakat langsung.,” lanjutnya.

Tak heran, jika PDIP punya pemilih yang solid. Rata-rata selama ini berdasarkan statistik kajian pemilu, pemilih partai yang patuh pada rekomendasi partai dalam Pilkada hanya sekitar 30-50 persen.

“Tapi, PDIP berbeda. Loyalitas orang yang memilih PDIP untuk mengikuti rekomendasi PDIP di Pilkada bisa tembus 60 persen. Apalagi, PDIP pernah mengusung calon dan menang di Surabaya, lalu dianggap sebagai sosok yang sukses membawa Surabaya, yaitu Bu Risma. Ini akan menambah kepercayaan masyakarat terhadap PDIP dan calonnya di Surabaya,” jelasnya. (iib)

Tags: