Aiko, Siswi SD Limas Surabaya Masuk 50 Besar Penulis Cerpen Terbaik Lomba Nasional

Alexandra Aiko Ramadhani dan Wakil Kepala SD Muhammadiyah 15 Surabaya menunjukkan penghargaan dan Buku Antologi Cerpen berjudul Berbenah yang berisi tulisan karya 50 Penulis Cerpen Terbaik Lomba Tingkat Nasional. [trie diana]

Surabaya, Bhirawa
Siswa SD Muhammadiyah 15 (SD Limas) Mastrip Surabaya, Alexandra Aiko Ramadhani berbakat dalam menulis Cerpen (Cerita Pendek). Siswi kelas VI ini telah menjuarai berbagai lomba menulis Cerpen baik tingkat lokal maupun nasional. Terakhir Aiko-sapaan akrab gadis berwajah cantik ini masuk dalam 50 besar penulis Cerpen Terbaik Lomba Tingkat Nasional, sehingga tulisannya berjudul Penghafal Quran masuk dalam Antologi Cerpen berjudul Berbenah bersama 49 penulis terbaik lainnya.
Menurut Wakil Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 15, Ustadz Ali Shodiqin, selama masa pandemi Covid 19 ini di SD Limas ada literasi in home yakni literasi di rumah, jadi secara otomatis pengembangan minat dan bakat tetap berjalan sesuai program sekolah, terutama literasi bagi para siswa. Dan ada dukungan dari orang tua ketika putra putrinya melaksanakan program literasi, sehingga program sekolah ini bisa sesuai dengan keinginan orang tua.Sebab saat belajar literasi di rumah ternyata orang tua juga memberikan dukungan.
Ternyata, jelas Ustadz Ali-sapaan akrabnya,selama pandemi Covid 19 ini ada hikmahnya yakni antara orang tua dan sekolah ada sinergi, dimana sebelum ada pandemi Program Literasi hanya dilaksanakan di sekolah saja dan orang tua tidak tahu minat bakat yang dimiliki anak – anaknya. Jadi pihak sekolah tidak hanya sekedar mengembangkan sifatnya numerik saja, atau kinestetik saja tetapi juga mengembangkan kemampuan dalam hal bahasa dalam hal ini Bahasa Indonesia.
“Setelah para siswa mempunyai literasi atau catatan di rumah hasilnya disampaikan pada wali kelas masing – masing, sehingga ketika ada lomba yang pengumumannya melalui media sosial di masa pandemi ini. Maka pengumuman lomba menulis Cerpen Tingkat Nasional itu ditangkap dan sesuai program sekolah maka siswa yang berbakat dan berprestasi diikutkan lomba. Dan kebetulan siswa kami bernama Aiko diikutkan dalam dalam lomba tingkat nasional dan masuk 50 besar penulis cerpen terbaik tingkat nasional. Sehingga Cerpen tulisan Aiko masuk dalam antologi 50 Cerpen Terbaik Lomba Tingkat Nasional dengan judul Berbenah, antara lain penulisnya Wa Ode Hasrana Mizana Iskak dan Hartantry Satyyaningrum,” jelas Ustadz Ali.
Dan saat ini, kata Ustadz Ali, Aiko juga mengikuti lomba menulis Cerpen tingkat Kota Surabaya. Bahkan untuk memperdalam kemampuan menulisnya, Aiko juga telah mengikuti pelatihan menulis yang digelar Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Untuk lomba menulis Cerpen tingkat Kota Surabaya ini Aiko telah lolos babak penyisihan dan kini memasuki tahap final. ”Ya meskipun lomba yang digelar ini waktunya berhimpitan, tetapi Aiko ini senang menulis sehingga tidak ada kendala ketika harus mengirimkan materi untuk lomba selanjutnya. Harapannya, Aiko bisa meraih juara seperti pada lomba tingkat nasional,” tandas Ustadz Ali.
Sementara itu, kepada Bhirawa Aiko mengaku mulai senang menulis sejak kelas III, setelah sering membaca Cerpen Anak. Dan suka membaca berita tentang Bencana Alam atau membaca tulisan tentang kuliner. Sedangkan untuk persiapan lomba Aiko lebih banyak membaca buku novel anak – anak, juga membaca Majalah Limas (Majalah Sekolah, red) yang memberitakan tentang outbond yang digelar sekolah atau tulisan yang memberitakan tentang prestasi para siswa SD Limas.
Ketika ditanya, dalam lomba yang digelar Dinas Pendidikan Kota Surabaya beberapa waktu lalu menulis Cerpen berjudul apa. Aiko menjelaskan, pada babak penyisihan menulis Cerpen Berjudul Cerita Di Balik Pandemi, yang menceritakan sosok siswa SD bernama Febi yang bingung apa yang harus dikerjakan di masa pandemi karena para siswa tidak boleh ke sekolah. Akhirnya, Febi belajar menulis dan mengikuti lomba menulis hingga akhirnya berhasil meraih juara. Sedangkan materi tulisan pada babak final berjudul Air Mata Penuh Makna, yang menceritakan dua bersaudara dengan tokoh utama Ara. Ara yang ayahnya di PHK karena dampak Pandemi Covid 19, juga ikut bingung karena ayah menganggur hingga tiga bulan, hingga Ara mempunyai Ide untuk jualan jajan di pasar dan dititipkan di warung. Namun Ara mengusulkan untuk jualan secara online, hingga jualan onlinenya berhasil dan mempunyai delapan karyawan setelah mempunyai banyak cabang. Bahkan bisa umroh sekeluarga dan mengajak para karyawannya ikut umroh bareng.
“Saya ingin menjadi penulis novel handal, seperti Boy Chandra dan Genta Kiswara,” ujar putri pasangan suami istri, Arie Kuspriyanto dan Sutantri Ermawanthy, ketika ditanya cita – citanya.
Sedangkan ayah Aiko, Arie Kuspriyanto menjelaskan, setelah mengikuti Daring dari para ustadz – ustadzah di sekolah. Putri kedua dari tiga bersaudara ini lebih banyak membaca buku novel anak kemudian membuat tulisan, dan mengumpulkan cerita. Dalam menulis Cerpen, Aiko banyak mendapatkan bimbingan dari tantenya yang juga penulis dan masuk dalam 50 Penulis Cerpen Terbaik Lomba Tingkat Nasional yakni Hartantry Satyyaningrum. [fen]

Tags: