PMII Jatim Kritik Polri Gandeng Preman Disiplinkan Warga

Abdul Hayyi, Sekretaris Bidang Eksternal PKC PMII Jatim

Surabaya, Bhirawa
Wacana Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono mendapat respon serius dari Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Timur.
Dimana, Wakapolri menyatakan akan menggandeng “Preman Pasar” dalam membantu aparat keamanan TNI dan Polri mengawasi warga agar disiplin menjalankan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19.
“Kami minta kepada Wakapolri jangan nyeleneh dan membuat kegaduhan di tengah masyarakat”, kata Abdul Hayyi, Sekretaris Bidang Eksternal PKC PMII Jatim kepada Bhirawa, Minggu (13/9).
Pihaknya sangat menyanyangkan pernyataan orang nomor dua di tubuh Polri ini. Hayyi menanyakan mengapa institusi Polri akan menggandeng “preman pasar” sedangkan prajurit yang bisa ditempatkan di kabupaten/kota lebih dari cukup.
“Jika Polri tetap berkeinginan menggandeng preman untuk membantu mendisiplinkan masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan, berarti Polri ini tidak percaya terhadap kekuatan dirinya,” ungkap Hayyi.
“Seharusnya preman itu ditangkap mengapa justru dipekerjakan,” imbuhnya.
Pria kelahiran madura itu mengaku heran dengan wacanana yang dilempar oleh Wakapolri. Oleh karena itu, PMII Jawa Timur meminta Wakapolri, Gatot Eddy Pramono untuk membatalkan keinginananya.
“Jangan sampai kotori lembaga Polri dengan cara-cara mengandeng preman yang berpotensi membuat kekacauan dan aksi-aksi premanisme”, ujarnya.
Tidak hanya itu, Hayyi juga menilai bahwa Komjen Gatot lepas kontrol dari Wakapolri Kapolri Idham Azis. “Lagian pak gatot itukan hanya Wakapolri. Jangan lebih cepat dengan Kapolrinya dong. Lebih baik didiskusikan dengan pimpinannya,” pungkasnya.
Sebelumnya, wacana Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono akan memberdayakan preman pasar untuk membantu aparat keamanan mengawasi warga.
Harapannya, dengan cara demikian warga bisa lebih disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19.
“Kita berharap ada penegak disiplin internal di klaster pasar. Di situ kan ada jeger-jeger-nya di pasar, kita jadikan penegak disiplin,” kata Gatot di Mako Polda Metro Jaya.
Meski demikian, Gatot menjamin preman-preman tersebut bekerja tak akan di lepas begitu saja. Mereka akan tetap dipantau oleh aparat TNI dan Polri.
Dengan begitu, pelaksanaannya di lapangan tidak menyalahi aturan, sehingga mereka bisa tetap mengedepankan cara-cara yang humanis untuk menegur warga.
“Kita harapkan menerapkan disiplin tapi tetap diarahkan oleh TNI-Polri dengan cara-cara humanis,” ujarnya. [geh]

Tags: