Akur TNI-Polri Papua

Teror kekejaman KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) Papua, semakin terang-terangan dilakukan. Termasuk menembak mati perwira TNI, tak terkecuali Perwira Tinggi. Juga menyerang petugas kesehatan. Padahal di seluruh dunia, petugas medis tidak boleh diserang. Ironisnya, aparat di Papua, masih terjadi “ke-salah paham-an” antara prajurit TNI dengan Polri. Saling baku hantam. Berakibat merusak infrastruktur (gedung) pemerintahan. Sekaligus meresahkan masyarakat.

Di berbagai daerah sudah sering terjadi, personel TNI dan Polri (usia muda di bawah 30 tahun) terlibat bentrok. Tidak boleh dianggap sepele, karena kedua korps masing-masing dilengkapi persenjataan. Terbukti, sudah sering pula adu tembak, niscaya sangat membahayakan. Suara kegaduhan “perang” menimbulkan kekhawatiran masyarakat, yang sekaligus berinisiatif menjadi penengah. Namun jiwa bisa terancam setiap saat, terkena muntahan peluru.

Bentrok TNI dan Polri usia muda, misalnya, terjadi di Jeneponto (Sulawesi Selatan), masih dalam suasana mudik lebaran tahun lalu. Kesalahpahaman di Jeneponto diawali adu mulut dua oknum TNI dengan serombongan personel Polres Jeneponto (sekitar 8-10 orang). Sampai terdengar letusan senjata. Ironis, esoknya, terjadi penyerangan pada Mapolres Jeneponto. Penyerangan ini juga terekam kamera dan beredar di media sosial (medsos). Namun tidak bisa disimpulkan, penyerangan Mapolres Jeneponto dilakukan oknum anggota TNI.

Hampir bersamaan, bentrok TNI dengan Polri, juga terjadi di stadion Oepoi, Kupang, NTT. Dalam pertandingan (final) futsal, terjadi kesalahpahaman antara anggota Polri (yang bertanding melawan tim Dinas Pendidikan), dengan tim pengamanan (POM TNI). Tidak cukup selesai di lapangan, melainkan berbuntut pembakaran kendaraan Polri. Juga perusakan pos Polisi Pengamanan Idul Fitri. Bentrok diselesaikan diantara pimpinan TNI dan Polri daerah Kupang. Serta disetujui tujuh kesepakatan.

Diantara kesepakatan setelah bentrok, adalah, perbaikan kembali secara bersama-sama pos yang rusak. Selanjutnya pos Pengamanan Idul Fitri, dijaga bersama TNI dengan Polri. Serta melaksanakan patrol gabungan TNI – Polri, menjaga kondusifitas. Namun kasus yang terindikasi pelanggaran hukum akan tetap dilanjutkan oleh masing-masing korps. Dilakukan oleh POM TNI, dan Propam Polri.

Bentrok TNI dengan Polri, wajib tidak boleh terjadi di seluruh Indonesia. Terutama pada kawasan rawan konflik, di seantero Papua. Karena kekejaman teroris KKB, bisa melakukan serangan pada personel TNI, dan Polri. Juga menyasar rakyat sipil. Jika personel TNI dengan Polri, masih berkelahi, maka mustahil bisa menjadi pelindung keamanan rakyat. Ironisnya, baku hantam TNI dengan Polri, masih terjadi di kantor Pelabuhan (Pelindo IV) Sorong, Papua Barat.

Sehingga bisa dianalisis, akar masalah bentrok, bukan dari perbedaan tingkat kesejahteraan. Juga bukan karena kewenangan tupoksi sebagai pengemban unsur keamanan dan ketertiban. Keduanya memiliki “medan” masing-masing sesuai amanat UUD pasal 30 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4). Diperlukan pembinaan mental lebih intensif kalangan aparat muda bersenjata. Banyak yang tidak siap menjadi gagah perkasa dan berhak membawa senjata pula. Pada sebagian personel mengarah pada kesombongan.

KKB baru saja menembak mati Danramil 1703-04/Aradide, Letda Inf. Oktovianus Sogarlay. Bahkan persis 3 tahun sebelumnya (April 2021) telah menembak mati Kepala BIN daerah, Brigjen Putu Danny. KKB menyerang petugas medis, di kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Perawat yang terjebak disiksa, diperkosa, dibunuh dan dilemparkan ke jurang.

Ke-keji-an luar biasa KKB, wajib segera ditangani dengan operasi gabungan Kepolisian dan TNI secara militer. Negara membutuhkan kebersatuan TNI dengan Polri, yang sangat kokoh di Papua. aparat keamanan perlu mempertimbangkan penyergapan lebih “nendang,” sesuai amanat UU Pemverantasan Tindak Pidana Terorisme.

——– 000 ———

Rate this article!
Akur TNI-Polri Papua,5 / 5 ( 1votes )
Tags: