Amukan Pasukan Bening

Oleh :
Mega Anindyawati

Pasukan air hujan bertambah gemuruh langkahnya saat menjejaki tanah. Mereka berlompatan dengan cepat, berlomba untuk turun ke bumi. Hujan kemarin yang masih menyisakan becek ditambah hujan sore ini yang turun dengan lebat membuat genangan air di jalanan semakin tinggi. Kali ini, ban mobil sudah tak kelihatan lagi karena sepenuhnya tertutup air. Sepeda motor tak berani melintas.
Kawan kami yang masuk ke dalam rumah membuat ulah. Mereka membuat kolam setinggi lutut orang dewasa. Batu bata penyangga jembatan yang sudah rapuh pun jebol. Aku dan istriku meluber keluar. Kelibatan peristiwa menyakitkan yang kami alami saat di gunung dan di pantai bergantian laksana kepingan foto hitam putih yang muncul dalam gerakan lambat. Tumpang tindih dengan frame warga sekitar yang hobi melempar kotoran ke atas tubuh kami.
***
Suara seorang wanita yang terdengar melalui microphone memecah siang. Aku dan istriku gelagapan. Tidur siang kami pun buyar. Ketenangan siang di bawah terik mentari yang menyengat berubah menjadi riuh suara emak-emak. Sayup-sayup kudengar wanita bernama Merry itu melakukan penyuluhan mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan cara membuang sampah pada tempatnya.
“Jadi, sebaiknya kita membuang sampah dimana, Bu?” tanya Jeng Merry layaknya guru TK yang sedang memberi tebak-tebakan pada muridnya.
“Tempat sampah,” seru ibu-ibu kompak.
Jawaban emak-emak yang hobi mengurut rambut untuk petan itu hanya diucapkan di mulut saja. Sehari dua hari selepas sosialisasi, para warga sekitar masih rajin menabung sampah dalam kantong-kantong kresek di tempat sampah rumahnya. Beberapa hari kemudian, sebagian orang mulai nakal.
Seorang gadis cilik melemparkan sekantong sampah bekas popok bayi sekali pakai yang kemudian mengambang di atasku. Bau ompol dan pup bayi menguar ke udara. Aku menutup hidung. Namun, tak ayal bau itu menyeruak membuat sesak nafas. Huh, aku benar-benar kesal setengah mati!
Seminggu berlalu. Jumlah penduduk yang seenaknya melempar kantong kotor sisa rumah tangga ke atas tubuh kami semakin bertambah. Istriku malah ditimpuk seorang emak gendut yang dagunya bergelambir dengan sekantong kresek hitam limbah sisa makanan. Ugh, baunya lebih busuk dari sampah popok bayi. Ada nasi basi, potongan tulang ayam, dan kulit buah pisang yang menyembul keluar. Makhluk-makhluk kecil yang menggeliat muncul dari sela-sela kantong kresek. Istriku bergidik dan berjingkat dibuatnya. Ia mengibaskan tangannya yang dihinggapi ulat.
Ada sejuta alasan yang kudengar saat mereka bertemu dan mengobrol sejenak ketika mereka sedang membuang sampah di sungai. Mengutarakan alasan-alasan kenapa mereka melakukan kembali kebiasaan buruk mereka. Melupakan wejangan si Jeng Cantik. Lalu, orang-orang itu kembali tertawa kecil sambil mengibaskan tangan seolah hal tersebut bukan masalah serius.
Pergerakanku dan istriku yang tak lancar membuat kami cuma bisa pasrah dengan keadaan. Hujan tak juga turun meskipun bulan penghujan sudah lewat lima belas hari. Biasanya kawan kami, hujan, yang akan memandikan tubuh kami yang kotor. Sungguh kami ingin minggat dari neraka busuk ini. Yang bisa kami lakukan hanyalah berharap murka alam yang menangis kencang.
***
Aku ingat betul bagaimana aku bisa terdampar di tempat yang memuakkan ini. Rumahku sebelumnya begitu sejuk dan asri. Aroma alam tercium setiap pagi. Embun mengayun manja di lengan dedauan yang gemulai. Pepohonan rimbun. Suara cericit burung menjadi melodi merdu yang khas. Kesejukan memeluk diriku. Aku bahagia tinggal di rumah lamaku. Berbagai spesies pohon berlomba tumbuh subur di sana. Apa pun yang kau ingin makan tersedia dan tinggal petik saja.
Akan tetapi, semenjak tangan-tangan jahil raksasa itu menjamahnya, tempat tinggalku tak lagi seasri dulu. Barisan hijau pepohonan berubah menjadi ladang tandus nan gersang. Tangan-tangan nakal itu pulalah yang membuatku harus berjibaku dengan kesulitan. Setiap kali melewati sungai kecil yang dulunya berair jernih, aku harus menyingkirkan beragam sampah plastik bekas snack kemasan, mi instan, kopi, sampai kantong kresek.
Aku lega jika pada akhirnya aku bisa berkelana. Menari bersama angin. Berkawan awan. Diterbangkan dalam buai lembutnya. Namun ternyata kelegaanku tak berlangsung lama. Aku tak tahu jika pada akhirnya akan terdampar di tempat yang lebih busuk dari dosa pezina.
Satu-satunya hal yang membuatku bertahan tinggal di tempat ini adalah istriku. Aku bertemu dengannya saat kami sedang menari bersama awan. Awan yang kutunggangi tak sengaja bertabrakan dengan awan yang ditumpanginya. Kami pun jatuh cinta pada pandangan pertama dan memutuskan untuk menikah. Sayangnya, kendaraan ringan serupa kapas itu tak sanggup menanggung berat kami. Kami pun tergelincir dan jatuh terperosok. Lalu, sebuah lubang panjang dengan lebar sekitar empat meterlah yang menampung kami hingga menjadi tempat berteduh sampai sekarang. Tempat itu akhirnya menjadi rumah baru kami.
Istriku mempunyai raut muka bening. Tatapannya teduh. Aromanya selalu segar. Ia kerap berkisah tentang kehidupannya di laut. Tidak seperti aku yang anak gunung, kehidupan anak pantai jauh lebih mengenaskan. Limbah sampah plastik kerap menjamur di atas pasir-pasir pantai. Air laut tercemar oleh sampah-sampah yang tersapu ombak. Kawan lautnya banyak yang mati. Ikan-ikan kecil seringkali tak sengaja menelan plastik bersama makanan mereka. Seekor penyu kecil bahkan pernah menemui istriku dalam keadaan menangis. Ia kesakitan sebab hidungnya tertusuk sedotan plastik.
***
Minggu pagi yang cerah ini kembali disulap meriah dengan kedatangan sebuah kendaraan mewah roda empat bernopol ibu kota. Seorang wanita cantik berkacamata hitam melangkah keluar dengan anggun setelah sang sopir pribadi membukakan pintu untuknya. Wanita muda bergincu merah darah itu tersenyum memamerkan sederetan gigi putih rapi yang dipagar dengan kawat gigi.
Emak-emak langsung berdesakan menyeruak ke arah artis dadakan yang beberapa kali ini sering berkunjung ke perkampungan kumuh padat penduduk dekat bantaran sungai. Mereka berebut bersalaman. Menurut kabar yang kudengar dari benda kotak yang menayangkan gambar bergerak di balai pertemuan itu, Jeng Merry sedang mencalonkan diri untuk menjadi orang penting. Mungkin kunjungannya ke kampung ini menjadi salah satu sarana mewujudkan misinya.
Jeng Merry tinggal di perumahan seberang. Satu-satunya rumah berlantai tiga paling mewah di sana. Atap rumahnya masih bisa kulihat saat tengah berjalan-jalan santai menyusuri sungai bersama istriku.
Dalam kunjungan terakhirnya, Jeng Merry menyosialisasikan mengenai pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Kali ini, ia berpanjang lebar mengenai cara memilah sampah. Emak-emak, yang kini menanggalkan daster dan memakai satu-satunya pakaian terbaik yang biasa mereka gunakan untuk kondangan, melongo saat menyimak penjelasan wanita berusia 30 tahunan itu.
Ada empat bak sampah sedang yang diberi label sesuai jenis sampah. Kali ini emak-emak itu tampak seperti anak SD yang sedang diberi tugas memilah sampah oleh guru IPA-nya. Mereka mengantri untuk bergantian memasukkan sampah yang ada di sekitar ke dalam bak-bak plastik.
Istriku melengos melihat pemandangan di hadapannya. Ia bilang beberapa hari kemudian antusiasme ibu-ibu itu pasti akan menguap secepat kilat.
“Aku berani bertaruh,” katanya dengan nada nyiyir. “Mereka pasti lebih sibuk memilah gosip terbaru mana yang akan diceritakan dibanding ribet dengan pemilahan sampah.”
“Menurutku, Jeng Merry juga hanya mengatakan omong kosong.” Aku meludah karena muak. “Ia tak akan punya waktu untuk melakukan pemilahan sampah. Apa saat berbelanja di bangunan bertingkat yang tinggi itu dia juga membawa tas belanja sendiri? Kurasa tidak.”
“Kau benar. Banyak orang bermobil yang berkunjung ke pantai yang juga tak begitu peduli. Mereka memakai kantong plastik untuk membungkus makanan, memakan makanan sachet dan minum dari botol plastik lalu membuang sampah-sampah itu sembarangan.” Istriku mulai mengomel panjang lebar.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang seraya menatap langit yang mulai kelabu.
***
Istriku benar. Belum genap seminggu para penduduk dekat sungai tempat tinggal kami sudah kembali tak acuh pada pemilahan sampah. Mereka kembali mencampuradukkan semua sampah dalam satu kantong kresek. Perut kami kembali kembung menelan kebusukannya.
Antusiasme para warga tampak paling membuncah saat kunjungan sosialisasi ketiga Jeng Merry yang membahas mengenai daur ulang sampah. Hingga satu bulan lebih para warga masih setia membuat berbagai kerajinan dari sampah bekas kardus, sachet, gelas, atau botol plastik yang sudah dikumpulkan. Mungkin karena sampah-sampah itu bernilai jual dan menghasilkan pundi-pundi rupiah. Mereka girang bukan kepalang karena sosialiasi Jeng Merry memberikan keuntungan bagi mereka.
***
Rintik bening berjatuhan ke tanah layaknya serbuan peluru tentara. Kilatan petir dan suara guntur bergantian beraksi. Hembusan hawa dingin pun menyambut. Orang-orang menutup pintu rumah mereka rapat-rapat. Warung makan di pojok jalan masih setia berdiri, berteman hujan yang semakin mengganas. Deru mesin kendaraan bermotor yang melewati jembatan beradu dengan rintik hujan yang bertambah lebat. Berkali roda-roda kendaraan itu memuncratkan genangan air keruh ke sekelilingnya.
Ketika langit memuntahkan isinya seperti saat ini, warga di dalam rumah semi permanen itu dengan tenang berselimut. Merajut kembali mimpi yang kemarin sempat terputus. Esok harinya mereka akan beraktivitas seperti biasa. Ada yang berdagang, bekerja serabutan, memulung, bahkan mengamen di perumahan milik orang-orang kaya beberapa puluh meter dari sini.
Sayangnya, malam itu tak seperti biasanya. Ada sesuatu yang membuat mereka harus tetap sibuk. Genangan air setinggi mata kaki memaksa para penduduk sekitar untuk menguras rumah mereka. Seluruh anggota keluarga bergotong royong menumpahkan ember berisi air kotor dan menyiramkannya ke tubuh kami. Malam itu, aku dan istriku mendadak bertambah tinggi. Tinggi kami sudah hampir mencapai bibir sungai dan menyentuh bagian bawah jembatan.
Setiap musim hujan selalu menjadi perayaan bagi kami. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya hujan turun hampir setiap hari dengan intensitas sedang. Harapan kami untuk bisa keluar dari tempat kumuh ini mungkin sebentar lagi akan terwujud. Berhari-hari kami berdoa agar curah hujan tinggi sehingga kami bisa terbebas dari sini. Doa kami pun terjawab di suatu sore.
Demi mendapat kesempatan emas, amukan istriku pecah. Ia mengutuk orang-orang yang membuatnya penyakitan. Ia berlari kencang menerobos kawan-kawan kami yang menyerbu turun ke bumi. Mulutnya menyeringai. Melahap apa pun yang dilaluinya. Termasuk seorang bayi yang tengah tertidur lelap di atas kasur yang diletakkan di lantai. Derap langkah seseorang terburu-buru panik menghampiri. Wanita cantik bergincu merah darah meraung mendapati tangis yang terkasih semakin melemah. Tumpukan flyer bertuliskan cara pemilahan dan daur ulang sampah jatuh dalam genangan saat ia tak sengaja menyenggolnya. []

Tentang Penulis : Mega Anindyawati, lulusan Sastra Inggris Unair yang berdomisili di Sidoarjo. Beberapa artikelnya pernah dimuat di Jawa Pos, suaramuslim.net, harakatuna.com, dan kisahmenarik.com. Buku-bukunya yang telah terbit yaitu Sabar Menanti Buah Hati (Pro-U Media, 2019) dan puluhan buku antologi. Tulisannya dapat dibaca di blog www.meganindya.blogspot.com. Penulis dapat dihubungi via facebook Mega Anindyawati dan IG @mega.anindyawati.

———– *** ————

Rate this article!
Amukan Pasukan Bening,5 / 5 ( 2votes )
Tags: