SMKN 3 Boyolangu Ciptakan Pendeteksi Suhu Tubuh Otomatis

Salah seorang siswa coba alat pendeteksi suhu tubuh otomatis di gerbang lobi SMKN 3 Boyolangu, Selasa (18/8).

Tulungagung, Bhirawa
Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, tidak membuat guru dan siswa SMKN 3 Boyolangu Kabupaten Tulungagung surut langkah untuk berinovasi. Mereka justru terus berkarya dengan membuat alat detektor pendeteksi suhu tubuh otomatis.
Saat ini alat tersebut telah dipasang di gerbang lobi SMKN 3 Boyolangu bersamaan dengan wastafel otomatis hybrid yang juga mereka buat baru-baru ini. Kedua alat itu dipasang untuk mencegah penularan Covid-19 di sekolah kejuruan tersebut.
Humas SMKN 3 Boyolangu, Heni Ratmoko, Selasa (18/8), mengungkapkan alat pendeteksi tubuh otomatis dan wastafel otomatis hybrid merupakan karya terbaru dari SMKN 3 Boyolangu.
“Sebelumnya kami membuat bilik disinfektan. Bilik ini bahkan kemudian dipesan oleh Polres Tulungagung sebanyak 19 bilik,” ujarnya.
Heni Ratmoko berharap dua karya terbaru dari guru dan siswa SMKN 3 Boyolangu juga dapat diapresiasi oleh lembaga atau masyarakat dan dibuat secara massal.
“Alat pendeteksi suhu tubuh yang kami buat lebih efesien dari alat thermogun biasa. Kalau dengan thermogun bisa membutuhkan sekitar lima orang untuk mengukur suhu tubuh sebanyak 50 orang atau lebih biar cepat selesai, dengan alat yang kami ciptakan cuma butuh satu alat saja. Tidak memakai orang,” paparnya.
Bagi yang menggunakan alat pengukur suhu tubuh otomatis karya guru dan siswa SMKN 3 Boyolangu ini hanya cukup mengulurkan tangan dengan merapatkan jari atau menyorongkan dahi kepala di depan sensor akan terlihat besaran suhu tubuh di layar led. Jadi tidak perlu ada lagi alat thermogun yang dipegang oleh seseorang untuk memeriksa suhu tubuh.
“Saat ini untuk alat ini sudah banyak yang tanya-tanya. Tetapi belum ada yang pesan. Kalau harga untuk membuat alat pendeteksi tubuh otomatis ini sekitar Rp 2 jutaan. Yang mahal alat sensornya. Kami membeli secara online dari luar negeri. Dan dengan alat ini, bagi yang kedapatan bersuhu tubuh lebih dari 37,5 derajat celcius secara otomatis alatnya akan berbunyi nyaring,” papar Heni Ratmoko lagi.
Sedang untuk wastafel otomatis hybrid, lanjut dia, harganya lebih mahal lagi. Karena selain membutuhkan alat sensor, juga solar cell sebagai pengganti tenaga listrik PLN.
“Disebut hybrid karena dapat menggunakan listrik PLN dan tenaga matahari. Jadi kalau di luar ruangan bisa menggunakan sumner listrik dari matahari dan kalau di dalam ruangan menggunakan listrik PLN,” terangnya.
Cara penggunaan wastafel otomatis hybrid juga tidak lagi dengan cara menyentuh kran atau tempat sabun. Hanya dengan menyodorkan telapak tangan di depan alat sensor air dan cairan sabun akan keluar sendiri. “Kedua alat ini memang cocok untuk mencegah penularan Covid-19. Apalagi untuk cuci tangan tidak perlu tenaga memutar kran dan itu menghindari sentuhan tangan di kran,” tandas pria berkaca mata itu.
Rencananya, selain akan memperbanyak pembuatannya, kedua alat tersebut bakal dipergunakan untuk guru dan siswa SMKN 3 Boyolangu dalam pembelajaran tatap muka. Pembelajaran tatap muka di SMKN 3 Boyolangu baru akan dimulai pada Senin (24/8) minggu depan. [wed]

Tags: