2015, Tarif Parkir di Surabaya Naik Seratus Persen

2-gehDishub Surabaya, Bhirawa
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya berencana akan menaikkan tarif parkir tahun depan. Diperkirakan mulai  2015  tarif parkir dinaikkan seratus persen dari tarif normal saat ini. Sayangnya, meski ancang-ancang akan naik, tapi kenyataan di lapangan tarif parkir sudah naik lebih dulu.
Kepala UPTD parkir Surabaya Timur  Tranggono mengatakan, saat ini tarif parkir masih dalam tahap pengkajian dan nantinya akan masuk ke pos retribusi jasa umum. Untuk tarif parkir motor,  semula Rp 500  dinaikkan menjadi Rp 1.000.
” Seharusnya parkir di mal-mal Surabaya tarif parkirnya lebih murah, sedangkan di jalan yang harus mahal, karena melibatkan rekayasa lalin. Selama ini kalau parkir di pinggir jalan, rata-rata masyarakat menengah ke bawah, nah ini yang perlu diubah mindsetnya,” terang Tranggono saat ditemui Bhirawa di Dishub Kota Surabaya, Rabu (17/12).
Selain menaikkan tarif parkir pada 2015, Tranggono yang sebelumnya menjabat Lurah Barata Jaya ini juga akan menerapkan parkir elektronik serta manajemen parkirnya sendiri. Ketiga perubahan itu sudah selesai semua. ” Saat ini tinggal proses kajian saja, serta menunggu pembuatan aturan antara Pemkot Surabaya  dengan DPRD,” imbuhnya.
Tranggono yang menghandle 494 titik parkir wilayah timur atau 11 kecamatan ini mengakui, masih banyaknya juru parkir (jukir) yang masih membandel. Mekanismenya, masih kata Tranggono, bentuk parkir sendiri dikelola oleh Dishub dan Dispenda.
” Dishub yang mengurusi retribusi parkir, sedangkan Dispenda pajak parkirnya. Kalau retribusi parkir itu untuk TJU (tepi jalan umum) dan retribusi TKP (tempat khusus parkir). Setiap harinya setoran antara 10 juta sampai 12,6 juta perharinya di satu titik ini hari biasa,” tambahnya.
Dirinya menambahkan, radius 25 meter jalan tikungan harus bebas parkir. Tapi nyatanya dilapangan, Tranggono mengakui masih banyak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan jukir. Selain tarif parkir mencapai Rp 2000,- sampai Rp 3000,- dan banyak jukir yang tidak memiliki izin sebagai jukir.
” Juru parkir sendiri yang mendapatkan izin pasti memakai rompi, kartu anggota jukir, serta karcis resmi dari Dishub. Dan harga aslinya itu Rp 500 untuk motor dan Rp 1500 untuk mobil, kalau lebih bisa dilaporkan dan Dishub yang menilang serta tipiring,” paparnya.
Selain itu, Kepala UPTD Surabaya Utara, Zulkarnain menyatakan hal yang sama wilayah Timur. pihaknya yang menghandle kurang lebih 380 titik parkir ini mengatakan, mengingat wilayah Utara tidak terlalu banyak pusat perkantoran dan perdagangan, masih banyak jukir-jukir yang tidak sesuai tarif yang ditentukan.
” Dari pendapatan parkir, 70 persen masuk kas daerah, 20 persen untuk jukir dan 10 persen untuk koordinator jukir. Tapi jukir ini bandelnya kalau tidak ada petugas Dishub bisa menaikkan tarif parkir, kalau ada petugas pasti sesuai harga,” paparnya yang menghandle 10 Kecamatan ini.
Parkir Elektronik
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya mengkaji parkir elektronik guna menghindari kecurangan juru parkir (jukir) yang ada di kota Pahlawan.
Sekretaris Dishub Kota Surabaya, Agus Haris, mengatakan, potensi adanya kecurangan dalam tarif parkir ini karena jukir bersentuhan langsung dengan uang. Jukir akan seenaknya sendiri menentukan besaran tarif pada pengendara kendaraan.
Karena sulit dalam pengawasan terhadap jukir yang nakal, Dishub Surabay saat ini sedang mengembangkan parkir elektronik .  Pada intinya, kata Agus, sistem elektronik ini  meminta masyarakat secara mandiri membayar parkir, sementara Jukir hanya bertugas sebagai pengontrol dan penerima karcis parkir.
“Dengan electronic parking ini, pemilik kendaraan yang hendak parkir harus memasukkan sejumlah uang dalam kotak electronic. Setelah itu dari kotak tersebut akan keluar selembar kertas bukti tanda parkir. Kertas ini kemudian diserahkan pada jukir. Kemudian, kertas yang sudah dikumpulkan jukir itu akan diserahkan pada kami. Baru kemudian jukir itu kami beri semacam kompensasi,” terangnya, kepada Bhirawa, Rabu (17/12).
Agus mengakui pendapatan dari hasil parkir sangat kecil. Salah satu contoh di parkir di Taman Bungkul. Dalam sehari, taman paling ramai di Surabaya itu hanya menyetor Rp 1,2 juta  ke Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Padahal, jika dilihat secara kasat mata, pendapatan dari parkir disana jauh diatas Rp 1,2 juta. Kecilnya pendapatan tersebut karena perda menetapkan tarif Rp 500. Sedangkan jumlah yang masuk ke kantong jukir tidak ketahui besarannya berapa.
Menurut Agus, saat ini rencana pengembangan electronic parking sudah mulai diseriusi. Namun pihaknya belum dapat memastikan kapan proyek electronic parking ini akan direalisasikan.
“Jika electronic parking ini diberlakukan, maka uang parkir akan betul-betul masuk ke kas negara. Ini karena jukir sudah tidak lagi bersentuhan dengan uang,” katanya.  (geh)
Jumlah juru parkir di Surabaya 1527
Surabaya Utara dan Barat 385 juru parkir
Surabaya Selatan 650 juru parkir
Surabaya Timur 492 juru parkir

Tags: