Akhiri Polemik, Jatim Gagas Rembuk Pendidikan Nasional

15-kurikulum-2013DPRD Jatim, Bhirawa
Pro kontra kelanjutan pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13), pasca Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah menghentikan K-13 dan kembali ke Kurikulum 2006, nampaknya disikapi serius oleh Pemprov Jatim. Bahkan Wagub Jatim Drs H Saifullah Yusuf menggagas perlunya rembuk pendidikan nasional
“Jatim siap menjadi tuan rumah rembuk pendidikan nasional dengan menghadirkan seluruh stake holder pendidikan. Bahkan kalau perlu kita undang Anis Baswedan maupun M Nuh,” ujar pria yang juga menjabat Ketua PBNU, Minggu (14/12).
Diakui Gus Ipul panggilan akrab Saifullah Yusuf, rembuk pendidikan nasional ini diperlukan supaya sekolah tak menjadi korban kebijakan pemerintah yang dinilai terlalu gegabah. “Karena itu harusnya solusi pro kontra ini dikembalikan pada pihak sekolah. Caranya sekolah bisa mengajukan surat ke pemerintah melalui Dinas Pendidikan setempat,” imbuhnya
Terpisah, anggota Komisi E DPRD Jatim M Eksan menuturkan bahwa persoalan kurikulum hendaknya dikembalikan pada pelaksananya. “Dalam persoalan proses belajar mengajar guru merupakan key person. Bila, tugas dan tanggungjawab terlalu fokus untuk menyiapkan administrasi mengajar, bukan justru pada proses belajar mengajar, maka prosesnya tidak akan maksimal,” ujarnya
Lebih jauh, Ketua DPC NasDem Jember ini menyatakan bahwa implementasi kurikulum sangat bergantung pada kesiapan guru. Dalam konteks pelaksanaan K-13 dengan segala kelebihan dan kekurangannya, para guru sudah semestinya siap atau tidak siap, harus siap. “Ini tuntutan profesionalisme.¬† Dunia ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Media pembelajaran juga berkembang bersamaan dengan revolusi informasi dan komunikasi. Guru harus mengikuti perkembangan yang ada. Tentu sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing,” jelas Eksan.
Ia juga sependapat dengan LP Ma’arif Jatim yang meminta izin kepada Menteri Pendidikan untuk tetap melaksanakan Kurikulum 2013. “Begitulah seharusnya, lembaga-lembaga pendidikan lain, juga harus siap. Ini konsekuensi logis dari peningkatan kesejahteraan guru melalui program sertifikasi, insentif dan seterusnya,” urai Eksan.
Karena itu, Eksan menyayangkan keputusan Menteri¬† Anies Baswedan, yang menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 dengan terburu-buru. “Hanya melihat ketidaksiapan para guru. Tanpa terlebih dahulu meningkatkan Diklat Kurikulum 2013. Keputusan Anies ini setback, dan tak mencerminkan gagasan kebaruan dan pembaharuan yang selalu digulirkannya selama ini,” tambah politisi asal Jember
Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Jatim Zainudin Maliki mengakui bahwa kurikulum 2013 (K-13) dari segi tujuan memang bagus karena mampu mengantarkan siswa didik memiliki multi intelegensia, bukan hanya cerdas kognitif tapi juga psikomotor dan afektif, sehingga pengajaran pembelajaran harus dibuat kompatibel. “K-13 siswa dituntut harus aktif dan pembelajaran kontekstual sehingga layak untuk diteruskan,” ujarnya
Namun dari segi mata pelajaran, kata Zainudin terlalu banyak sehingga menyebabkan pembelajaran siswa aktif tak intensif. Apalagi rasio siswa terlalu banyak dan pembelajaran tak selesai di kelas karena harus otentik, tapi jangan mengurangi subtansi mata pelajaran. “Selain itu, rumusan kompetensi dasar masih banyak yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik, sehingga harus ditinjau ulang supaya disesuaikan,” bebernya
Menurut Zainudin, bagusnya masalah pendidikan itu desentralisasi, mengingat sudah ada UU No 23 Tahun 2014 supaya masing-masing daerah memiliki kearifan lokal. Yang terpenting, pendidikan itu jangan hanya bergantung pada kurikulum tapi pada minat siswa. Dan perubahan kurikulum jangan berbasis proyek tapi kompetensi. [cty]

Tags: