Putus Sekolah, UPT PSBR Latih 160 Anak Setahunnya

Kepala UPT PSBR Pamekasan, Pinky Hidayati

Pemprov, Bhirawa
UPT Pelayanan Sosial Bina Remaja (PSBR) Dinas Sosial Jawa Timur memiliki jumlah anak binaan sebanyak 80 orang. Mereka ini berasal dari empat kabupaten yang ada di Pulau Madura yaitu Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.
Sebanyak 80 anak binaan itu diberikan pelatihan dan ketrampilan berupa menjahit, membordir, membatik dan juga bengkel sepeda motor. Selain itu diberikan materi organisasi dan pengembangan kapasitas individu melengkapi bimbingan akhlak dan ibadah yang didampingi setiap harinya.
Kepala UPT PSBR Pamekasan, Pinky Hidayati bersyukur anak binaan yang ada di UPT-nya itu meskipun sudah putus sekolah, namun mereka tidak berkecil hati dan tetap semangat.
“Mereka (anak binaan, red) tetap semangat untuk meningkatkan ketrampilan di UPT PSBR, dengan harapan mereka bisa lulus dan menerapkan apa yang telah didapatkan selama ini,” katanya.
Pinky menjelaskan, rata – rata usia anak binaan yang masuk di UPT PSBR saat ini dari usia 18 tahun hingga 20 tahun. Sementara, syarat yang ada di UPT PSBR, usia diatas 15 tahun hingga dibawah 21 tahun.
“Untuk tingkat pendidikan variatif dan paling tinggi ada yang lulusan SMA/SMK. Tapi yang tidak bersekolah juga ada,” katanya.
Ke depan selain pendidikan dari UPT PSBR, ia berencana akan menggandeng pondok – pondok salaf. Hal ini dikarenakan banyaknya pondok salaf yang ada di Madura yang tidak ada sekolah yang ada didalamnya.
“Sehingga anak binaan akan fokus untuk ngaji. Hasilnya nanti, selain mendapatkan ilmu agama juga mendapatkan ketrampilan dari UPT PSBR, dan akhirnya bisa mandiri,” katanya.
Banyaknya anak putus sekolah di Madura juga, membuat Pinky berharap dapat meningkatkan kapasitas jumlah anak didik. Selain itu, ada tambahan ketrampilan yang disesuaikan dengan perkembangan yang ada di masyarakat, seperti service elektronik atau handphone,service AC, hingga pertukangan.
“Untuk tambahan programnya masih dalam proses pengajuan. Semoga bisa berhasil. Untuk ketrampilan elektronik, sepertinya Pak Kadinsos (Dr Alwi, red) menyetujui hal itu,” kata Pinky.
Disisi lain, Pinky juga menambahkan, biasanya anak binaan berasal dari Dinas Sosial Kabupaten setempat, karena lebih paham kantong-kantong anak yang lebih membutuhkan perhatian. Namun, UPT PSBR juga tidak menutup kemungkinan membuka pendaftaran secara mandiri, dengan catatan anak anak itu memang membutuhkan karena kondisi tidak mampu ataupun putus sekolah.
Terkini, anak binaan harus mematuhi aturan diantaranya protokol kesehatan, pada saat pandemi Covid 19 ini, dilaksanakan kegiatan sesuai protokol Covid 19. Bahkan alumni binaan juga membantu menjahit dan membordir sendiri masker mereka.
Pinky juga mengatakan, kini UPT PSBR berdiri di lahan seluas hingga 3 hektar yang terbagi menjadi dua lahan yang berseberangan jalan. Banyak lahan masih kosong dan kondisi asrama harus benar benar diperbaiki. ”Jika lahan benar – benar bisa dimanfaatkan lagi, maka diharapkan ke depan UPT PSBR bisa membantu lebih banyak klien (anak binaan, red) untuk bisa diberikan ketrampilan. Sementara di Madura, banyak anak untuk tingkat sekolahnya masih kurang. Sehingga tidak ada halangan untuk mendapatkan klien.
Untuk wilayah kerja UPT PSBR Pamekasan, lanjut Pinky, tidak hanya sebatas di empat kabupaten di Madura, tetapi juga sampai Probolinggo, Pasuruan, hingga Surabaya. Jika sarana prasarana bisa dikembangkan menampung lebih banyak klien, maka banyak target yang dicapai. Dalam setahun ada dua angkatan, setiap angkatan ada 80 anak, jadi dalam setahun kami meluluskan 160 anak.
Dalam memberikan pembinaan, menurut Pinky, yang susah mengubah kebiasaan atau habit. Karena tinggal di rumah dan di UPT PSBR tentunya berbeda. Kalau di UPT PSBR, anak tinggal bersama binaan lainnya. ”Kami tertolong karena lebih banyak didominasi dari Madura. Jika terbuka di luar Madura, mungkin perlu adaptasi lagi. Karena menyatukan berbagai macam karakter anak dengan berbagai macam problema yang ada,” katanya.
Pinky bersyukur anak – anak bisa berjumpa dan menyimak langsung nasehat Abah, sapaan akrab dari Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa TImur, Dr Alwi. ”Pesan dan nasehat dari Abah Alwi menjadi motivasi untuk merubah kehidupan mereka,” ujar Pinky.
Sebelumnya, Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Dr Alwi juga selalu menyemangati para klien UPT Pelayanan Sosial Bina Remaja (PSBR). ”Belajarlah sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita yang kalian inginkan dan jangan pelit dalam memberikan ilmu kepada orang lain, karena dengan saling berbagi ilmu, tidak akan mengurangi ilmu yang kita yang miliki, malah akan menambah ilmu kita,” ujarnya.
Remaja binaan di PSBR Pamekasan, meskipun putus sekolah namun tidak boleh patah semangat. Mereka mau menimba ilmu dan meningkatkan keterampilan di PSBR Pamekasan dengan harapan setelah lulus bisa mandiri dan berdikari.
“Ilmu adalah bekal berharga yang kita miliki. Dengan ilmu pengetahuan, kita bisa mengerti banyak hal di sekitar kita. Memakainya untuk mencari nafkah, dan meningkatkan kualitas hidup. Maka kita harus terus mencari ilmu pengetahuan dari berbagai sumber,” tutur Alwi. [rac]

Tags: