Ajarkan Pendidikan Bencana Lewat Cerita Bergambar dan Rescue Board

Dosen Psikologi Ubaya, Listyo Yuwanto dan Bonifasia Steffeny Tania mengajarkan cara bermain rescue board dan cerita bergambar tentang pendidikan mitigasia.

Surabaya, Bhirawa
Pendidikan mitigasi bencana menjadi penting diajarkan sejak dini. Untuk mempermudah memahami hal ini, Kelompok Studi Psikologi Bencana Universitas Surabaya (KSPB Ubaya) mengembangkan media pembelajaran bencana melalui cerita bergambar dan rescue board.
Menurut Dosen Psikologi Ubaya, Listyo Yuwanto, media pembelajaran ini mencakup beragam aspek. Mulai dari pengenalan tentang potensi bencana yang ada di sekitar, histori bencana yang pernah terjadi, bentuk antisipasi, peningkatan kesadaran dengan tanda – tanda dan dampaknya serta cara penanganan hingga bagaimana cara menyelamatkan diri dari bencana.
“Semua aspek ini dirangkum dan dikemas menjadi lebih mudah dipahami untuk pendidikan bencana bagi anak – anak dalam bentuk cerita bergambar dan rescue board,” ujar Listyo yang juga Koordinator KSPB Ubaya.
Listyo menjelaskan, melalui pendidikan bencana juga dapat meningkatan tanggung jawab, partisipasi, kemampuan antisipasi dan penanganan bencana dapat dicapai bersama – sama.
Maka Listyo bersama dengan Gina Amalia Anggari dan Ellyata Gracesihlah Setiawan selaku mahasiswa Fakultas Psikologi Ubaya yang tergabung dalam KSPB Ubaya merancang media pembelajaran bencana untuk anak – anak melalui cerita bergambar. Terdapat tiga judul buku cerita bergambar yang dibuat yaitu Kancil dan Bencana Gempa Bumi, Tikus yang Sadar Tanah Longsor, serta Ikan dan Katak Siaga Banjir.
Listyo menjelaskan, tokoh binatang dalam cerita bergambar dipilih untuk membatu imajinasi dan mempermudah pemahaman anak – anak tentang isi cerita yang ingin disampaikan. Hal itu disebabkan karena dunia anak – anak selalu diwarnai dengan dunia binatang yang disenanginya.
Sehingga dalam setiap cerita anak, binatang dipahami sebagai manusia yang memiliki sifat tertentu. Kemudian buku cerita bergambar ini dibuat dengan gambar ilustrasi yang menarik, disertai penjelasan tentang penyebab dan cara mengurangi dampak bencana, yang dikemas dalam cerita kehidupan sehari – hari melalui tokoh binatang. Bahasa yang digunakan juga mudah untuk dibaca dan dipahami anak – anak.
“Buku cerita bergambar ini dapat digunakan untuk anak usia Sekolah Dasar (SD) karena sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif, yaitu operasional konkret dan formal operasional. Sedangkan untuk anak usia dini dapat digunakan dengan cara dibacakan oleh orang tua atau guru sebagai pendamping. Secara ideal penggunaan buku cerita bergambar ini dilakukan dengan adanya pendamping sehingga dapat terjadi diskusi interaktif antara anak dan pendamping,” terangnya.
Anak – anak juga dapat mensimulasikan cara melindungi diri saat terjadi bencana dengan memainkan rescue board. Rescue board merupakan permainan yang mengajarkan kepada setiap pemain, bagaimana cara mempraktikkan siaga bencana gunung meletus, kebakaran, banjir, tanah longsor, dan gempa bumi. Setelah mencoba permainan ini maka pemain akan menambah wawasan atau pengetahuan mengenai mitigasi bencana. Rescue board menerapkan metode pembelajaran dengan gaya belajar visual, read, dan kinesthetic.
“Buku cerita bergambar yang diterbitkan tidak bertujuan komersial, tetapi dibagikan gratis ke sekolah – sekolah ataupun masyarakat umum bersamaan dengan simulasi siaga bencana yang dilakukan KSPB Ubaya sebagai bentuk pengabdian masyarakat,” kata Listyo.
Bonifasia Steffeny Tania sebagai perwakilan mahasiswa KSPB Ubaya yang memiliki pengalaman menggunakan rescue board mengungkapkan. Rescue board ini sangat berguna sebagai pendekatan pengenalan awal kepada anak – anak mengenai sikap siaga bencana.
“Belajarpun menjadi lebih menyenangkan karena dikemas dalam permainan interaktif,” tutup Fenny, sapaan akrab mahasiswa Fakultas Psikologi Ubaya semester IV ini. [ina]

Tags: