6 Orang Jadi Tersangka Kredit PNS Fiktif Rp 12 M

Kajari Undang Mugopal didampingi Kasi Pidsus Nusrin dan Kasi Intel Hartono saat memberikan penjelasan.

Kajari Undang Mugopal didampingi Kasi Pidsus Nusrin dan Kasi Intel Hartono saat memberikan penjelasan.

Sidoarjo, Bhirawa
Setelah melakukan pengumpulan data dan pengumpulan beberapa keterangan (Puldata dan Pulbaket), Kejaksaan Negeri Sidoarjo telah mendapatkan alat bukti untuk menetapkan 6 orang sebagai tersangka. Keenam orang ini diduga terlibat pemberian fasilitas kredit fiktif oleh bank BUMD milik Pemkab Sidoarjo, PT BPR Bank Delta Artha senilai Rp 12  miliar lebih.
Enam orang tersebut adalah Muchammad Amin selaku Direktur Utama pada 2006 s/d April 2012. Ratna Wahyuningsih selaku Direktur Utama pada 2012 s/d 2014 Bank PT BPR Delta Artha Pusat Sidoarjo. Luluk Frida Ishaq selaku Bendahara UPTD Cabdin Pendidikan Tanggulangin. Munawaroh selaku Kepala SDN Gagang Panjang Kecamatan Tanggulangin. Atik Munziati/guru TK Kalidawir Tanggulangin  dan Yunita D  dari pihak swasta yang membantu Luluk dalam proses pembuatan SK PNS palsu.
Menurut Kepala Kejaksaan Negeri Sioarjo Undang Mugopal SH kasus dugaan pemberian kredit fiktif ini sudah berjalan mulai 2007. Tetapi yang mengalami kemacetan di BPR Bank Delta Artha terjadi pada kurun waktu  2010 hingga 2014. Pemohon kredit  tercatat sebanyak 92 orang yang pengurusannya  secara kolektif melalui UPTD Cabdin Pendidikan Tanggulangin dengan pinjaman sebesar Rp 12.120.260.333.
Kronologi kejadiannya, pada 2010 tersangka Luluk bersama Munawaroh dan Yunita mengajukan permohonan kredit PNS secara fiktif ke Bank PT BPR Delta Artha dengan cara memalsukan identitas pemohon, dan dokumen kelengkapan kredit lainnya sebanyak 92 berkas dengan nilai uang sebesar Rp 12.120.260.333.
Dalam pelaksanaannya tersangka Muchammad Amin dan Ratna Wahyuningsih melanggar prinsip kehati-hatian bank selaku pemutus kredit. “Keduanya telah menyetujui permohonan kredit tersebut tanpa melakukan survei ke lapangan,” jelasnya.
Peran Muchammad mulai 2010 hingga 2012 telah merealisasikan kredit fiktif kepada 14 pemohon dengan nilai sekitar Rp 2 miliar lebih,  dari pengajuan Luluk dan kawan-kawannya. Untuk Ratna mulai 2012 hingga 2014 telah merealisasikan kredit fiktif sebanyak 78 pemohon dengan nilai sebesar Rp 9 miliar,  juga dari pengajuan tersangka Luluk dan kawan-kawannya.
Sementara peran Luluk memberikan garansi kepada pihak bank dengan identitas palsu. Jadi seolah-olah pemohon kredit adalah PNS, ketika dilakukan konfirmasi per telepon oleh pihak bank. Karena saat pengajuan kredit selalu didampingi tersangka Luluk sehingga pihak bank bertindak ceroboh alias tanpa melakukan verifikasi secara langsung terhadap keabsahan dokumen maupun ke instansi terkait. “Langsung saja memproses pengajuan kredit tersebut,” tegasnya.
Di sisi lain tersangka Munawaroh mempunyai tugas membantu Luluk dengan menandatangani setiap permohonan kredit yang mengatasnamakan PNS di SDN Gagang Panjang. Jadi, seolah-olah permohonan kredit adalah berasal dari SDN tersebut. Padahal PNS-PNS yang namanya tercantum dalam perjanjian kredit tersebut tidak pernah merasa mengajukan permohonan kreditnya. “Begitu juga untuk peran Atik, selaku pihak yang direkrut oleh tersangka Luluk tugasnya untuk membantu Luluk dengan menandatangani setiap permohonan kredit fiktif dan menyiapkan orang-orang yang akan menerima pencairan kredit,” jelas Kajari Undang Mugopal yang didampingi Kasi Pidsus Nusrin SH  dan Kasi Intel Hartono  SH.
Pihak kejaksaan hingga saat ini terus melakukan pengembangan lebih lanjut, karena diduga masih banyak orang-orang yang terlibat. Dengan ditetapkan tersangka sekarang ini, diharapkan nantinya pelaku utama Luluk ini bisa memberikan keterangan lebih lanjut. Kemana saja anggaran yang telah dikeluarkan, dibagikan ke siapa saja. Karena ada dugaan anggaran sebesar Rp 12 miliar lebih itu, 80 persen dimainkan atau diatur oleh Luluk sendiri. “Makanya tunggu perkembangan selanjutnya, begitu juga mengenai bank-bank lain yang terlibat juga akan kita selidiki lebih lanjut,” tambah Kasi Pidsus Nusrin. [ach]

Tags: