Polda Jatim Amankan 8,4 Kilogram Sabu Jaringan Internasional

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko (tengah) menunjukkan bb sabu dibungkus kemasa teh china, Rabu (26/8). [Abednego/bhirawa]

Polda Jatim, Bhirawa
Ditresnarkoba Polda Jatim membongkar dua jaringan pengedar sabu dari Malaysia. Dari hasil ungkap kasus ini, Polisi mengamankan barang bukti sabu-sabu yang dikemas menggunakan bungkus teh herbal china, dengan total 8,4 kilogram.

“Polda Jatim mengungkap dua jaringan narkotika sekaligus. Satu jaringan dari Jakarta, dimana asalnya dari negara tetangga kita Malaysia. Sedangkan satunya jaringan di wilayah Pasuruan yang didapat dari jaringan Jakarta,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, Rabu (26/8).

Yudo menjelaskan, dari jaringan pertama petugas mengamankan satu tersangka, yakni Hari Junanto, warga Sidomulyo, Sukomanunggal, Surabaya yang tinggal Kelurahan Babat Jerawat, Pakal, Surabaya. Hari merupakan kurir dan pengedar barang haram ini.

Masih kata Yudo, untuk jaringan Jakarta petugas mendapati barang bukti 5.320 gram atau 5,3 kilogram sabu. Sementara dari jaringan kedua, petugas mengamankan dua tersangka dan barang bukti 3,1 kilogram sabu.

Kedua tersangka yakni Lugianto warga Desa Wonosunyo, Gempol Pasuruan dan Nafiin Saiful Anam warga Desa Pakel Kecamaran Bareng Jombang. Keduanya berperan sebagai kurir dan pengedar.

“Dari jaringan Pasuruan, barangnya didapat dari Jakarta. Barang buktinya yang diamankan penyidik sebanyak 3,1 kilogram. Untuk proses penyidikan ini, kita mengamankan 5,3 kilogram tambah 3,1 jadi totalnya 8,4 kilogram,” jelas Yudo.

Dari pengamanan barang bukti 8,4 kilogran sabu ini, Yudo mengaku, pihaknya bisa menyelamatkan kurang lebih sebanyak 20.000 warga Jatim dari bahaya narkoba. Sedangkan untuk modusnya, Yudo mengatakan masih menggunakan cara lama yakni dibungkus kemasan teh herbal.

“Modusnya dibungkus teh herbal dari negara tetangga, ada tulisan bahasa latin dan China, kemasan dan isinya bukan produk dari Indonesia. Karena ini berasal dari paket dari Malaysia. Setelah dijemput, mereka baru melakukan edar,” bebernya.

Pihaknya juga mengaku jaringan narkoba asal Malaysia masih banyak beredar di Jatim. Dan pintu masuk barang haram itu bisa melalui jalur darat, udara hingga laut. “Pintu masuknya sangat banyak, beberapa yang ada wilayah Surabaya, Madura dan seluruh kota dan kabupaten yang kemudian setelah diterima dari kurir didistribusi. Beberapa catatan penyidik dimapping Ditresnarkoba baik itu jaringan udara, kemudian melalui transportasi laut dan darat,” pungkasnya.

Atas perbuatan ini, para tersangka dijerat dengan Pasal 114 dan Pasal 112 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (UU Narkotika). Dengan ancaman hukuman pidana 15 tahun penjara. [bed]

Tags: