Anomali Cuaca Penyebab Turunnya Kuantitas Kopi PDP

Pekerja saat memanen kopi Arabika PDP Jember

Pekerja saat memanen kopi Arabika PDP Jember

Jember, Bhirawa
Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) merupakan salah satu perkebunan yang digarap dan dikelola oleh  Pemerintah Kab. Jember. Dengan mengandalkan  komoditi kopi, karet dan cengkah yang selama ini dikelolanya diharapkan mampu menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor perkebunan. Namun beberapa tahun terakhir, produksi kopi yang selama ini menjadi andalan, mengalami penurunan produksi.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produktifitas kopi PDP yang mengalami penurunan. Faktor utama adalah anomali iklim serta beberapa faktor lain yang menyebabkan target 1000  ton lebih pertahun tidak tercapai.
“Setiap tahunnya kita hanya mampu produksi 900 ton per tahun. Ini disebabkan oleh faktor cuaca yang sangat mempengaruhi produksi. Kalau persoalan cuaca, kami tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi itu, karena ini terjadi secara alami,” ujar Direktur Utama PDP Jember Ir. Sudjatmiko.
Kondisi cuaca yang semakin tidak menentu, membuat Sudjatmiko terus berinofatif mencari sumber pendapatan lain selain kopi sebagai komoditi utama. Salah satunya memanfaatkan lahan yang kosong dengan tanaman holtikultura lainnya seperti kayu sengon dan sebagainya.
“Ini salah satu alternatif bagi kami, untuk menopang biaya produksi yang tinggi. Jadi pengembangan dari sektor hulu ke hilir sehingga tidak ada dikotomi ini tanaman pokok dan ini tidak, semuanya dirawat yang pemtung menghasilkan,” teranya pula.
Perusahaan yang membawahi kebun Sumberwadung, Kebun Gunung Pasang dan Kebun Sumberpandan juga melakukan pembibitan sendiri. Selain untuk memenuhi kebutuhan lahannya, perusahaan ini juga melayani permintaan bibit dari luar.
“Bukan hanya untuk kebutuhan kami saja, tapi kami juga melayani kebutuhan bibit dari perkebunan lain,” kata mantan Anggota DPRD Jember kemarin.
Kalau berbicara kopi,  Sudjatmiko atau lebih dikenal dengan Mas Jat,  mengaku bahwa kopi yang dihasilkan oleh perusahaannya memiliki citra rasa yang luar biasa. Dari hasil produksi kopi di tiga kebun garapannya, kopi gunung pasang memiliki citra rasa yang berbeda bila dibanding dua kebun lainnya.” Kami sudah melakukan penelitian citra rasa kopi ditiga kebun tersebut. Kopi Gunung Pasang memiliki aroma dan rasa yang sangat luar biasa. Kopi Gunung Pasang ini memiliki citra rasa coklat dan banyak diminati oleh negera-negara pecandu kopi. Kenapa demikian, karena kopi Arabika Gunung Pasang ini ditanam  diatas ketinggian rata-rata dan kematangan biji kopinya merata,” katanya. Namun Mas Jat  mengakui, meskipun Kopi Gunung Pasang memiliki trade make sendiri, belum bisa memenuhi kebutuhan. Disamping produksinya menurun, harganya ditentukan oleh harga internasional.
Oleh karena itu, Sudjatmiko mengaku terus melakukan inofasi bagaimana kopi PDP ini memiliki harga jual tinggi pasca produski.
“Dari hasil pengamatan saya, butiran biji kopi harganya lebih rendah bila dibandingkan dengan biji kopi olahan menjadi bubuk. Makanya kami juga mencoba mengemas biji kopi mentah menjadi biji kopi olahan. Namun karena kapasitas mesin yang kami miliki terbatas, sehingga tidak mampu memenuhi permintaan yang begitu besar,” ungkapnya pula. Selain itu, Mas Jat  juga  mulai merencanakan perkebunan miliknya juga  akan dijadikan tempat  studi wisata atau obyek wisata baru. Dengan menonjolkan keindahan alam yang alami dan nuansa lingkungan yang alami pula.
“Mereka  bisa petik biji kopi sendiri dan bisa melihat dan merasakan suasana masyarakat disekitar kebun. Kami akan membahas rencana ini dengan kantor pariwisata untuk membahas persoalan ini,” terangnya pula.  [efi/hms pemkab Jember]

Tags: