Aktivis Lingkungan Jatim Geruduk Perum Perhutani

3-perhutaniPemprov Jatim, Bhirawa
Menyusutnya mata air yang berada di kawasan hutan lingkungan di beberapa wilayah Jatim, seperti Jombang, Lumajang, Tulungagung, Trenggalek, Malang, Mojokerto, dan Blitar, menjadi keprihatianan tersendiri khusunya masyarakat pecinta lingkungan.
Mengingatkan kondisi ini  puluhan massa aktivis lingkungan hidup melakukan aksi unjukrasa di depan kantor Perum Perhutani Unit II Jatim, Jalan Genteng Kali Surabaya, Selasa (8/9).
Para aktivis lingkungan menuding Perum Perhutani gagal mengelola hutan lindung di Jatim. Indikasinya, terus berkurangnya jumlah sumber mata air khususnya di wilayah daerah aliran sungai.
“Empat tahun lalu, di kawasan hutan lindung Jatim termasuk daerah aliran sungai seluas 344.742 hektare, terdapat lebih dari 1.597 mata air, sekarang sekitar separuh dari jumlah itu sudah hilang,” kata juru bicara Aliansi Masyarakat Pelindung Hutan dan Pelestari Mata Air Jatim, Prigi Arisandi, Selasa (8/9).
Dalam aksi tersebut, mereka mendesak Perhutani segera melakukan pemetaan dan perlindungan mata air di radius 200 meter dalam hutan lindung dari aktivitas alih fungsi hutan untuk perkebunan masyarakat
Tidak hanya itu, mereka juga menggencarkan penyuluhan dan rehabilitasi hutan lindung, serta pembinaan terhadap aparat Perhutani yang kerap melakukan permainan kotor dalam penebangan pohon di hutan lindung.
“Keberadaaan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) yang menjadi mitra Perhutani belum bisa dijadikan jaminan pengelolaan hutan sudah lestari. Namun keberadaan mereka di beberapa wilayah dicurigai sebagai alat kongkalikong matri/mandor dan beking untuk menebang kayu dan alih fungsi hutan,” katanya.
Di sisi lain, berdasarkan data Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Brantas, lahan kritis mencapai 231.290 hektare, luasan lahan kritis itu terancam terus meluas.  “Jika lahan kritis terus meluas, akan rentan terjadi bencana banjir dan tanah longsor,” katanya.
Perhutani ditudingnya lebih fokus pada kegiatan produksi hutan yang tidak dapat diandalkan sebagai penyangga dan penyimpan air. Padahal wilayah hutan lindung sangat strategis untuk dilindungi dan dipertahankan fungsi ekologisnya sebagai daerah tangkapan dan resapan air.
“Jelas kami melangsungkan tuntutan  kawasan hutan yang sebagian luasannya yang rusak harus segera direhabilitasi agar fungsinya kembali seperti sediakala, yaitu sebagai penyangga kehidupan (tata air, pencegah banjir, pengendalian erosi, dan intrusi air laut, hingga pemelihara kesuburan tanah, red)” katanya.  [rac]

Tags: