Administrasi Nikah On-line

Nikah_OnlinePEMERINTAH Kota Surabaya mulai meng-inisiasi kemudahan administrasi menikah. Yakni, melalui proses on-line, khusus untuk penduduk beragama non-muslim. Namun sebenarnya, pencatatan nikah on-line juga bisa dilaksanakan oleh KUA (dibawahkan Kementerian Agama, untuk penduduk muslim). Tinggal political will, karena pencatatan dokumen merupakan hak setiap warga negara yang dijamin undang-undang.
Berdasarkan UUNomor  24 tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan (Perubahan terhadap UU Nomor 23 tahun 2006), dinyatakan kewajiban pemerintah. Tidak tanggung-tanggung, kewajiban pemerintah bukan sekadar diatur dalam norma (batang tubuh) UU. Melainkan diatur dalam klausul “menimbang.” Artinya, kewajiban pemerintah itu diakui secara filosofis (melekat sejak awal) sebagai amanat UUD. Termasuk di dalamnya administrasi pernikahan.
Dalam klausul menimbang huruf a, dinyatakan, ” …pada hakikatnya berkewajiban  memberikan perlindungan dan pengakuan terhadap penentuan status pribadi dan status hukum atas setiap Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialami oleh Penduduk dan/atau Warga Negara… .” Selanjutnya, klausul menimbang juga dipertagas dalam batang tubuh (pasal-pasal) UU Nomor 24 tahun 2013.
Diantaranya pada pasal 8 ayat (1) huruf a, yakni, mendaftar Peristiwa Kependudukan dan mencatat Peristiwa Penting. Pada pasal 8 ayat (2) secara tekstual dituliskan, “Kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a untuk pencatatan nikah,  talak, cerai, dan rujuk bagi Penduduk yang beragama Islam pada tingkat kecamatan dilakukan oleh pegawai pencatat pada KUA Kecamatan.” Terdapat frasa kata “kewajiban” pada pasal tersebut merupakan perintah, bahwa pemerintah harus berinovasi untuk kemudahan dan kelancaran.
Kenyataannya, proses administrasi menikah tidak mudah dan terasa mahal. Karena itu inovasi Pemerintah Kota Surabaya patut diapresiasi dan dilakukan oleh Pemkan dan Pemkot lainnya. Dengan pengurusan administrasi secara on-line, masyarakat tidak perlu mondar-mandir beberapa kali ke kantor Catatan Sipil. Cukup sekali untuk mengembalikan formulir data. Sedangkan proses ritual menikah secara agama merupakan domain tokoh agama.
Tetapi seharusnya, bukan hanya untuk proses nikah di kantor Catatan Sipil (untuk warga non-muslim). Sebenarnya menikah untuk warga muslim bisa pula dilakukan secara on-line. Toh di tingkat warga (kampung, dusun dan ke-RW-an) terdapat mudin sebagai pembantu pencatat nikah. Dengan demikian pengantin tidak perlu datang ke KUA. Lebih lagi proses akad nikah di KUA sungguh-sungguh tidak perlu.
Berdasar UU Kependudukan, akta nikah merupakan dokumen kependudukan. Sehingga akta nikah wajib diterbitkan lebih cepat, mudah dan lebih murah. Memang tidak sederhana, karena ber-implikasi pada hak waris dan nasib (dan nasab) anak yang dilahirkan. Namun beberapa perbaikan administrasi nikah telah dilakukan. Antaralain oleh MK (Mahkamah Konstitusi), dan Mahkamah Agung (MA) terhadap uji materi UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.
Persyaratan nikah berdasarkan syariat agama adalah: adanya mempelai (laki dan perempuan yang berakal sehat), akad, wali, mahar dan saksi (dua orang laki-laki). Manakala sudah dipenuhi seluruh persyaratan tersebut, suatu pernikahan dianggap sah, walau tidak tercatat di KUA. Anak yang dilahirkan pun adalah anak sah, bukan anak haram. Di Indonesia, boleh jadi terdapat ribuan anak yang terancam kehilangan hak keperdataan, untuk dinafkahi maupun menerima waris.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga tak sepakat dengan sebutan anak haram maupun, karena kaidah agama mengajarkan setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Beda antara syar’i dengan UU Perkawinan adalah pencatatanya di KUA. Yang sudah dicatat di kua disebut “resmi.” Sedangkan pernikahan menurut syar’i adalah dipenuhinya syarat dan rukun nikah disebut  “syah,” dan menjadi bernilai ibadah.
Karena menikah merupakan ibadah, maka mempermudah ke-administrasi-an pernikahan juga merupakan ibadah yang dilakukan oleh pemerintah!

                                                                                                    —————- 000 —————–

Rate this article!
Tags: