2015, Ratusan SD di Nganjuk Bakal Dimerger

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Nganjuk, Bhirawa
Pemetaan kepala sekolah dan ratusan guru  SD di lingkup Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Nganjuk berdampak bakal dimergernya 104 SD menjadi 54 SD pada  2015 mendatang. Imbasnya sekitar 250 lebih guru harus rela dimutasi ke sekolah lain.
Sesuai dengan hasil analisa yang dilakukan Disdikpora Nganjuk dengan dilakukan merger beberapa sekolah akan terjadi penghematan jumlah rombel dan tenaga guru. Saat ini, proses merger dalam tahap pemetaan terutama pemetaan kepala sekolah dan guru. Pemetaan kepala sekolah menjadi penting, karena dengan penggabungan akan terjadi pengurangan kepala sekolah. “Ada beberapa alasan sekolah harus dimerger. Di antaranya, sekolah telah kehabisan jumlah peserta didik dalam rombongan belajarnya,” terang Kepala Bidang (Kabid) TK SD PLB Disdikporada Nganjuk Sony Hardiyanto, Minggu (14/12).
Dijelaskan Sony, syarat minimal dalam satu SD adalah  60 siswa, sedangkan saat ini sejumlah SD di Nganjuk  yang berada dalam satu kompleks tidak memenuhi kuota minimal rombongan belajar. Sehingga kondisi tersebut tidak sehat secara administrasi dan tidak efektif dalam pemenuhan tenaga pendidik dan kependidikannya. “Ada seratus lebih sekolah yang akan digabung dengan sekolah terdekatnya, dikhususkan dulu untuk sekolah dalam satu kompleks yang jumlah siswanya sedikit,” terang Sony.
Sony memastikan proses merger harus selesai sebelum tahun ajaran baru 2015/1016, saat ini Disdikpora sedang menggodok dasar hukum dan rencana-rencana pengembangan setelah merger dan harus sudah tuntas sebelum tahun ajaran baru mendatang. ” Kami berharap usulan surat keputusan bupati disetujui awal 2015 nantii,” tegas Sony.
Sosialisasi terhadap sekolah yang akan dimerger sudah dilakukan sekitar dua tahun lalu. Sehingga, bila sewaktu-waktu merger dilakukan, sekolah sasaran sudah siap dan proses belajar mengajar tetap bisa berjalan lancar.
Merger sekolah, dijelaskan Sony, dimaksudkan untuk mengatur proses belajar mengajar agar efisien baik dari sisi tenaga guru maupun administrasi. “Diusahakan sebelum merger sekolah, jangan sampai menimbulkan masalah baru bagi dunia pendidikan, karena tujuannya semata-mata untuk mengatasi masalah,” ujarnya.
Menariknya, dalam satu sekolah yang dimerger nantinya bisa melaksanakan dua rombongan belajar sekaligus dengan asumsi masing-masing kelas diisi 20 siswa. Hal ini selain bermanfaat bagi sekolah, juga bagi guru sendiri karena mereka memiliki jam mengajar yang cukup sesuai dengan ketentuan. “Kalau ada guru tidak mendapat kelas atau jam mengajarnya tidak terpenuhi 24 jam per minggu bisa diatur ke sekolah lain dalam satu gugus,” ujar Sony.
Sedangkan untuk nasib kepala sekolah yang dimerger maka Disdikpora akan menempatkan ke sekolah lain yang saat ini kepala sekolahnya pensiun. “Pada 2015, banyak kepala sekolah SD yang pensiun. Jadi, tinggal mengisi posisi yang kosong itu,”pungkas Sony. [ris]

Tags: