Angka Golput Diprediksi Menurun

Bojonegoro, Bhirawa
Apakah perhelatan besar lima tahun sekali yang akan digelar pada 9 April 2014, akan lebih marak dibandingkan pemilu sebelumnya. Target Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bojonegoro, tingkat partisipasi dalam pemilu legislatif (pileg) 2014 optimis angka golput di Bojonegoro akan menurun. Salah satunya disebabkan adanya relawan demokrasi.
Hal itu diungkapkan oleh ketua KPUK Bojonegoro, Mundzar Fahman, Senin (7/4). Menurutnya tugas relawan demokrasi tersebut untuk mensosialisasikan dan menginformasikan pelaksanaan pileg. Selain itu, mereka menyisir semua elemen masyarakat, baik pemilih pemula maupun yang lainnya agar tidak golput. “Kalau sebelumnya tidak ada relawan demokrasi, sekarang ada relawan demokrasi,” jelasnya.
Selain relawan demokrasi, KPUK Bojonegoro juga mengaku sudah menginformasikannya ke mana-mana melalui media dan alat infomasi yang lainnya. “Termasuk dua minggu yang lalu, KPU meminta masjid-masjid untuk ikut menyiarkan jadwal pelaksanaan pileg,” terangnya.
Makin ramainya pemberitaan berkisar pada tingkah dan strategi masing-masing partai politik ternyata cukup menarik para pemilih untuk menggunakan hak pilihnya. “Ketertarikan untuk turut serta menjadi penentu nasib masa depan bangsa selain nasib sendiri diprediksi menguat,” imbuhnya.
Apalagi lanjut dosen STAI Sunan Giri Bojonegoro itu, jumlah caleg cukup banyak, yakni sekitar 522 caleg DPRD, 72 caleg Provinsi Jawa Timur dan sekitar 72 caleg RI dari seluruh partai peserta pemilu. Jika dalam pemilu-pemilu sebelumnya di Kabupaten Bojonegoro angka golput sekitar 30 persen.
Namun untuk tahun ini dipastikan menurun, meskipun dalam pelaksanaannya pemilih akan menerima empat kartu suara dari masing-masing tingkatan caleg. “Kalau tahun sebelumnya 30 persen, tetapi besok hanya sekitar 20 persen,” tandasnya.
Selanjutnya, Mundzar mengatakan kalau angka Golput meningkat, tidak serta merta itu kesalahan KPU. Pasalnya upaya KPU sudah semaksimal mungkin. Perlu diketahui pula, penyebab pemilih tersebut itu golput. “Kalau pemilih tidak tahu pelaksanaan pileg, KPU yang salah. Tetapi kalau faktor tidak datang ke TPS, karena mementingkan pekerjaan,” pungkasnya. [bas]

Rate this article!
Tags: