Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas di Jawa Timur

Refleksi Hari Gizi Nasional ke-62, 25 Januari 2022

Oleh :
Andriyanto
Staf Ahli Gubernur Jawa Timur dan
Ketua PP Asosiasi Nutrisionis Indonesia (AsNI).

Hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021 tercatat angka kejadian atau prevalensi Stunting Provinsi Jawa Timur sebesar 23,5%; lebih rendah dari Nasional yang sebesar 24,4% dan turun dari angka 26,9 di tahun 2019. Penurunan ini merupakan prestasi Jawa Timur mengingat masih ada 20 Provinsi yang prevalensi stuntingnya di atas rata-rata Nasional. Bahkan untuk prevalensi wasted (kurus) pada balita di Provinsi Jawa Timur hanya 6,4% di bawah Nasional sebesar 7,1%. Namun, masih sangat diperlukan analisis lebih lanjut untuk melihat faktor determinan yang paling berkorelasi terhadap perbaikan status gizi, hingga ke tingkat kabupaten/kota, terutama pada Kota Surabaya (27,4%); Sumenep (29,0%); Lumajang (30,1%); Bondowoso (37,0%); Pamekasan (38,7%); dan Bangkalan (38,9%).

Stunting

Gambaran tingginya prevalensi Stunting di Indonesia ini menunjukkan masalah kesehatan yang cukup serius. Stunting merupakan tragedi yang tersembunyi. Stunting terjadi karena dampak kekurangan gizi kronis selama 1.000 hari pertama kehidupan. Kerusakan yang terjadi mengakibatkan perkembangan anak yang irreversible (tidak bisa diubah), anak tersebut tidak akan pernah mempelajari atau mendapatkan sebanyak yang dia bisa (Balitbangkes, 2015).

Hal ini dipertegas oleh World Bank dan UNICEF bahwa Stunting menggambarkan kegagalan pertumbuhan yang terjadi dalam jangka waktu lama, dan dihubungkan dengan penurunan kapasitas fisik dan psikis, penurunan pertumbuhan fisik, dan pencapaian di bidang pendidikan rendah. (The World Bank, 2010; UNICEF).

Studi-studi saat ini menunjukkan bahwa anak Stunting sangat berhubungan dengan prestasi pendidikan yang buruk, lama pendidikan yang turun dan pendapatan yang rendah sebagai orang dewasa. Anak-anak Stunting menghadapi kemungkinan yang lebih besar untuk tumbuh menjadi dewasa yang kurang pendidikan, kurang sehat dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular. Oleh karena itu, anak stunting merupakan prediktor buruknya kualitas sumber daya manusia yang diterima secara luas, yang selanjutnya menurunkan kemampuan produktif suatu bangsa di masa akan datang.

Stunting, berdampak dalam bentuk kurang optimalnya kualitas manusia, baik diukur dari kemampuan mencapai tingkat pendidikan yang tinggi, rendahnya daya saing, rentannya terhadap penyakit tidak menular (kanker, jantung, DM, gagal ginjal, dan lain-lain), yang semuanya bermuara pada menurunnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Dengan kata lain Stunting dapat memiskinkan masyarakat. Suatu yang menggembirakan bahwa berbagai masalah tersebut diatas bukan disebabkan terutama oleh faktor genetik yang tidak dapat diperbaiki seperti diduga oleh sebagian masyarakat, melainkan oleh karena faktor lingkungan hidup yang dapat diperbaiki dengan fokus pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Kompleksitas masalah gizi yang sampai saat ini masih diderita oleh sebagian masyarakat Indonesia terjadi bukan disebabkan hanya oleh satu dua faktor seperti faktor daya beli dan kebiasaan makan masyarakat, akan tetapi disebabkan oleh banyak faktor baik yang bersifat makro maupun mikro. Akibatnya, jelas akan menjadikan masyarakat menjadi tidak sehat dan tidak cerdas dalam menaungi kehidupannya, yang pada gilirannya akan menjadi beban Pemerintah. Dengan demikian, dikatakan bahwa masalah stunting bersifat multidimensi menyangkut kemiskinan, ketidaktahuan, gaya hidup, sosial budaya dan bahkan politik.

Obesitas

Stunting juga meningkatkan risiko obesitas, karena orang dengan tubuh pendek berat badan idealnya juga rendah. Kenaikan berat badan beberapa kilogram saja bisa menjadikan Indeks Masa Tubuh (IMT) orang tersebut naik melebihi batas normal. Keadaan gemuk dan obesitas yang terus berlangsung lama akan meningkatan risiko kejadian penyakit degeneratif, seperti penyakit kencing manis; hipertensi; gagal ginjal; kanker; dan lainnya.

Hasil riset kesehatan dasar tahun 2018, kasus obesitas pada dewasa sebesar 21,8% miningkat dari 14,8% di tahun 2013. Angka kejadian hipertensi dari hasil Riskesdas tersebut sebesar 34,1%; gagal ginjal kronis 3%; Diabetes Mellitus 8,5%; Stroke 10,9 per mil, yang semuanya meningkat dari tahun 2013.

Obesitas adalah penumpukan lemak yang berlebih atau abnormal yang dapat mengganggu kesehatan. Peningkatan obesitas banyak disebabkan kurangnya aktivitas fisik dan keadaan klinis yang meningkatkan risiko peningkatan berat badan. Selama Pandemi, aktivitas masyarakat yang dibatasi dapat berdampak pada penurunan aktivitas fisik. Penurunan status ekonomi juga dapat meningkatkan risiko obesitas. Hal ini disebabkan karena bahan makanan yang terjangkau sebagian besar mengandung karbohidrat dan lemak (minyak) yang tinggi sehingga meningkatkan risiko kegemukan.

Banyak yang berpendapat bahwa ukuran fisik, termasuk tubuh pendek, gemuk dan beberapa penyakit tertentu khususnya Penyakit Tidak Menular disebabkan terutama oleh faktor genetik. Dengan demikian ada anggapan tidak banyak yang dapat dilakukan untuk memperbaiki atau mengubahnya. Namun berbagai bukti ilmiah dari banyak penelitian dari lembaga riset gizi dan kesehatan terbaik di dunia telah mengubah paradigma tersebut. Ternyata tubuh pendek, gemuk, dan beberapa indikator kualitas hidup lainnya, faktor penyebab terpenting adalah lingkungan hidup sejak konsepsi sampai anak usia 2 tahun yang dapat dirubah dan diperbaiki.

Aksi Bersama

Pencegahan dan penanganan stunting menjadi salah satu prioritas nasional guna mewujudkan cita-cita bersama yaitu menciptakan manusia Indonesia yang tinggi, sehat, cerdas, dan berkualitas. Intervensi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, sejak kehamilan sampai anak berusia 2 tahun sebuah keharusan. Namun, upaya pencegahan dan penanganan ini tidak bisa dilakukan oleh hanya Pemerintah, dalam hal ini Dinas Kesehatan, semata. Peran dari Masyarakat; Perguruan Tinggi; Media; dan Dunia Usaha turut andil juga. Penanganan Stunting haruslah holistik, integratif dan spasial (spesifik daerah). Aksi bersama mencegah Stunting sejatinya harus digalang.

Dalam membantu upaya penanganan stunting dan obesitas, tenaga kesehatan khususnya Nutrisionis dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang anjuran pemenuhan gizi. Mulai dari memberikan informasi bahan makanan, cara pengolahan, pola konsumsi, dengan semaksimal mungkin menggunakan bahan makanan bernilai gizi baik dan terjangkau. Gizi seimbang artinya makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan memerhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih, dan berat badan (BB) ideal.

Selain itu, masyarakat juga perlu terus dimotivasi untuk mengusahakan penyediaan dan konsumsi makanan yang sehat, bergizi, dan tepat. Masyarakat perlu diedukasi bahwa makanan yang sehat dan bergizi bukan makanan yang mahal. Sehingga masyarakat perlu mengetahui makanan apa saja yang bergizi dan terjangkau.

Memang, investasi gizi untuk penanganan Stunting dan Obesitas ini harus dipandang sebagai bagian investasi untuk menanggulangi kemiskinan melalui peningkatan pendidikan dan kesehatan. Perbaikan gizi pada kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan akan menunjang proses tumbuh kembang janin, bayi dan anak sampai usia 2 tahun, sehingga siap dengan baik memasuki dunia pendidikan. Selanjutnya perbaikan gizi tidak saja meningkatkan pendapatan keluarga tetapi juga pendapatan nasional. Selamat Hari Gizi Nasional. Gizi Seimbang, Keluarga Sehat, Negara Kuat.

———– *** ————

Tags: