Atasi Banjir, Berharmonilah dengan Alam

Oleh:
Arif Lukman Hakim
Esais, Kepala Bagian Media dan Dokumentasi Biro Humas dan Protokol Pemprov Jawa Timur
Banjir akibat curah hujan ekstrem yang melanda kawasan Jabodetabek menjadi alarm bagi daerah lain. Sebab, berdasar prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sejumlah daerah, termasuk Jawa Timur akan mengalami curah hujan tinggi bulan ini.
Hingga saat ini banjir masih menjadi salah satu bencana alam dengan dampak kerugian yang tidak sedikit. Dahulu daerah rawan bajir umumnya terletak di daerah pesisir. Namun potensi banjir saat ini tidak hanya berada di daerah dataran rendah, tapi juga di daerah dataran tinggi yang berupa banjir bandang. Sebenarnya, banjir merupakan bencana alam tahunan. Hanya saja ketidaksiapan mengantisipasi terhadap datangnya bencana ini semakin memperparah tingkat bencana dan kerusakan yang ditimbulkan dari tahun ke tahun.
Tingginya laju deforestasi dianggap sebagai penyebab utama terjadinya banjir dan juga tanah longsor. Dalam kurun 2005-2015, Indonesia kehilangan 7 persen hutan (atau total 1,4 juta hektare). Jika dibandingkan secara internasional, Indonesia menempati peringkat dua negara dengan laju deforestasi terpesat setelah Brazil.
Persoalan banjir memang sangat kompleks, tidak saja dari aspek fisik dan teknis, aspek sosialnya bahkan jauh lebih rumit. Pembangunan infrastruktur pengendali banjir seringkali gagal karena penduduk lokalnya enggan direlokasi. Mereka beralasan kawasan itu sudah menjadi habitat yang sudah mereka tempati turun temurun. Meski dianggap kurang layak, namun bagi mereka tinggal di lingkungan semacam itu bukanlah masalah.
Karena itu, mengedepankan aspek sosial dalam penanganan banjir bisa menjadi salah satu pilihan yang paling mungkin dilakukan. Salah satunya adalah konsep “living harmony with flood” atau hidup berhamoni dengan banjir. Pada konsep ini, penduduk di kawasan banjir diajak menyesuaikan diri dengan kondisi seperti itu dalam kehidupan kesehariannya.
Di masa lalu, rumah panggung di kawasan rawan banjir sudah menjadi hunian tradisi. Desain rumah panggungpun sudah menyesuaikan dengan tingkat risiko yang mungkin dihadapi. Misalnya ada rumah panggung dengan tinggi lantai 20 hingga 50 cm dari muka air. Ada juga yang berketinggian 51 – 150 cm, bahkan 151 hingga 2,5 meter.
Kearifan Lokal
Menangani banjir dengan pola kembali ke alam belumlah terlambat. Hal itu menjadi sebuah keniscayaan. Menyesuaikan diri dengan alam mengandung kearifan lokal yang merupakan fitrah kehidupan. Kearifan lokal diyakini mampu memelihara alam dari berbagai gangguan akibat keserakahan manusia.
Alam dihibahkan kepada manusia agar dimanfaatkan. Hujan adalah rahmat, sedangkan banjir adalah risiko. Pengelolaan yang keliru terhadap air hujan tak lagi menempatkan hujan sebagai rahmatan lil alamin, namun sebaliknya malah menjadi mudharatan lil alamin seperti banjir.
Dalam Alqur’an Surat Al Qaaf ayat 9 tertulis, “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” Jadi menurut sunnatullahnya, air hujan yang jatuh di permukaan bumi ini harus sebanyak-banyaknya masuk ke dalam tanah (bumi), kemudian menghidupkan bumi (menyuburkan tanah), dan dari situ akan tumbuh aneka buah-buahan hasil pertanian untuk manusia.
Melalui berbagai cara, air hujan memasuki tanah melalui infiltrasi dan perkolasi, diantaranya dengan bantuan pepohonan. Tajuk pohon membantu intersepsi air, sedangkan akar pohon membantu infiltrasi dan perkolasi. Akibatnya limpasan permukaan air hujan di permukaan tanah (run off) menjadi minimal.
Ulah manusia dalam memanfaatkan hutan mengakibatkan populasi pohon semakin menipis sehingga hutan menjadi gundul. Permukaan tanah menjadi tidak terlindungi dari air hujan. Akibatnya hanya sedikit sekali air hujan yang dapat memasuki tanah dan sebagian besar mengalir di permukaan tanah, menghanyutkan apa saja yang ada di permukaan tanah. Terjadilah erosi, pengikisan tanah dan akhirnya terjadilah tanah longsor dan banjir.
Erosi ini membuat efektifitas penanganan banjir melalui waduk penampung air menjadi sia-sia. Ini karena daya tampung waduk terus berkurang akibat tingginya laju sedimentasi. Sementara di daerah bawah (hilir), bencana banjir biasanya terjadi akibat kiriman dari daerah atas (hulu), karena air hujan yang jatuh tidak dapat masuk ke dalam tanah serta saluran drainase air hujan semakin kecil. Mengecilnya drainase ini karena tersumbat sampah atau karena beralih fungsi menjadi kawasan hunian.
Karena itu, mengembalikan alam kepada sunnatullahnya akan membuat keseimbangan alam kembali terjaga. Manusia harus bersikap untuk segera kembali berharmoni dengan alam. Langkah ini harus ditempuh agar manusia bisa menjaga alam dan alam bisa membalas kearifan manusia dengan memberikan segala isi dan kandungannya yang bermanfaat bagi manusia.
Sejatinya, masyarakat kita secara tradisional telah melakukan banyak hal tentang kearifan lokal ini. Di antaranya dengan mencipta berbagai mitos yang mengerikan sehingga warga takut melanggarnya. Contoh saja, di seputar sumur atau mata air selalu ditumbuhi pohon beringin, dan para tetua adat biasa mengeramatkan pohon beringin tersebut. Akibatnya mata air selalu terjaga karena pohon besar itu berfungsi sebagai pelindung.
Ada juga mitos yang melarang warga membawa beberapa jenis kayu tertentu walau itu sebesar jari telunjuk, juga dilarang menyusun kayu dalam keadaan basah. Bila dicermati, kedua mitos tersebut banyak manfaatnya. Sebagian besar jenis kayu yang masuk dalam larangan berada di hutan dekat desa. Dengan demikian pantangan ini menyelamatkan hutan sehingga terhindar dari tanah longsor. Pantangan kedua, menahan penduduk untuk menebang pohon (atau bagian-bagiannya) yang masih hidup. Dengan demikian mengharuskan penduduk hanya untuk mencari kayu yang benar-benar kering sehingga memaksa penduduk untuk tidak menebang pohon.
Masyarakat perlu digiring untuk kembali memahami mitos-mitos lama yang bertujuan untuk memaknai alam dan menghormati penciptanya. Memaknai alam dan musibah sebagai sunnatullah harus dipandang sebagai solusi hakiki. Sinergi alam dengan manusia secara positif akan tercipta karena peran ekosistem sesungguhnya adalah melindungi manusia.
————- *** ————-

Tags: