Andri Arianto: Fenomena Mahfud Arifin Belum Final

Andri Arianto

Surabaya,Bhirawa
Kemunculan Mahfud Arifin yang mengklaim telah membawa mandat sejumlah partai untuk maju di Pilkada Surabaya non PDIP dinilai belum menggambarkan kepastian situasi politik di kota Surabaya.
Pengamat politik Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Andri Arianto menyebut Mahfud Arifin boleh jadi mengklaim membawa mandat sejumlah parpol, namun untuk menggambarkan posisinya di atas calon lain jauh.
Menurut Andri, masih ada banyak kemungkinan koalisi Parpol yang mungkin terjadi. “Masih ada banyak kemungkinan koalisi dan komposisi calon dalam pertarungan Pilwali nanti,” ujarnya ditemui Bhirawa, Jumat(24/1).
Namun yang pasti, lanjut alumnus FISIP Unair ini, dalam Pilwali figur atau ketokohan calon menjadi penting, bukan hanya partai. “Sehingga, , parpol-parpol masih sangat bisa membuat komposisi koalisi baru di luar yang diklaim oleh Mahfud Arifin. Sangat tergantung siapa tokoh yang dimunculkan dan disepakati,” ujarnya.
Menurut Andri, telah muncul analisis sejumlah pakar menyikapi kemunculan Mahfud Arifin sebagai bersatunya semua partai non PDIP untuk melawan partai pemenang empat periode kepemimpinan Surabaya tersebut.
“Jadi sangat aneh dengan posisi klaim seperti itu, ada pakar yang langsung menyebut PDIP bakal dikeroyok. Selain yang diklaim Mahfud ada partai lain yang belum mengambil keputusan, lihat Golkar, PKS, Demokrat, PPP, PSI, belum lagi dari jalur independen,” terangnya.
Andri memandang, narasi yang memandang bahwa ada upaya mengepung PDI Perjuangan , merupakan analisis dangkal yang hanya memandang menurunnya kursi sejumlah partai di Pileg 2019 dibandingkan perolehan PDIP yang kembali naik.
“Analisis itu sangat dangkal, argumennya hanya menurunnya kursi sejumlah partai di Pileg kemarin dan dihubungkan dengan kemenangan PDIP di setiap Pilkada Surabaya,” terangnya.
Maka, lanjutnya, lebih baik rakyat Surabaya saat ini perlu diingatkan membutuhkan tokoh atau figur wali kota yang bekerja melebihi Tri Rismaharini. “Ada banyak tantangan bagi Surabaya ke depan termasuk terkait Perpres 80/2019. Butuh wali kota bisa yang bekerja lebih baik lagi dari Risma,” terangnya.
Menurut Andri, tidak terlalu penting apa partainya, yang dibutuhkan pasca-Tri Rismaharini habis masa jabatan adalah Surabaya akan lebih maju.
“Bukan narasi keroyok. Kita tahu Bu Risma bekerja untuk Surabaya. Tidak melayani partai tertentu. Ini ke depan kita harus pikirkan dalam mengungkapkan sesuatu supaya tidak membuat publik gaduh,” kata dosen FISIP UINSA. (gat)

Tags: