Sebanyak 382 Partisipan Ikuti Stimulasi Gerak Kecerdasan Anak

Para peserta terlihat sangat antusias mengikuti stimulasi yang digelar SDIT Insan Kamil Sidoarjo. [achmad suprayogi]

Sidoarjo, Bhirawa
Gerak untuk kecerdasan merupakan hubungan antara gerak dengan kecerdasan. Pada kenyataannya, gerak sangat menentukan atau menjadi salah satu faktor penting terhadap tingkat kecerdasan anak.
Pernyataan ini muncul dalam parenting yang diusung SD IT Insan Kamil Sidoarjo dengan tema Stimulasi Gerak Untuk Kecerdasan Anak. Parenting yang dihelat secara virtual melalui zoom meeting, pada Sabtu (12/9) lalu diikuti sebanyak 382 partisipan.
Salah satu guru SD IT Insan Kamil Sidoarjo, Anie Widiastuti SPd, jumlah peserta yang mengikuti parenting Stimulasi Gerak untuk Kecerdasan Anak ini luar biasa untuk sebuah acara tatap maya di era pandemi saat ini. Dengn narasumber Togu Pardamean atau yang akrab disapa Bang Togu.
Bang Togu pada sesi pertama menjelaskan tentang orang tua cerdas bukan jaminan anak cerdas dan bagaimana membangun rumah kecerdasan keluarga. Sesi kedua mengupas tentang pemilihan aktivitas stimulasi sesuai dengan kebutuhan.
“Pemateri menjelaskan dengan bahasa yang sederhana sehingga acara ini terasa sangat menarik untuk disimak bersama,” kata Anie.
Anie menjelaskan, menjadi orang tua ternyata tidak mudah. Namun, juga tidak sulit bila sebagai orang tua mau belajar bagaimana menjadi sebenar – benarnya orang tua.
Dalam paparannya Bang Togu menyampaikan, untuk mendidik anak laki – laki sangat berbeda dengan anak perempuan. Pendidikan orang tua terhadap anak perempuan dengan lebih menekankan pada perasaan atau menyentuh hatinya. Sementara untuk pola pendidikan pada anak laki – laki lebih ditekankan pada keteraturan dalam hal logika. Anak yang cerdas tidak hanya secara kognitif saja.
“Dikatakan cerdas apabila anak mampu mengobservasi dan memecahkan masalah sesuai tingkatan usianya. Ada yang menarik untuk dicatat saat Bang Togu memaparkan tentang filosofi anak kita. Anak yang kita didik saat ini bagaikan membangun sebuah rumah kecerdasan. Rumah itu bisa kita desain tata ruang dan interior seperti apa yang kita inginkan. Tentu saja butuh kerja sama untuk mewujudkan rumah kecerdasan sesuai yang diharapkan,” kata Anie.
Di akhir acara, Bang Togu memberikan sebuah quotes. Untuk bisa mengenali anak kita, maka kita harus mengenali diri kita terlebih dahulu. Apakah kita sudah mampu menjadi contoh yang baik bagi anak – anak. ”Jadi jangan memandang sisi kita sebagai orang tua yang memiliki otoritas di dalam rumah. Namun, lihatlah dari kaca mata si anak memiliki keterbatasan,” ujar Anie. [ach]

Tags: