Adaptasi Kebiasaan Baru, Ubaya Redesign Tempat Wisata

Beberapa pengunjung terlihat memberi sapi di Edu Evo Agrowisata IOC Ubaya yang merupakan alternatif wisata edukasi dan konservasi alam.

Peluncuran Awal Edu Eco Agrowisata IOC
Mojokerto, Bhirawa
Edu Eco Agrowisata de-Farm Intagrated Outdoor Campus (IOC) Universitas Surabaya (Ubaya) mulai dibuka untuk umum dengan menyesuaikan adaptasi kebiasaan baru. Pembukaan ini ditandai dengan penandatangan prasasti dan pengguntingan pita oleh Panglima Kodam (Pangdam) V Brawijaya, Mayjen TNI Widodo Iryansyah, S.Sos., M.M. bersama Direktur IOC Ubaya Traning Center (UTC), Prof. Joniarto Parung Kampus Ubaya III, IOC UTC, Trawas, Mojokerto.
Program Edu Eco Agrowisata de-Farm IOC Ubaya akan dibuka mulai Sabtu, 17 Oktober 2020, setiap Sabtu dan Minggu pukul 09.00 – 17.00 WIB ini.
Direktur IOC UTC Ubaya, Prof. Joniarto Parung mengungkapkan memasuki era adaptasi kebiasaan baru, kampus III Ubaya telah mempersiapkan berbagai destinasi wisata bagi kedatangan pengunjung tanpa mengabaikan protokol kesehatan. Tidak hanya dinikmati oleh mahasiswa, alumni, atau karyawan Ubaya saja, tetapi juga terbuka untuk umum setiap hari
“Sebelumnya pengunjung mayoritas dalam kelompok atau rombongan dan didampingi oleh dosen/staf sebagai trainer. Sekarang disetiap destinasi telah diberikan papan informasi sehingga pengunjung dapat menikmati pemandangan alam dan belajar secara mandiri. Pengunjung juga dapat berkeliling menikmati keanekaragaman tanaman yang diproduksi dan disediakan di IOC seperti salak, cokelat, kelengkeng, durian, dan sebagainya,” ungkap pria yang juga Ketua Edu Eco Agrowisata.
Merebaknya Covid-19 membuat aktivitas Edu Eco Agrowisata sempat berhenti pada pertengahan Maret 2020 sampai akhir Juni 2020. Karenanya, Prof. Joni merasa perlu melakukan adaptasi agar bisa menerima pengunjung serta mendapat penghasilan kembali dari kegiatan Edu Eco Agrowisata. Adaptasi yang dilakukan oleh tim Ubaya adalah mendesain ulang lokasi wisata sesuai dengan kebiasaan baru (new normal).
“Kami lakukan tahapan desain ulang yang dilakukan tim Ubaya dengan memanfaatkan dana hibah Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) dari Kementerian Riset/Badan Riset dan Inovasi Nasional. Ada empat tahapan desain ulang yaitu discover, define, develop, dan deliver,” ujar dia.
Prof Joni, menjelaskan untuk tahapan pertama discover, pihaknya mencari alternatif model penawaran paket secara tepat yang memugkinkan pengunjung tidak saling berinteraksi mengingat pemberlakukan protokol kesehatan. Kedua tahapan define, menganalisis setiap alternatif secara detail dengan mengkaitkan kondisi nyata yang dimiliki oleh Edu Eco Agrowisata de-Farm IOC Ubaya.
“Dengan memanfaatkan lahan yang belum termanfaatkan secara optimal untuk ditanami sayuran organik serta membuka lokasi Edu Eco Agrowisata untuk kunjungan perorangan atau keluarga tanpa pelatihan, merupakan dua alternatif yang paling memungkinkan untuk dijalankan,” jelasnya
Lebih lanjut, tahap ketiga develop menciptakan pengembangan program hingga melakukan simulasi dan evaluasi seperti pada tanaman sayur organik. Pada tahap ini pula dikembangkan sistem penyampaian informasi yang efektif kepada calon pengunjung, yang diawali dengan penetapan target pasar utama.
Terakhir, tahap deliver dengan membuat time schedule untuk mengeksekusi kedua alternatif yang feasible. Sementara itu, Panglima Kodam V Brawijaya Mayjen TNI Widodo Iryansyah, S.Sos., M.M berharap Edu Eco Agriwisata de-Farm Intagrated Outdoor Campus (IOC) Ubaya bisa dikembangkan terus. Ia menilai tempat wosata edukasi tersebut sebagai aset untuk untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ke depan.
“Di museum ini menceritakan bagaimana leluhur yang hidup disekitar gunung penanggungan. Dari sini kearifan lokal jadi ciri khas kehidupan. Sehingga ini yang bisa menjadi daya tarik masyarakat umum,” ujar dia. [ina]

Tags: