85 Persen Siswa ABK Terlambat Masuk Sekolah Luar Biasa

Kunjungan mahasiswa luar negeri ke SLB Negeri Gedangan sebelum terjadinya pandemi Covid 19. [achmad suprayogi]

Sidoarjo, Bhirawa
Masih banyak orang tua yang belum paham mendidik anaknya, khususnya ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Akibatnya ABK ini rata – rata terlambat memasukan ke sekolah, hampir 85% terlambat, usia 7 tahun baru dibawa ke SLB (Sekolah Luar Biasa). Padahal yang terbaik itu sejak usia dini.
Menurut Kepala SLB Negeri Gedangan Sidoarjo, Miseri MPd, dalam mengelola pendidikan ABK ini sangat melibatkan peran penting orang tua dan semua pihak, termasuk harus melibatkan psikolog, para medis. Namun yang paling utama harus ada kesepakatan orang tua.
Misalnya, terkait dengan intelektual dan perkembangan perilaku anak, memang perlu psikolog dan psikiater. Bisa juga melibatkan medis, terutama yang memilik gangguan penglihatan, pendengaran, gangguan fisik, begitu juga untuk anak-anak autis.
“Jadi di dalam mengelola anak – anak SLB ini, memang harus ada sinergi yang sangat luar biasa. Dan itu harus dimulai dengan interfensi sejak dini,” jelas Miseri, Senin (1/2) kemarin.
Miseri menjelaskan, menangani ABK jangan sampai terlambat, kondisi itulah yang sangat diperlukan oleh masyarakat. Mayoritas mereka datang ke sekolah sudah terlambat. Sudah usia di atas 7 tahun. Sehingga problematikanya menjadi semakin berat, kondisi anak sudah terlambat, kemudian juga tidak pernah dibawa ke medis, ke psikolog, bahkan banyak yang disembunyikan, rata – rata 85% terlambat dibawa ke SLB.
Dengan kondisi ini, ketika dimasukkan sekolah, para guru harus bekerja sangat berat. Karena harus betul – betul berjuang dalam segala hal. Itulah problem terbesar dalam mengelola ABK. Sangat jarang sekali masuk SLB itu yang pada usia PAUD atau TK. Padahal SLB sudah menyiapkan layanan untuk PAUD dan TK LB.
“Inilah mengapa banyak proses pendidikan ABK hasilnya kurang maksimal. Karena kesadaran orang tua dan pemahaman orang tua melakukan pembinaan, pendidikan layanan kepada anaknya itu sering terlambat, akibat ketidaktauhannya. Makanya, tugas kami yang selalu mengedukasi, menyampaikan pemahaman kepada orang tua juga kepada pihak terkait,” terang Miseri.
Diantaranya kerjasama dengan Puskesmas setempat, dengan kolompok-kelompok Posyandu. Harus terus disampaikan, jangan sampai terlambat, jangan sampai disembunyikan, karena itu merupakan entry point atau modal utama yang sangat penting dalam pendidikan ABK.
Prosesnya harus sejak dini setelah ini dikembangkan, berikutnya memulai kemampuan dasarnya. Kondisi ini harus runtut, bakat minatnya juga harus dikembangkan, apapun potensinya. Jangan lupa pendidikan karakternya dan literasinya, terakhir adalah Vokasi, kemampuan untuk bekerja juga harus dipersiapkan.
Tantangan terberat SLB juga pada fasilitas dan Sumber Daya Manusia dalam hal ini guru yang memang masih terbatas. Belum lagi akses yang keluar, bekerjasama sama dengan dunia industri, masih sangat butuh dukungan dan support dari pemerintah.
“Jadi Layanan paska pendidikan di SLB itu juga sangat penting sekali untuk diperhatikan, agar mereka bisa bekerja, menghidupi dirinya di masa depan. Pemerintah Propinsi Jatim sudah memberikan banyak support, namun kami berharap bisa terus ditingkatkan agar layanannya bisa maksimal,” harap Miseri. [ach]

Tags: