12 Warga Kalibuntu Serahkan Diri Usai Jemput Paksa Pasien Covid-19

Sejumlah saksi kasus perusakan di RSUD Waluyo Jati, Kraksaan.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Kab.Probolinggo, Bhirawa
Penyelidikan kasus penjemputan paksa jenazah Covid-19 dan perusakan fasilitas RSUD Waluyo Jati, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo terus dilakukan. Jumat (22/11), Polres Probolinggo merilis 12 orang saksi yang sebelumnya menyerahkan diri ke Mapolres.

Kapolres Probolinggo AKBP Ferdy Irawan Sabtu (23/1) mengatakan, 12 orang tersebut menyerahkan diri. Mereka merupakan anak, cucu, keponakan, keluarga, dan tetangga pasien. Semuanya, merupakan warga Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan.

Meski menyerahkan diri dan mengakui kesalahannya, status mereka masih saksi dalam kasus perebutan jenazah dan berujung perusakan di RSUD Waluyo Jati, Kraksaan.

“Mereka datang ke Polres dan menyerahkan diri serta mengakui kesalahannya,” ujarnya.

Mereka juga diperiksa untuk mengetahui peran masing-masing. Penyidik juga telah mengamankan sejumlah barang bukti dari tempat kejadian perkara (TKP). Di antaranya, dua besi tralis hitam dan satu plakat bertuliskan parkir khusus ambulans.
Kemudian, ada pecahan pintu kaca, plakat bertuliskan laboratorium phatologi, sobekan kertas penunjuk ruangan di dalam rumah sakit, dan dua gembok.

“Alat bukti yang kami punya akan kami cocokkan. Nanti akan diketahui siapa yang menjadi dalang di balik kejadian itu. Selanjutnya, akan kami tetapkan sebagai tersangka,” jelas Ferdy.

Jika status saksi naik sebagai tersangka, kata Ferdy, mereka bisa disangka melanggar pasal 170 KUHP tentang Kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama. Ancaman hukumannya 5 tahun penjara. Serta, pasal 93 UU RI Nomor 6/2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Dengan ancaman hukuman 1 tahun penjara dan/atau denda Rp 100 juta.

“Kami imbau masyarakat tidak melakukan hal serupa. Kami harap ini yang terakhir,” katanya.

Diketahui, Sabtu (16/1), terjadi aksi perebutan jenazah dan menimbulkan sejumlah kerusakan di RSUD Waluyo Jati, Kraksaan. Aksi ini dilakukan oleh sejumlah warga Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan. Akibatnya, banyak fasilitas rumah sakit yang rusak dan menyebabkan kerugian jutaan rupiah. Kini kasus ini terus diselidiki oleh penyidik Polres Probolinggo.

Dari kejadian tersebut setelah melakukan tracing, Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo akhirnya melakukan tes swab pada warga Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan. Tes dilakukan karena mereka ikut aksi jemput paksa jenazah Rodiyah, 47, warga Desa Kalibuntu yang positif Covid-19 di RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Sabtu (16/1).

Setidaknya, dari 18 orang yang ikut tes swab PCR. Sebanyak 17 orang di antaranya selesai menjalani tes di kantor Desa Kalibuntu, sekira pukul 09.00.

Nuryakub, kepala Puskesmas Kraksaan mengatakan, tes swab PCR yang dilakukan kepada warga Kalibuntu tersebut sesuai dengan hasil tracing yang dilakukan pihaknya. Ia menyebutkan, tidak semua orang yang ikut aksi jemput paksa di-swab.
Sebanyak 17 warga itu diharus ikut tes swab karena mereka melakukan kontak erat dengan jenazah. Seperti tidak menggunakan masker dan berada di RSUD dalam waktu lama.

“Tracing kami lakukan dengan mendatang rumah warga di desa Kalibuntu untuk mendapatkan informasi dan juga memberikan pemahaman perihal pentingnya tes swab. Belasan warga itu semuanya adalah yang kontak erat dengan jenazah. Sebetulnya ada 18 orang yang harus dites. Namun, satu tidak hadir,” ujarnya.

Ia menjelaskan, satu orang yang tidak hadir tersebut sedang hamil. Namun begitu, warga yang tidak hadir ini nantinya akan akan dites swab PCR saat Anenatal Care (ANC). Yakni, saat pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Kraksaan.

“Kondisinya karena bawaan hamil, jadi tidak dilakukan swab. Bawaan hamil biasanya mual lalu muntah. Namun begitu, tiap Minggu kami kan ada ANC. Jadi tes akan dilakukan di sana. Sebab kami juga ada program swab PCR,” tuturnya.

Sementara itu, Koordinator Penegakan Keamanan dan Hukum Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto mengatakan, tes swab ini dilakukan guna mencegah persebaran Covid-19. Terutama setelah aksi penjemputan paksa jenazah. Sedangkan untuk hasil tes swab-nya akan diumumkan Minggu (24/1).

“Jadi, ini upaya kami untuk mencegah persebaran Covid-19. Untuk hasilnya akan diumumkan pada swab PCR kedua. Jadi, selain tes swab lagi, hasilnya akan diumumkan di sana,” tambahnya.(Wap)

Tags: