Antusiasme Mahasiswa Asing Belajar Hias dan Menggunakan Bakiak

Para mahasiswa yang tergabung dalam Dharmasiswa saat menghias bakiak yang mereka buat sebelumnya.

UK Petra Kenalkan Budaya Indonesia Kepada Lima Mahasiswa Dharmasiswa
Surabaya, Bhirawa
Pengalaman baru dirasakan lima mahasiswa asing yang kuliah di Universitas Kristen (UK) Petra. Pasalnya, dalam program beasiswa Dharmasiswa, selain belajar Bahasa Indonesia mereka juga dikenalkan Budaya Indonesia. Salah satunya yakni Bakiak.
Untuk pertama kalinya, lima mahasiswa yang berasal dari Timor Leste, Rusia, Kanada, Amerika dan Pakistan ini sangat antusias dalam menggunakan bakiak. Mereka pun mencoba membuat langsung bakiak, serta mewarnai bakiak sesuai dengan warna bendera negara asalnya.
Salah satu mahasiswa dari Pakistan, Anns menceritakan pengalaman pertamanya mengenakan bakiak. Anns menuturkan, ini pengalaman pertama yang menyenangkan. Lantaran, sebelumnya tak pernah dijumpai di negara asalnya. Apalagi dibutuhkan kerja sama untuk bisa berjalan bersamaan untuk memainkan bakiak.
“Sedikit kesulitan sih memang saat memainkan bakiak secara bersama – sama. Tapi karena diperlukan koordinasi dan kerja sama yang baik agar bisa berjalan ini sangat menyenangkan,” katanya.
Sementara itu, Dosen Indonesia Craft in Practice Desain Interior UK Petra, Andereas Pandu Setiawan mengungkapkan, dipilihnya bakiak dalam pengenalan tentang Indonesia mempunyai filosofi yang mendalam dalam permainan tradisional Indonesia. Apalagi bakiak juga mempunya sejarah di daerah Jawa sebelum mengenakan sandal.
“Ketika ini diangkat menjadi ragam budaya untuk pengenalan Indonesia menjadi suatu hal yang menantang. Di negara mereka pun tidak dijumpai. Dulu sempat kami ajarkan enggrang mereka sangat antusias. Karena di negaranya tidak ada,” ujarnya.
Ke depan, selain memperkenalkan bakiak, pihaknya juga akan mengajarkan pembuatan wayang kertas kepada kelima mahasiswa asing. Di samping itu, sebelumnya, para mahasiswa asing juga telah belajar banyak hal. Diantaranya, praktikum membuat benda seni rupa sebagai tikar dan tangga bambu. Membuat dakon, egrang, patil lele, patung, batik, relief dan topeng.
“Mereka juga kami ajarkan membuat fashion baju adat dan senjata tradisional dalam mata kuliat Indonesian Craft in Practice,” katanya.
Lebih lanjut, proses belajar mereka sendiri memadukan proses belajar dengan praktikum secara langsung fungsi benda yang dibuat. Misalnya saat membuat bakiak. Selain itu, lokasi praktikum pun sering dilakukan di kampung yang bisa berbaur dengan masyarakat agar terjalin komunikasi anatara masyarakat Indonesia dengan mahasiswa asing.
“Kami berharap melalui kegiatan ini mahasiswa asing mampu mempresentasikan kekayaan tradisional khas Indonesia yang tak dijumpai di tempat lain. Sehingga bisa lebih mengenal keseharian bangsa Indonesia,” pungkas.[ina]

Tags: