Ada Persyaratan Khusus, Baru 8 SMK Ikuti Program Fast Track

Siswa SMKN 3 Boyolangu melakukan pembelajaran praktik di bengkel mesin, Senin (10/1). [wiwieko]

Kuota Awal Hanya 60 Kursi
Surabaya, Bhirawa
Program Diploma 2 Jalur Cepat (D2 Fast Track) akan dilaksanakan tahun ini. Lebih tepatnya, program akan berjalan pada tahun ajaran baru mendatang. Namun karena ada sejumlah persyaratan khusus , saat inibaru 8 SMK yang mengikuti program ini.
Di Surabaya, baru Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) yang menjalin kerjasama dengan 8 SMK dan Industri di Jawa Timur untuk realisasi program tersebut. Dengan fokus jurusan Teknik Pengelasan Kapal. Kerjasama juga dilakukan dengan 6 DUDI di bidang tersebut. Di tahap awal, 60 kuota disediakan bagi calon mahasiswa.
Ketua Jurusan Teknik Bangunan Kapal PPNS, Ruddianto mengungkapkan saat ini baru 8 SMK negeri/swasta yang menjalin kerjasama pelaksanaan program. Hal ini lantaran, tidak seluruh SMK memenuhi syarat khusus yang diberikan. Delapan SMK tersebut diantaranya, SMK Teknik PAL Surabaya, SMKN 3 Buduran, SMKN 1 Jetis Mojokerto, SMKN 2 Lamongan, SMKN 1 Jenangan Ponorogo, SMKN 1 Pungging Mojokerto.
“Tidak semua SMK yang kita lihat dan nilai memenuhi persyaratan. Karena dari hasil sosialisasi beberapa waktu yang lalu, kita juga sempat menganalisa, diskusi dan menggali data sekolah, termasuk sarana prasarana dan sdm nya. Dari 16 SMK ini, memang baru 8 yang kerjasama dengan kami,” ujar dia, Kamis (13/1).
Dibentuknya kerjasama ini, lanjut dia, tak kepas dari persyaratan khusus dalam pelaksanaan program. Diantaranya, nilai akademik, uji sertifikasi yang dimiliki siswa dan program RPL sekolah. Sehingga bagi sekolah yang akan meluluskan siswanya, bisa menyiapkan persyaratan tersebut.
Tak hanya itu, selain melampirkan sertifikasi profesi, tim assesor juga dapat mengecek kemampuan siswa jika penguji meragukan sertifikasi.
“Jadi ada persyaratan minimal menguasai 12 sks baru bisa diakui (terkait program RPL), misalnya praktek pengelasan, teori pengelasan dan persyaratan dari magang industri, nanti baru kita akui (lolos program D2 Fast Track),” sambungnya.
Dalam program D2 Jalur Cepat ini, mahasiswa dapat menempuh pendidikan di pendidikan tinggi vokasi dalam waktu tiga semester atau 1,5 tahun dengan total beban kredit minimum sebesar 72 SKS. Calon mahasiswa dapat menyetarakan sertifikasi kompetensi/keahlian yang dimiliki sejak duduk di bangku SMK sebagai kredit perkuliahan melalui mekanisme Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Dijelaskan Ruddianto, program D2 Fast Track akan terdiri dari tiga semester. Pada semester awal calon mahasiswa melakukan pembelajaran di kampus, selanjutnya semester delapan dan sembilan magang di industri baik dalam atau luar negeri yang bekerjasama dengan kampus terkait.
“Normalnya D2 ini kan ada 4 semester. Karena ada percepatan 3 semester sehingga ada batasan penyelesaian sks per semesternya, di D2 minimal 72 sks. Kalau ditempuh 3 semester tidak memungkinkan. Jadi kami gunakan program RPL yang ditentukan, sehingga menjadi persyaratan minimal bagi SMK yang mengikuti jalur ini,” jabarnya.
Dikatakan Ruddianto, animo siswa terhadap program D2 Fast Track cukup besar. Karenanya, salah satu syarat utama lolos program ini adalah minimal mempunyai kemampuan dibidang las. Utamanya, calon mahasiswa mampu mengelas dengan posisi 3g (teknik penyambungan vertical down-vertical up). Ini ditunjukkan dengan bukti sertifikasi kompetensi untuk posisi pengelasan. Jika tidak memenuhi persyaratan, maka tidak bisa mengikuti program fast track.
“Antusiasnya cukup tinggi ya. Karena saat ini lulusan SMK paling banyak peluangnya ke teknisi. Berbeda dengan melanjutkan ke D2 peluang karirnya cukup tinggi. Jika punya ijazah D2 cukup melanjutkan D4 lewat program RPL,” tuturnya.
Ia menambahkan, model RPL yang dimaksud adalah pengakuan dari tim assesor. Pengakuan tersebut meliputi pelatihan yang diikuti siswa, dan sertifikasi profesi dari LSP sekolah. “Jadi nanti ada tim asesor untuk menilai. Karena ini akan kita konversikan ke matkul. Jadi kalau ada matkul yang diakui jumlah sks berkurang, melalui RPL ini bisa diselesaikan 3 semester,” tandasnya .
Salah satu sekolah yang mengikuti program ini adalah SMKN 3 Buduran, Sidoarjo. Bahkan pihaknya mengaku hampir seluruh siswa jurusan Teknik Pengelasan Kapal antuasias mengikuti program tersebut.
“Total siswa kami ada 106 siswa dari seluruh tingkatan, 34 siswa diantaranya kelas 12 dan hampir seluruhnya mengikuti program ini. Hanya saja kami masih menunggu proses seleksi dilakukan. Karena ada tes atau prasyarat yang harus dipenuhi siswa,” kata Kepala SMKN 3 Buduran, Eko Budi Agus Priatna.
Eko berharap, dari program Fast Track dapat terbangun dan dikembangkan sinergitas dan kerjasama dengan politeknik.
Program D2 Fast Track rupanya tidak bisa diikuti seluruh SMK. Hal ini karena ketersediaan jurusan sekolah dengan jurusan perguruan tinggi vokasi yang tidak selaras. Salah satunya SMKN 12 Surabaya. Sebagai sekolah seni terbesar di Jawa Timur, Kepala SMKN 12 Surabaya, Biwara Sakti Pracihara mengaku cukup kesulitan menggandeng perguruan tinggi vokasi yang memiliki jurusan selaras dengan jurusan disekolahnya. Karenanya, untuk tahun ini pihaknya belum bisa melaksanakan program D2 Fast Track.
Meski begitu, sebagai SMK PK yang dibina Universitas Brawijaya (UB) Malang pihaknya menyiapkan beberapa jurusan untuk dilakukan kerjasama dalam program Fast Track.
“Dalam SMK PK yang dibina oleh UB, kami kerjasamakan untuk jurusan animasi, DKV dan interior. Rencana saya, dari tiga jurusan ini akan saya buat fast track dengan UB. Ini masih penjajakan dalam semester ini. Sehingga tahun ajaran baru mendatang bisa terwujud,” jelasnya. [ina.gat]

Tags: