Agar Lebih Berkualitas, Lakukan Pendampingan Intensif Petani Kopi Bondowoso

Saat dilakukannya pendampingan kepada para petani kopi yang tergabung LMDH Argo Santoso asal Desa Curahpoh. (Ihsan Kholil/Bhirawa)

Bondowoso, Bhirawa
Para petani kopi asal Desa Curahpoh Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso yang tergabung dalam LMDH Argo Santoso, belum melakukan penanganan pascapanen kopi dengan baik. Hal itu dikarenakan kopi yang dibudidayakan di lereng Pegunungan Argopuro belum banyak mendapatkan pendampingan.

Sehingga kopi lereng pegunungan Argopuro kualitasnya kurang baik. Untuk itu, para petani kopi tersebut dilakukan pendampingan secara insentif. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Ketua tim pendamping, Ir Bambang Kusmanadhi, M.Sc, saat dikonfirmasi, Sabtu (21/11). “Sehingga kami bersama Tim Dosen PS Ilmu Pertanian, Faperta, Unej Kampus Bondowoso ingin membina petani Kopi Curahpoh supaya dapat melakukan penanganan pascapanen kopi dengan baik,” katanya.

Menurutnya, panen buah kopi yang baik adalah panen buah kopi yang sehat, bernas dan petik merah kopi merah. Kopi merah memiliki mutu fisik biji dan citarasa paling baik. Bahan baku yang baik dengan pengolahan kopi yang baik maka akan memunculkan citarasa kopi.

Kata dia, pada tahap awal pada, 14 Oktober 2020 waktu lalu pihaknya memberikan sosialisasi penen kopi yang baik. Dalam pelaksanaannya, sosialisasi tersebut tetap menerapkan protokol keamanan Covid 19. Dari hasil sampling, pihaknya melihat kualitas panen di beberapa petani kopi Curahpoh. “Yaitu buah merah hanya 41,7 persen dan 58,3 persen buah hijau dan jelek atau busuk. Jelas hal ini yang menyebabkan kualitas kopi Curahpoh tidak baik,” jelasnya.

Ia pun menerangkan, bahwa terdapat dua cara pengolahan buah kopi, yakni pengolahan cara kering dan pengolahan cara basah. Pengolahan basah akan menghasilkan kualitas kopi yang lebih baik. Petani kopi Curahpoh saat ini semuanya melakukan pengolahan kopi kering.

Tak cukup itu, petani juga memanfaatkan mesin penggilingan padi, hal ini dalam proses pemisahan kuliat buah dan kulit tanduk kopi untuk menghasilkan biji Oce Kopi. Namun, jika mesin tidak sesuai dengan spesifikasi maka dapat menyebabkan banyaknya biji Oce Kopi yang pecah.

“Tanggal 18 Nopember 2020, kami mengajak petani kopi Curahpoh untuk mengenalkan beberapa peralatan mesin olah kopi di Laboratorium Teknologi Panen dan Pasca Panen Kopi, PS Ilmu Pertanian, Faperta, Unej Kampus Bondowoso. Kegiatan ini juga tetap menerapkan protokol keamanan Covid 19,” terangnya.

Adapun peralatan yang dikenalkan yaitu mesin Pulper, Washer, Huller, Roasting dan Grinder Kopi. Pada kesempatan tersebut pihaknya juga memberikan contoh tentang pemisahan kulit buah dan kulit tanduk kopi dengan menggunakan Huller.

Hasilnya, Biji Oce Kopi lebih baik dan tidak banyak yang pecah. “Itu juga dibenarkan oleh petani kopi yang mengikuti kegiatan. Sedikit sekali yang pecah bijinya. Kalau pakai mesin penggilingan padi banyak sekali yang pecah,” pungkasnya.[san]

Tags: