Aneka Anggapan Ibadah di Tengah Pandemi Covid-19

Dr M Sholihin Fanani

Oleh:
Dr M Sholihin Fanani
Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Jatim

Sudah beberapa hari ini umat Islam di seluruh dunia sedang menjalankan ibadah puasa di tengah pandemi corona. Ini adalah kali pertama bagi umat Islam menjalankan ibadah dengan suasana yang amat berbeda, karena harus beribadah di tengah-tengah ancaman virus corona, stay at home, social distancing, physical distancing, pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Biasanya umat Islam berbondong-bondong ke masjid dan musala untuk melakukan ibadah dengan suka cita. Justru sekarang malah dilarang untuk mendatangi Masjid dan Musala. Bahkan orang-orang yang masih menjalankan ibadah di Masjid, mendapatkan sorotan dari masyarakat sebagai orang tidak taat kepada anjurkan pemerintah. Memang rasanya ada sesuatu yang hilang puasa dengan situasi seperti ini, komentar beberapa jama’ah Masjid disebelah rumah saya.
Bahkan ada seorang jamaah yang mengatakan, seharusnya di bulan puasa kita tetap beribadah di Masjid dan memperbanyak doa dan istigfar. Mohon kepada Allah, agar virus corona segera dicabut oleh Allah SWT dari muka bumi. “Kok malah dilaranh ke masjid”.
Ada yang lebih ekstrim lagi, mengatakan: “hidup dan mati itu urusan Allah”. Bahkan ada yang mengaitkan dengan politik: “Ini pasti ada pihak-pihak yang menunggangi dan memanfaatkan situasi dan mengingin masjid sepi dari ibadah selama bulan ramadan”.
Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana seharusnya kita beribadah puasa ramadan di tengah pandemi corona ini? Sehingga makna dan tujuan ramadan tetap terpelihara dengan sebaik-baiknya. Dan tidak mengurangi kebaikan-kebaikan di dalamnya.
Menurut Imam Al-Ghozali, sesungguhnya hakekat setiap ibadah yang kita lakukan (termasuk puasa) adalah untuk membersihkan jiwa manusia (Tazkiatun Nafs). Ibadah yang kita lakukan itu tidak semata-mata mencari pahala, tidak hanya ingin mendapatkan ampunan dari dosa-dosa yang pernahh kita lakukan.
Akan tetapi lebih daripada itu adalah bagaimana manusia itu menjaga kesucian jiwanya agar tidak koror dan ternoda. Orang yang jiwanya kotor, akan melakukan ibadah, tetapi dia tidak bisa menghentikan kebiasaan-kebiasaan jeleknya, yaitu berbuat maksiat. Ada yang menyebutnya STMJ (Salat Terus Maksiat Jalan).
Oleh karena itu dalam beribadah ada syarat syah yang harus dipenuhi bagi setiap muslim, yaitu suci dari najis baik tempat ibadah, badan dan pakaian. Termasuk suci dari hadas kecil maupun hadas besar. Karena Islam sangat menekankan tentang kesucian dan kebersihan. Terutama kebersihan jiwanya.
Menurut Imam Al-Ghozali, jiwa manusia itu setiap saat dan setiap waktu bisa kotor dan ternoda oleh perbuatan-perbuatannya yang melanggar aturan-aturan Allah. Oleh karena itu, selama ibadah puasa umat Islam diperintahkan untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah. Bahkan syetanpun dibelenggu oleh Allah, agar manusia bisa lebih maksimal menalankan inadah dan beramal shalih.
Menurut para ulama, ada beberapa perbuatan manusia yang dapat mengotori jiwanya adalah; syirik, tahayul, churafat, mencuri, berjudi, berzinah, minum-minuman khomer, membocorkan rahasia umat Islam kepada musuh dan lari dari peperangan. Bahkan para ulama’ mengatakan, jika perbuatan-perbuatan itu dilakukan oleh seseorang, maka rusaklah Iman dan agamanya.
Oleh karena itu di dalam bulan puasa ini umat Islam harus memperbanyak amalan-amalan baik yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Seperti melakukan Qiyamullail (Tarawih), membaca Alquran (Tadarus), memberi makanan orang yang sedang puasa (Takjil), memohon ampunan atas segala dosa yang telah dilakukan (istighfar), menerung dan memanjatkan doa (I’tikaf), memberikan sebagian rizki yang telah diperoleh (infaq atau shadaqah), mengeluarkan zakat maal dan fitrah.
Jika kita puasa dan tidak menghentikan dari perbuatan-perbuatan dosa, maka puasa kita tidak akan mendapatkan pahala. Hanya mendapatkan lapar dan haus semata. Oleh karena itu puasa ini harus dapat merubah karakter seseorang. Dari yang negatif menjadi positif. [*]

Tags: