54 Guru SD Kelas Rangkap Dilatih Numerasi

Pelatih beri arahan pada guru SD tentang numerasi. [wiwit agus pribadi]

Dilakukan untuk Mengatasi Kekurangan Guru di Kaki Gunung Bromo
Probolinggo, Bhirawa
Sebanyak 54 orang guru SD dari 18 lembaga SD multigrade di Kabupaten Probolinggo mendapatkan pelatihan numerasi dari Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo, Senin hingga Rabu (23 hingga 25/11).
Pelatiha digelar di ruang pertemuan SDN Semampir 1 Kecamatan Kraksaan ini, 18 lembaga SD rangkap ini berasal dari 9 kecamatan meliputi Kecamatan Kotaanyar, Besuk, Paiton, Pakuniran, Kraksaan, Pajarakan, Krejengan, Gading dan Krucil. Dimana masing-masing kecamatan mengirim tiga orang guru.
Pelatihan menghadirkan narasumber dari Tim Inovasi terdiri dari guru SDN Ngadisari 1, Kepala SDN Ngadisari 2 dan dua orang guru dari SDN Sukapura 3 Kecamatan Sukapura. Materi yang diberikan berupa pemahaman konsep Matematika serta pola dan pola bilangan.
Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo, Fathur Rozi melalui Kepala Bidang Pembinaan SD Sri Agus Indariyati, Senin (23/11) mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan ketrampilan kepada para guru yang mempunyai kemampuan bagaimana cara cepat belajar Matematika agar anak didik menjadi senang. Sebab ini merupakan kelas yang khusus.
“Kini di Kabupaten Probolinggo terdapat 616 lembaga SD. Dari jumlah tersebut, 91 lembaga sudah menjadi sekolah multigrade berdasarkan Surat Keputusan Bupati Probolinggo. Hari ini baru 18 lembaga yang diberikan kesempatan mengikuti pelatihan numerasi,” katanya.
Menurut Sri Agus, SD kelas rangkap berbeda dengan sekolah pada umumnya. Karena dalam sekolah multigrde, dalam satu kelas yang berisi siswa dengan tingkat kelas yang berbeda. Artinya, seorang guru mengajar dua kelas dalam satu ruangan. Selanjutnya, guru yang berkembang ini akan memegang kelas rangkap.
“Karena memang pembelajaran kelas rangkap itu berbeda dengan yang lain. Harapannya mereka mampu menguasai materi yang diberikan narasumber yang bisa diterapkan pada saat proses pembelajaran di lembaganya masing-masing,” tuturnya.
Lebih lanjut dikatakannya, seperti Kecamatan Sukapura adalah salah satu wilayah di Kabupaten Probolinggo yang terkenal sebagai destinasi wisata dunia. Di kecamatan inilah maskot wisata Provinsi Jawa Timur, yaitu Gunung Bromo, menjulang indah. Tidak mudah untuk mencapai lokasi kecamatan ini. Letak geografis yang berada di Pegunungan Tengger membuat beberapa tempat di wilayah ini memiliki tingkat kesulitan akses yang cukup menantang. Kondisi inilah yang menyebabkan beberapa sekolah hanya memiliki jumlah siswa kurang dari 55 anak, mulai dari kelas I sampai kelas VI.
Data jumlah peserta didik sekolah dasar di Kecamatan Sukapura (2018) mengungkap, dari 21 SD yang tersebar di empat gugus, terdapat delapan sekolah yang memiliki jumlah peserta didik antara 42 sampai dengan 52 anak. Hanya satu gugus yang jumlah siswanya mencapai di atas 55 orang anak per sekolahnya, yaitu Gugus 04 yang terdiri atas SDN Pakel I, SDN Pakel II, SDN Kedasih I, dan SDN Kedasih II yang memiliki jumlah peserta didik antara 80 hingga 111 anak per sekolahnya.
Berdasarkan kondisi ini, Tim Inovasi berkerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo membentuk Gugus Multigrade atau Gugus Kelas Rangkap bagi sekolah dasar di Kecamatan Sukapura, yang jumlah peserta didiknya kurang dari 55 anak per sekolah. Sekolah dengan kelas rangkap ini mempunyai kelas yang muridnya terdiri atas siswa dengan tingkat kelas, usia, dan kemampuan yang berbeda dalam satu kelas.
Kelas yang digabungkan disesuaikan dengan tema yang memang bisa digabungkan. Menurut Suyitno, Pengawas Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo, sebelum melaksanakan multigrade/kelas rangkap, guru harus melakukan bedah kurikulum untuk menentukan tema yang bisa digabungkan dalam satu kelas, tetapi dengan beban materi yang berbeda.
Contoh konkretnya gugus dengan jumlah peserta didik kurang dari 55 anak per sekolah akan menerapkan kelas rangkap. Caranya, dengan menggabungkan dua kelas atau lebih yang berurutan menjadi satu kelas, misalnya kelas 1 dan kelas 2. Setelah bergabung dalam kelas yang sama, mereka akan mendapat pembelajaran tematik, paparnya.
Meskipun tema yang diberikan sama, misalnya Masyarakat Lokal, namun masing-masing kelompok siswa akan mendapatkan kegiatan yang berbeda. Dengan cara ini, hasil atau sasaran pembelajaran yang didapatkan oleh siswa tetap sesuai dengan tingkatan kompetensinya masing -masing.
Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo menyambut baik program Gugus Multigrade ini. Mereka berharap, program ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan memaksimalkan potensi setempat, baik potensi guru, siswa, maupun sarana prasarana.
“Jika Gugus Multigrade di Kecamatan Sukapura ini berhasil, maka akan dijadikan model pelaksanaan multigrade di seluruh sekolah di Kabupaten Probolinggo yang memiliki jumlah peserta didik kurang dari 50 anak,” tambahnya. [wap]

Tags: