Akroma Hadi, Mahasiwa Unair Pemilik Kebun Bunga Matahari

Kebun bunga matahari milik Akroma Hadi, pemuda asal Dusun Bulurejo, Desa Kepuhrejo, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. [arif yulianto]

Tak Hanya Dijual Biji, Tapi Dijadikan Obyek Wisata dan Didaftarkan di Google Maps
Kab Jombang, Bhirawa
Jika tekun melakukan sesuatu, pasti akan bisa sukses. Contohnya seperti yang dilakukan Akroma Hadi, yang menanam bunga matarahi di lahan sawah miliknya. Dengan tanaman ini, pemuda 22 tahun kini mendapat keuntungan berlipat. Selain untung karena menjual biji bunga matahari, lahan yang ditanami bunga matahari juga bisa menjadi daya tarik wisata.
Pemuda asal Dusun Bulurejo, Desa Kepuhrejo, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang menanam bunga matahari di atas lahan sawahnya seluas 150 meter persegi di desanya yang terletak di lereng Gunung Pucangan.
Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Jurusan Aqua Kultur, Perikanan, Semester VI ini mengaku, ide awal menanam kebun bunga matahari berasal dari dirinya sendiri yang menilai daerahnya cukup memiki potensi untuk wisata. “Bisa menarik orang luar untuk mengenal daerah saya, Desa Kepuhrejo,” ujarnya, Sabtu (29/2).
Meski begitu, ide untuk menjadikan daerahnya sebagai daerah wisata khususnya terkait kebun bunga matahari ini juga tak lepas dari kabar adanya warga dari Nganjuk yang mencari biji bunga matahari. “Saya lihat dari grup komunitas tanaman buah dalam pot, dia itu mencari biji bunga matahari,” sambung Hadi.
Setelahnya, warga Nganjuk tersebut sempat memesan kepada Hadi biji bunga matahari seberat dua kilogram, sehingga Hadi pun menanam pohon bunga matahari meskipun belum dalam jumlah yang banyak dan hasil bijinya dikirimkan ke warga Nganjuk tersebut. “Saya kirim ke dia, lalu dia pesan lagi dalam jumlah banyak,” ucap Hadi.
Hadi memaparkan, jika dalam partai besar, harga jual biji bunga matahari di pasaran bisa mencapai harga Rp32 ribu hingga Rp35 ribu. Namun jika dalam partai kecil dengan biji yang dijual seberat satu kilogram dengan pemasaran model online, bisa dijualnya dengan harga Rp80 ribu per kilogramnya.
Dengan luas lahan bunga matahari yang dimiliki Hadi saat ini, ia bisa panen biji bunga matahari seberat sekitar satu kwintal dalam sekali panen dan dengan total masa panen hingga habis, sekitar dua kali panen.
Hadi mengaku menghabiskan sekitar Rp500 ribu untuk biaya perawatan bunga matahari seluas 150 meter persegi. Namun, biaya itu belum termasuk tenaga pribadi yang tidak dihitungnya. Jika ditotal dengan tenaga pribadi, maka pengeluaran untuk merawat kebun bunga matahari yang dikeluarkan Hadi sekitar Rp1juta.
Selain sebagai usaha di bidang pertanian, Hadi juga berencana akan membuka kebun bunga matahari miliknya sebagai wahana wisata. Aspek yang ditonjolkan yakni dari sisi estetika bunga matahari dengan lahan yang akan diperluas lagi.
“Saya akan buat banyak spot foto nanti. Rencana tahun depan akan saya jual bibitnya juga dari benih yang dipolibag, dan belajar menanam bunga matahari, kami akan ajarkan untuk tahun depan,” tutur Hadi.
Tahun depan Hadi berencana akan memperluas tanaman bunga matahari tiga kali dari luas lahan kebun bunganya saat ini. Hadi mengaku masih banyak sisi-sisi yang masih perlu dibenahi jika kebun bunga mataharinya benar-benar dibuka sebagai wahana wisata, seperti pada tempat beristirahat pengunjung, aspek tempat konsumsi, dan serta kamar mandi dan tempat parkir pengunjung hingga penunjuk arah ke arah kebun bunga mataharinya.
“Ini sudah mulai saya ajukan di ‘google maps’, jadi kebun bunga matahari sudah saya ‘update’ di ‘google maps’, Insya Alloh satu minggu sudah ada di ‘google maps’,” terang dia.
Kebun bunga matahari milik Hadi ini diketahui juga sudah di ‘posting’ di sejumlah grup media sosial di Kabupaten Jombang. Saat Bhirawa ke lokasi, Sabtu (29/2), beberapa pengunjung sudah mulai datang. Salah satu pengunjung mengaku mengetahui lokasi tersebut dari Face Book sehari sebelumnya.
“Tadi habis senam, langsung ke sini,” kata Etik Anita, salah satu pengunjung, warga Desa Sumber Teguh, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang yang mengaku melihat lokasi untuk rencana gowes bersama rekan-rekannya esok harinya.
Sesampai di lokasi, Etik menilai, jika kebun bunga matahari tersebut terletak di luar, mungkin pengunjung seperti dia lebih bisa menikmati. “Ini kan masuk di dalam sawah. Jadi orang masuk, nggak tahu lokasi. Kecuali sudah ada petunjuknya kan lebih enak. (Perlu dibuatkan) petunjuk, arah jalan masuk,” pungkas Etik. [arif yulianto]

Tags: