2019, Angin Kencang Dominasi Bencana Alam di Kabupaten Probolinggo

Jalur ke Bromo longsor.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Kabupaten Probolinggo, Bhirawa

Bencana alam yang menimpa Kabupaten Probolinggo selama Januari-Desember 2019, ternyata cukup banyak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo mencatat ada 91 bencana alam. Dari jumlah itu, didominasi oleh angin kencang dan tanah longsor.

Hujan perdana dengan intensitas tinggi di kawasan pegunungan Tengger, Probolinggo, membuat jalan menuju destinasi wisata Gunung Bromo longsor. Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa itu, namun jalan tertutupi longsor sepanjang 17 meter dengan ketinggian sekitar 10 meter. Lokasi longsor di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Kalaksa BPBD Kabupaten Probolinggo, Anggit Hermanuadi, Minggu 8/12 mengatakan, pihaknya sejauh ini masih berkoordinasi dengan PUPR, sehubungan kejadian longsor tersebut. “Longsor terjadi pada pekerjaan plengsengan proyek PRIM yang baru selesai dikerjakan. Jika masih dalam masa pemeliharaan, maka perbaikannya masih merupakan tanggung jawab kontraktor,” katanya.

Sebagai upaya darurat, pihak BPBD langsung meninjau lokasi dan memasang yellow line. “Diimbau kepada masyarakat, pengunjung, wisatawan yang melalui jalur tersebut menuju Bromo, lewat Probolinggo, untuk lebih berhati-hati dan waspada,” kata Anggit.

Lebih lanjut dikatakannya dari 23 kecamatan yang pernah terjadi bencana di Kabupaten Probolinggo, angin kencang menjadi urutan teratas. “Menjelang akhir tahun, bencana angin kencang paling sering terjadi di Kabupaten Probolinggo. Ini terjadi hampir di seluruh wilayah kabupaten,” ujarnya.

Bencana tanah longsor menjadi urutan terbanyak kedua. Selama sebelas bulan ada 20 kejadian. Tanah longsor ini paling banyak terjadi di daerah dataran tinggi. “Tanah longsor bencana yang sering terjadi di dataran tinggi. Hal ini karena erosi tanah dan di sekitarnya tidak ada pepohonan atau tumbuhan yang menjadi penahan tanah, sehingga longsor,” jelasnya.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga sering terjadi di Kabupaten Probolinggo. Selama sebelas bulan, telah terjadi 14 karhutla. Jumlah ini belum termasuk kebakaran rumah dan lahan. Begitu juga dengan bencana kekeringan. Kekeringan terjadi karena terdampak musim kemarau berkepanjangan, sedangkan kebakaran hutan banyak disebabkan kecerobohan warga.

“Tahun ini memang banyak wilayah yang mengalami kesulitan air. Namun, BPBD telah mengirimkan air bersih untuk mencukupi kebutuhan air warga. Untuk kebakaran hutan mayoritas terjadi karena kecerobohan warga yang membuang puntung rokok sembarangan,” jelasnya.

Pada November dan Desember, setidaknya ada tiga bencana alam yang terjadi. Di antaranya, tanah longsor di Kecamatan Sumber akibat erosi tanah yang menyebabkan beberapa jaringan listrik roboh akibat tertimpa pohon dampak erosi. Serta, di Kecamatan Tiris yang menyebabkan pohon tumbang menimpa atap rumah warga dan di jalur Bromo itu.

Ada baiknya warga turut menjaga lingkungan serta meningkatkan kewaspadaan agar bencana bisa diminimalisasi. Kenali bahayanya dan kurangi risikonya. Bencana alam yang terjadi di lingkungan sekitar tak bisa kerap muncul tiba-tiba. Terutama saat musim pancaroba, seperti angin kencang. Di Kabupaten Probolinggo, setahun belakangan terjadi sekitar 33 bencana angin kencang yang terjadi di beberapa daerah.

Koordiantor Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bancana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo Aries mengatakan, bencana angin kencang ini menjadi perhatian serius pihaknya. Hal ini dikarenakan bencana tersebut kerap kali terjadi.

“Memang bencana angin kencang sering terjadi di Kabupaten Probolinggo. Ini tak dapat dihindari. Yang harus dilakukan adalah melakukan mitigasi risiko bencana agar segala kemungkinan terburuk dari sebuah bencana bisa diminimalisasi,” jelasnya.

Selama kurun waktu Januari hingga Oktober, ada sekitar 19 kecamatan yang pernah terjadi bencana angin kencang. Dari beberapa wilayah tersebut, Kecamatan Lumbang terjadi 5 kali bencana angin kencang, kemudian Kecamatan Sumber, Sukapura, Gending, dan Paiton terjadi bencana angin kencang sebanyak 3 kali.

“Daerah tersebut merupakan kawasan rawan angin kencang, oleh karena itu kerap kali kami melakukan sosialisasi tentang tanggap bencana, terkait dengan upaya yang harus dilakukan oleh masyarakat sekitar agar tidak terjadi kepanikan,” tuturnya.

Pihaknya juga menyarankan ketika ada pohon yang kondisinya sudah rimbun dan kanyunya mulai rapuh, disarankan untuk dilakukan penebangan. Agar pohon tersebut jika diterpa angin kencang dapat bertahan, sehingga tidak roboh mengenai bangunan sekitar.

“Pohon yang sudah berpotensi roboh, sebaiknya dilakukan pemangkasan atau kalau perlu dilakukan penebangan, bencana itu tidak bisa diterka kapan datangnya. Masyarakat hanya bisa berjaga-jaga dan meminimalisasi kemungkinan yang bisa terjadi. Jangan sampai ada kerusakan apalagi jatuhnya korban jiwa,” tambah Aries.(Wap)

 

 

Tags: